JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Puluhan negara yang berada di dunia ini memungkinkan adanya berbagai macam budaya dan tradisi. Mulai dari yang tampak normal hingga yang unik, bahkan terlihat tidak masuk akal.
Salah satu tradisi yang kerap kali membuat banyak orang merasa heran dan penasaran datang dari Spanyol, tempat di mana La Tomatina diadakan setiap tahunnya.
La Tomatina sendiri merupakan sebuah festival atau pesta unik yang setiap tahun diadakan di Bunol, Spanyol, yang mampu mengubah jalanan kota kecil menjadi lautan merah.
Berdasarkan versi yang paling umum diceritakan, festival ini berakar dari sebuah peristiwa spontan pada akhir abad ke-20.
Di mana pada tahun 1945 saat perayaan lokal di Bunol, sekelompok pemuda terlibat cekcok kecil lalu mulai saling melempar tomat dari sebuah kedai sayur.
Alih-alih semakin memancing keributan, peristiwa saling melempar itu justru mendatangkan kegembiraan yang membuat kegiatan ini terus-menerus diulang setiap tahunnya hingga menjadi festival tahunan.
Cerita mengenai peristiwa ini kemudian tersebar secara masif melalui media dan tumbuh dari acara lokal menjadi fenomena yang dikenal hingga kancah internasional.
Tomat yang dipakai dalam acara ini juga merupakan tomat yang sudah sangat matang dan mudah remuk sehingga membantu mengurangi resiko cedera ketika dilemparkan ke peserta lain.
Festival La Tomatina selalu berlangsung di salah satu kota kecil Spanyol yang bernama Bunol yang cukup dekat dengan Valencia.
Baca Juga: Jika Tak Salah Sasaran, Begini Dampak Bansos terhadap Kehidupan Masyarakat Miskin
Waktu resmi acaranya adalah hari Rabu terakhir di bulan Agustus yang ditujukan sebagai bagian puncak dari rangkaian perayaan kota.
Sesi utama melempar tomat umumnya hanya berlangsung selama kurang lebih satu jam dan diakhiri dengan tembakan meriam sebagai penanda berakhirnya sesi utama.
Di pagi hari pada Rabu terakhir bulan Agustus saat festival La Tomatina dilaksanakan, jalanan utama Bunol telah dipenuhi oleh banyak orang.
Namun, sebelum sesi utama dilaksanakan, acara ini akan didahului oleh tradisi yang bernama palo jabon. Sebuah permainan di mana orang yang ikut bermain harus memanjat tiang yang telah dilumuri dengan sabun dan ham atau jamon sebagai hiburan pra-acara.
Setelah itu, truk-truk besar yang mengangkut tomat mulai memasuki area festival yang telah disiapkan. Ketika sinyal tanda dimulainya acara berbunyi, seluruh peserta berlomba-lomba saling melemparkan tomat dengan penuh kegembiraan.
Setelah acara selesai, akan ada pembersihan massal di area yang digunakan sebagai tempat acara dan kehidupan kota pun kembali berjalan dengan normal.
Meskipun festival ini terkesan liar, panitia penyelenggara juga menentukan aturan-aturan sederhana demi menjaga keselamatan dan kenyamanan peserta.
Contoh aturan-aturan tersebut adalah telur yang akan dilemparkan harus diremas terlebih dahulu sebelum melemparkannya, dilarang membawa benda keras atau berbahaya, area truk harus dijaga ketat jaraknya, dan penggunaan kacamata renang juga sering disarankan untuk melindungi mata dari cairan sekaligus potongan-potongan tomat.
Seiring meluasnya liputan media mengenai festival ini, La Tomatina yang mulanya hanya sebatas acara lokal tumbuh menjadi magnet wisata internasional.
Baca Juga: Evaluasi Program Bantuan Sosial untuk Pemerataan Kesejahteraan Sosial
Jumlah pengunjung yang terus mengalami peningkatan akhirnya membuat pihak penyelenggara memutuskan untuk membatasi peserta melalui pembelian tiket agar Bunol yang kecil tidak sampai kewalahan.
Banyaknya orang yang terus berkunjung memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi kota. Mulai dari penginapan, restoran, hingga penjualan suvenir atau oleh-oleh khas.
Hal tersebut juga membuktikan bahwa festival La Tomatina bukan sekedar ritual religius atau aksi politik. Tetapi sebagai momen kolektif untuk bersenang-senang, melepas ketegangan, dan merayakan kebersamaan.
Sehingga pada akhirnya, La Tomatina kini menjadi bagian penting dari identitas kultural sekaligus ekonomi kota Bunol yang unik dan menarik.
FANEZA
Editor : Imron Arlado