Oleh: BINTANG MEGA DAMAYANTI
BANYAK yang bilang bahwa cosplay adalah sebuah hobi yang membuang buang waktu dan membuang uang dengan sia-sia, tanpa mereka ketahui manfaatnya. Sebagai seorang cosplayer, Chaeya sering mendapat kritikan dari beberapa orang dikarenakan dia terlalu suka cosplay. Meski begitu, Chaeya tak menghiraukan perkataan mereka. Lagi pula orang tuanya sudah mengizinkan dia untuk cosplay, kenapa dia harus repot mendengarkan perkataan orang?
Hari Jumat, Chaeya sangat tak sabar untuk segera pulang ke rumah untuk mencoba kostum yang baru saja datang dan akan ia gunakan di event pada hari Minggu esok. Kebahagiaan Chaeya terlihat jelas sehingga teman sebangkunya bertanya.
”Hey Cha, kamu kelihatan senang banget, ada apa nih?” Tanya Reina. Chaeya yang mendengar pertanyaan
Reina sontak menjawab.
”Kostumku hari ini datang, aku nggak sabar untuk mencobanya!”
Reina yang mendengar perkataan Chaeya langsung tersenyum, ”Benarkah? Ah kamu akan pergi ke Surabaya hari Minggu ya?” Tanya Reina.
Chaeya mengangguk dengan semangat.
”Iya! Aku akan pergi ke Surabaya hari Minggu!” Ia menjawab dengan antusias.
Di tengah-tengah antusiasme Chaeya, salah satu teman sekelasnya menyahut.
”Heh, cosplay? Itu membuang buang waktu dan uang! Kau bukan memperkaya dirimu, tapi memiskinkan dirimu!” ia tertawa geli. Chaeya yang mendengar itu cuman ketawa.
”Ya, hobiku akan jadi sia-sia kalau nggak bisa dimanfaatkan dengan baik. Sayangnya aku dapat uang, nggak kayak kamu yang jadi beban keluarga, suka ngejek orang, nggak bisa diatur guru, suka merendahkan orang lain. Pantas saja kamu nggak punya banyak teman.” Chaeya terkikik geli.
Kritikan semacam ini tak membuatnya ciut, malahan ia akan senang membalas perkataan mereka. Teman sekelas Chaeya - panggil saja Radit, tentunya tak terima. Jika ia sudah kalah omong dengan Chaeya, ia cuman bisa nyinyir.
”Nyenyenyenye bacot.”
Tak mau membuat suasana makin panas, Chaeya memutuskan untuk pergi ke kantin bersama Reina, kebetulan ia merasa lapar.
Sampai di kantin, Chaeya langsung melesat ke lapak yang menjual seblak, sembari menunggu pesanannya, Chaeya berkeliling di kantin sembari mencari jajanan yang mungkin menarik perhatiannya. Di tengah pencariannya itu, banyak yang berbisik-bisik dan mengejek Chaeya karena ia suka sekali cosplay, kebanyakan adalah anak dari kelas lain, dan Chaeya yakin mereka teman teman Radit yang memang juga tak menyukai Chaeya.
Di mana Reina? Dia pergi membeli mi ayam, jadi ia berpisah dengan Chaeya. Chaeya merasa kesal saat ia dibicarakan begini, tapi ia tetap diam saja, kenapa? Ia nggak mau membuat masalah, itu saja.
Tapi, sepertinya siswa maupun siswi yang mengejeknya ini justru ingin membuat masalah. Mereka bahkan sengaja membuat Chaeya tersandung, mempermalukan dia, dan menertawakannya. Reina yang melihat keributan itu langsung marah. Reina membawa Chaeya pergi dari kantin, tapi ia juga tak lupa membawa seblak pesanan Chaeya.
Menuju ke kelas, air mata mengalir ke pipi Chaeya, ia dipermalukan di depan banyak orang. Reina menepuk nepuk bahu Chaeya, berharap bisa menenangkannya. Sampai di kelas, teman-temannya menertawakan Chaeya. Bagi mereka itu hal yang lucu, mereka menganggap itu sebagai candaan semata, tanpa memikirkan perasaan Chaeya yang sedari tadi dipermalukan. Reina merasa kesal dengan teman sekelasnya, tapi ia nggak bisa berbuat lebih jauh, ditegur pun percuma, dilaporkan ke guru juga percuma, mereka pasti akan melakukan itu lagi.
Kerjaan mereka memang hanya ghibah, mengejek, dan lain-lain, mereka suka mencampuri urusan orang lain. Tapi, tak pernah melihat apakah mereka lebih baik dari Chaeya atau tidak. Sembari menunggu waktu pulang, Reina meminjamkan headphone miliknya pada Chaeya untuk mendengarkan musik dan tak mendengarkan ejekan yang lain. Ini termasuk perundungan, atau bisa dibilang pem-bully-an secara verbal, yang menyerang mental Chaeya. Perundungan ini tak terjadi sekali atau dua kali, tapi sudah sering, inilah alasan Chaeya semakin malas untuk masuk ke sekolah saat jam kosong.
