Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jalan Menuju Syukur

Fendy Hermansyah • Minggu, 5 November 2023 | 17:25 WIB

Ilustrasi Jalan Menuju Syukur
Ilustrasi Jalan Menuju Syukur
Oleh : Talitha Nadia*

Di tengah hutan belantara, ada seorang pemuda bingung bagai keledai yang tersesat. Redy tidak tahu sudah sejauh mana dia berlari.  Redy mengembuskan napasnya dengan tersengal. Ia mencari pohon untuk bersandar. Pohon jati lebat jadi pilihan. 

Sampai kapan aku harus lari dari keadaan? Bun, aku rindu, hidupku hancur tak ada engkau di sampingku.

Redy perlahan memejamkan matanya

Tiba-tiba terdengar suara manusia lain di hutan. Redy tidak punya rasa takut sama sekali, justru ia mencari di mana letak sumber suara. Ia berjalan hingga menemukan sebuah pedesaan. Di gerbang depan pedesaan terdapat kayu yang bertuliskan “Desa Syukur”.

 Redy memiringkan kepalanya membaca tulisan itu.  Seorang nenek yang menyambut Redy dengan hangat

“Ini desa apa nek?” tanya Redy.

“Selamat datang di Desa Syukur, desa yang penuh syukur dan kebahagiaan. Desa ini tempat di mana tidak ada penduduk yang mengeluh akan keadaan yang mereka hadapi” jelas Nenek.

“Apakah bisa, semua warga di sini tidak pernah mengeluh?”

“Kenapa tidak kau buktikan sendiri?” 

“Apa boleh, Nek. Seorang buronan masuk ke desa ini?”

Redy buronan ayahnya. Ayah Redy mengetahui anaknya bolos sekolah hari ini. Ia mengarahkan ajudannya. Anak itu takut mengotori desa syukur.

Nenek itu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam desa. Akhirnya Redy mengikuti langkah nenek. Kesan pertama saat masuk, desa yang sejuk dan terdapat rumah-rumah kecil dan sederhana dari kayu. Nenek membawanya ke rumah.

“Ini rumah nenek, memang kecil, tapi nenek sangat bersyukur tinggal di sini. Banyak hal yang nenek syukuri saat tinggal di sini.”

Nenek tersenyum sambil memandangi seisi rumah.

Apa yang bisa disyukuri dari rumah sekecil ini?

Rumah nenek hanya seukuran dapur rumahnya. Wanita itu mempersilakan Redy masuk. Tiba-tiba seorang gadis cantik datang dari dalam rumah. Ia lalu memperkenalkan anak gadisnya pada Redy. Keduanya saling bertukar senyum. Redy hanya menganggukan kepala.

Gadis menunjuk kamar untuk Redy. Pemuda itu berjalan angkuh melewati Gadis dan Nenek Ira tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Redy mulai memasuki kamar, duduk di atas kasur. Ia merasa bahwa kasur itu jauh berbeda dengan kasurnya di rumah. Kasur itu keras dan kecil. Bahkan kakinya melebihi pinggiran kasur saat berbaring di atasnya.  Ketukan dari pintu kamar membuat Redy bangun dari lamunan. Ternyata itu Gadis, ia membawakan teh hangat, meletakkan gelas di atas meja di samping kasur Redy.

“Tidakkah ada kasur yang lebih nyaman? Rasanya seperti tidur di atas tumpukan batu.” 

“Kau tahu, bahwa aku selalu bermimpi indah jika tidur di sini.”

“Mustahil.”

“Aku selalu bersyukur, maka aku merasakan nikmatnya tidur. Aku selalu bermimpi indah karena melihat kasur ini bagai awan yang sangat lembut di atas langit.”         

Redy tercengang.

Apa itu bersyukur? sebelumnya tak pernah ada kata syukur dalam hidup Redy. Yang ia tahu hanya bagaimana caranya agar sesuatu menjadi lebih, lebih dan lebih lagi. 

***

Keesokan harinya, Redy bangun, dan merasa sudah puas dengan tidurnya. Sungguh aneh, biasanya ia bangun sangat siang dan tidur tidak nyenyak.

Setelahnya, Nek Ira mengajak Redy untuk mencari ikan di sungai. Sesampainya di sungai, mereka bertemu beberapa warga yang sedang memancing. Nek Ira mulai mengeluarkan alat pancing dan umpan untuk mereka.

