ANGIN sepoi-sepoi menjadi pendukung suasana siang hari itu. Pondok tua yang sudah reyot tak menjadi halangan bagiku dan Yasmin untuk beristirahat sejenak, melarikan diri dari rasa penat yang membelenggu.
“Hari ini panas sekali ya, kulitku sampai sakit rasanya” ujarku sambil mengipas-ngipaskan tangan, tanda kepanasan.
“Iya, deh. Mungkin karena sudah masuk musim kemarau,” balas Yasmin setuju.
’’Dulu jam segini kita masih berada di sekolah ya, sibuk belajar,’’ celetukku.
’’Haha, bener banget. Seru ya masa itu,” jawab Yasmin sendu.
Kami sejenak tenggelam dalam lamunan masing-masing. Meratapi nasib yang sudah kami jalani beberapa tahun belakangan ini. Kami telah menjadi kuli angkut di pasar. Kadang juga bekerja serabutan jika sepi pelanggan. Dan beginilah keseharian kami sebagai tulang punggung keluarga.
’’Eh sekarang jam berapa, ya?” tanya Yasmin tiba-tiba.
Sontak aku langsung membulatkan mata, terkejut bahwa kami telah terlena sampai lupa waktu untuk kembali bekerja.
’’Waduh, kita telat, Yas! Ayo ke pasar sekarang!” teriakku panik.
Kami langsung mengambil langkah seribu supaya tidak telat memenuhi janji pada Ibu Ning, orang yang sudah berlangganan kuli angkut pada kami. Kami telah berjanji bahwa akan membawakan barang belanjaannya sore hari itu. Setibanya di pasar, kami langsung menuju ke salah satu toko tempat Bu Ning biasa berbelanja.
’’Waduh, mati kita!” bisikku pada Yasmin dan dibalas dengan cubitan kecil.
’’Bu Ning! Maaf kami terlambat,” ucapku sambil menundukkan pandangan, tak berani menatap mata milik Bu Ning.
Yasmin pun juga ikut menundukkan kepala dan menutup mata, takut di marahi untuk kesekian kalinya.
’’Kalian habis dari mana? Dicariin kemana-mana ga ketemu. Kan kalian juga sudah janji ke Ibu mau bawain barang Ibu.” Cecar Bu Ning pada kami dengan nada sedikit tinggi.
’’Maaf, Bu! Kami habis ke pondok dekat lapangan depan buat istirahat,” balas Yasmin lirih.
Mendengar hal itu Bu Ning menghela napas dalam. ’’Ya sudah. Lain kali jangan diulangi, ya. Ayo kita langsung ke toko. Sudah sore sekali ini,’’ ujar Bu Ning lembut.
Dengan cekatan kami membawakan barang belanjaan Bu Ning ke toko miliknya, guna dijual lagi sepertinya.
Keesokan harinya kami menjalani aktivitas seperti biasanya. Menawarkan jasa kuli angkut kepada pelanggan-pelanggan yang berbelanja di toko-toko dalam pasar. Namun, tiba-tiba ada seorang pria tua yang menghampiri kami. Kami kira pria tua itu membutuhkan jasa kami, namun ternyata hal yang tak diduga terjadi.
’’Neng, sudah berapa lama kerja begini?” tanya pria tua tersebut padaku dan Yasmin.
Kami sontak menoleh satu sama lain, tak menduga pertanyaan itu akan terlontarkan. Dengan ragu-ragu Yasmin pun menjawab. ’’Sudah 3 tahun belakangan ini, Pak.”
Mendengar hal itu, pria tua tersebut kembali bertanya. “Lho, nggak sekolah ya berarti?” tanyanya lembut.
’’Tidak, Pak. Kami sudah tidak sekolah sejak SMP.” Balasku dengan lirih.
Pria tua itu melembut dan sendu kala mendengar jawaban yang baru terlontar dari mulutku. ’’Orang tua masih ada?” tanyanya kepada kami.
’’Sudah tidak ada, Pak.” Jawabku singkat karena tak mau tenggelam dalam ingatan lama.
Dengan cepat keheningan mendominasi suasana di antara kami bertiga waktu itu. Aku dan Yasmin kembali terlempar pada masa 3 tahun yang lalu, awal mula kami bertemu dan mulai banting tulang untuk menghidupi keluarga.