Singkat cerita, jam pulang sekolah terdengar. Chaeya langsung membereskan semua barangnya, berpamitan pada Reina dan langsung pergi ke tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya dan pulang. Tak sampai 5 menit, Chaeya sudah sampai di rumahnya. Ia masuk ke rumah, memberi salam dan langsung masuk ke kamarnya. Ia melihat paket besar di atas kasurnya, benar, inilah yang ia tunggu, kostumnya. Raeya menaruh tasnya, segera mengganti pakaiannya dan siap untuk membuka paketnya. Ia mengambil cutter, membuka paket itu dengan perlahan dan melihat ada plastik zipper bag berisi kostumnya.
Chaeya mengeluarkan kostumnya secara perlahan, terkesan dengan kualitas kostumnya. Aksesori kostum tersebut juga sangat banyak, dari bahan 3D metal, yang membuat kostum itu terasa sedikit berat. Jika kalian bertanya kostum apa itu, jawabannya itu adalah kostum Navia, karakter dari game Genshin Impact. Kostum ini memiliki harga sekitar Rp 2 juta, ditambah payung seharga Rp 500 ribu, sepatu seharga Rp 550 rubu dan wig seharga Rp 270 ribu, dan semuanya dari Cina. Meski masih SMP, Chaeya memiliki penghasilan sendiri berkat hobinya ini.
Chaeya memakai kostumnya, dan aksesori, lalu ia juga sudah memakai make-up, dan terakhir ia memasang wig. Ia sangat cantik. Effort yang diberikan oleh Chaeya sangat banyak. Kalau ditanya apakah tidak rugi membeli kostum semahal itu? Jawabannya tidak. Chaeya malah untung. Karena ia membuka usaha seperti menyewakan kostum, lalu jasa make-up, dan lainnya. Keuntungan yang didapat oleh Chaeya di atas Rp 20 juta per bulan. Karena ia memiliki lebih dari 50 kostum dan usahanya berjalan lancar.
Selain itu, Chaeya juga mendapat uang dari menjual beberapa foto cosplay-nya, biasanya berkisaran 20-50 ribu. Lalu jika Chaeya mengikuti lomba seperti coswalk atau coscomp bisa mendapat penghasilan di atas Rp 1 juta. Pada dasarnya semua hobi bermanfaat asalkan dapat diatur dengan baik.
Hari Minggu pun tiba. Chaeya bangun jam 7 pagi. Ia segera mandi, dan bersiap-siap untuk pergi ke stasiun. Keretanya berangkat jam 8 dan akan sampai di Surabaya jam 9. Chaeya tak sendiri, tentunya. Ia memiliki beberapa teman, yang sudah ia anggap keluarga. Mereka dari komunitas yang sama dengannya. Komunitas ini menampung orang-orang yang menyukai cosplay, atau membuat kostum, membuat senjata dari eva foam, dan lain-lainnya. Sejujurnya hobi ini sangat amat bermanfaat. Meski banyak orang yang sering mengkritik dan bilang bahwa mereka lebih mencintai Jepang dari pada negara mereka sendiri, Indonesia.
Singkat cerita, Chaeya sampai di Surabaya. Ia berhenti di Stasiun Gubeng, dan segera memesan grab car untuk menuju Tunjungan Plaza, tempat di mana event diadakan. Untuk sekali event bisa habis sekitar Rp 500 ribu, tergantung kebutuhan orang-orang. Sampai di Tunjungan Plaza, Chaeya langsung pergi ke TP 3 lantai 6. Ia mencari tempat untuk melakukan make-up. Selain make-up untuk diri sendiri, Chaeya juga me-make-up temannya, Lina. Lina membayar Rp 70 ribu untuk jasa ini.
Singkat cerita, Chaeya dan Lina sudah memakai kostum, wig, dan membawa beberapa barang lainnya. Mereka segera masuk ke area venue dan menikmati event-nya. Apa enaknya pergi ke event? Tentunya, Chaeya dapat banyak teman baru, memperluas relasi dan koneksi, ia bisa bersenang-senang tanpa beban, membeli merchandise kesukaannya, dan lain lain. Intinya dia bebas mengekspresikan dirinya saat ia cosplay. Chaeya mendapat dukungan dari teman teman cosplay-nya. Mereka juga menyemangati Chaeya. Mereka mengajak Chaeya bersenang-senang untuk melupakan masalahnya di sekolah tadi.
Event ini berlangsung cukup lama, bahkan sampai malam. Namun, Chaeya hanya bisa menikmati sampai jam 8 saja. Setelah itu ia segera pergi ke Stasiun Gubeng untuk pulang ke rumahnya, ke kotanya, Kota Mojokerto. Tempat di mana orang orang tersayangnya tinggal. Meski ia bersenang senang di kota lain, ia nggak akan melupakan kotanya sendiri. Begitulah kehidupan Chaeya secara singkat. (*)
*)Penulis adalah peserta didik SMPN 5 Kota Mojokerto.
Editor : Hendra Junaedi