Aku dan Yasmin sebenarnya adalah tetangga dusun di permukiman padat di salah satu kota di Jawa Timur. Hidupku kala itu bisa dibilang tercukupi dan harmonis hingga Tuhan menguji keluargaku.
Ibuku mendadak jatuh sakit, sedangkan ayahku jatuh dalam lingkaran setan yang bernama judi dan akhirnya pergi entah kemana. Aku yang menjadi anak tunggal, mau tidak mau harus mencari uang demi sesuap nasi dan membeli obat ibu. Waktu itu aku baru saja lulus dari Sekolah Dasar dan ingin melanjutkan pendidikan. Namun, dengan berat hati aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah demi fokus mencari uang dan merawat ibu.
Tak berhenti di situ. Tuhan kembali menguji diriku dengan memanggil ibu ke hadirat-Nya. Ketika Aku terjebak dalam kesedihan tak berujung selepas kepergian ibu dan sedang membutuhkan pekerjaan tambahan untuk menghidupi diriku sendiri, tanpa diduga aku bertemu dengan Yasmin.
Yasmin yang seorang yatim piatu dan selama ini tinggal bersama neneknya menawarkanku ikut menjadi kuli angkat di pasar. Aku yang membutuhkan uang dengan segera menerima tawaran itu dan sampai sekarang masih menjalani pekerjaan itu bersama dengan Yasmin. Hatiku mendadak linu kala mengingat masa pahit itu, aku meremas tanganku kuat-kuat untuk mengusir rasa sakit yang menjerat.
Setelah beberapa saat, pria tua itu kembali berbicara, berupaya memecah keheningan yang melanda. ’’Neng, mau sekolah lagi tidak?” tutur pria tua itu tiba-tiba.
Sontak Aku dan Yasmin terkejut bukan kepalang.
’’Beneran, pak? Kami bisa sekolah lagi?” jawabku dengan antusias.
’’Iya, bapak yang akan biayai kalian berdua. Kalau kalian mau, kalian juga bisa kerja jadi karyawan di toko kain milik bapak saat pulang sekolah. Jadi kalian tidak khawatir lagi dengan biaya hidup.” Jawab pria tua itu dengan tersenyum.
Aku dan Yasmin langsung bersujud sembari mengucapkan kata syukur tiada henti atas rezeki-Nya. ’’Terima kasih banyak, bapak! Sudah berbaik hati dan mau menolong kami! Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Bapak kepada kami!” Sahut Yasmin sambil mengusap tetes air matanya.
Dan pria tua itu hanya mengangguk kecil sembari tersenyum menyaksikan momen haru itu. Waktu berlalu dan mengalir bak air sungai, yang mengalir menuju muaranya. Dan seperti itulah aku dan Yasmin hari ini, jauh lebih baik dari kemarin dan akan lebih baik lagi untuk besok.
Aku dan Yasmin sekarang bekerja sebagai karyawan tetap di toko kain milik pria tua yang tempo waktu dulu menghampiri kami di pasar. Dan yang lebih membahagiakan lagi, kami akhirnya bisa sekolah lagi! Walau sudah bertahun-tahun tak melanjutkan sekolah namun semangat kami untuk bisa menimba ilmu lagi tak akan pernah padam, terus membara layaknya api dan tak akan pernah habis layaknya air.
Kami bekerja pada waktu sepulang sekolah hingga malam, kira-kira pada pukul 19.30 WIB kami akan pulang dari bekerja. Walau penat tak dapat dihindari, kami tetap bahagia bisa sekolah dan bekerja sekaligus. Kami akan selalu berusaha yang terbaik untuk masa depan, karena kami tahu bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya sendiri.
’’Setelah badai datanglah pelangi.”
Begitu pepatah mengatakan dan hal itu adalah benar bahwa sesungguhnya jiwa yang kuat bersinar setelah diterpa badai yang hebat. Janganlah menyerah dan terus berusaha memang sebuah kalimat klise yang biasa diucapkan namun memiliki arti yang mendalam. Untuk para Srikandi Kehidupan yang saat ini sedang berjuang, semoga engkau selalu kuat berdiri ditengah badai yang menerjang. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah dari semua yang pernah terbayang!
*Kelahiran Mojokerto, siswi SMA 3 Mojokerto, hobi suka menghabiskan waktu dengan tidur dan bermain bersama kucing.
Editor : Fendy Hermansyah