“Kenapa hidup kalian sungguh rumit? Tidak beli makanan saja di pasar?”

“Di sini tidak ada pasar. Kita harus mencarinya sendiri,” jawab Nek Ira. 

“Apa kalian tidak lelah melakukan hal-hal seperti ini?”

“Tentu saja tidak, justru warga sangat bersyukur karena masih memiliki sumber daya yang bisa dimanfaatkan.” 

Nek Ira membenarkan helai rambutnya.

“Justru inilah indahnya bersyukur, apa pun yang kita cari sendiri pasti rasanya akan lebih nikmat, dengan mensyukuri apa yang kita punya hidup akan menjadi lebih bahagia.” imbuh Nek Ira.

Nek Ira kemudian menunjuk dua pemuda tak jauh dari tempat mereka.

Si pemuda berbaju biru menunjukkan ikan tangkapannya pada temannya. Ikan yang cukup besar untuk makan satu keluarga. Wajahnya semringah. 

Si pemuda berbaju merah mendapatkan sedikit ikan, walau begitu ia tidak mengeluh karena keluarganya kecil. Keduanya pulang dengan hati gembira. Di sepanjang aliran sungai mereka tertawa.

Redy terkesima dengan apa yang baru saja ia lihat. Teman sekolahnya selama ini malah mengajaknya membakar uang.

Sesampainya di rumah, Nek Ira langsung memberikan ikan hasil tangkapnya kepada Gadis untuk dimasak. Sementara itu Redy masih duduk termenung di depan teras rumah. Sepulang dari memancing ia merasa ada yang berubah dari dirinya. Redy merasa bahwa hidup apa adanya tidak sepenuhnya buruk, justru Redy bisa menikmati lebih banyak waktu bersama orang lain, dapat merasakan kebahagiaan dan kehangatan seorang ibu.

Nek Ira memanggilnya masuk ke dalam untuk makan. Mereka duduk di meja makan. Di atas meja sudah terhidang ikan dan sayur masakan Gadis.

Redy hanya memandangi hidangan itu. Saat Bibi di rumahnya memasak masakan tradisional, dia sering kali tidak mau makan. Redy mulai mencoba mengambil sayur dari piring dan memasukkan ke dalam mulut. Lidahnya merasakan kenikmatan. Lalu, ia mengambil potongan ikan goreng. Redy makan dengan lahap, sampai akhirnya tersedak karena menelan duri. Ia batuk-batuk, merasa kepalanya pusing. Matanya terpejam disusul kesadarannya perlahan menghilang.

***

Sorot lampu terang dan ruangan berbau obat, itulah pandangan pertama yang Redy lihat.

“Redy, syukurlah kamu sudah sadar.” 

“Syukurlah aden sudah sadar.”

Suara familiar itu membuatnya menoleh ke arah kanan dan kiri. Ayah dan Bibi memandangnya dengan wajah lega dan bersyukur.

“Ayah, bibi, kenapa bisa ada di sini?” 

“Kami selalu datang, menunggumu sadar dari koma,” jawab ayah Redy.

Mata Redy terbuka lebar, menatap ayahnya.

“Koma?”

“Kamu kecelakaan tertabrak mobil, saat ajudan Ayah mengejar. Maafkan Ayah yang terlalu ketat mengawasimu, Redy. Ayah menyesal.”

Laki-laki itu tertunduk, menjelaskan kronologi kejadian dengan mata berkaca-kaca. Redy kemudian memeluknya dengan hangat.

“Aku tidak apa-apa Ayah. Maafkan aku yang selama ini selalu membangkang.”

Redy melepaskan pelukannya dan menatap mata ayahnya dalam-dalam.

“Aku bersyukur masih punya Ayah.”

Ayah Redy tersenyum dengan haru. Ia jadi teringat dengan mendiang istrinya. Suhu ruangan yang dingin oleh pendingin seolah tidak mengenai keduanya.  

“Bi, mulai sekarang jangan ragu lagi untuk memasak makanan tradisional untuk kami.  Apapun yang Bibi masak pasti aku akan menikmatinya,” ucap Redy sambil tersenyum hangat.

“Siap aden ganteng.” 

 

Jalan Pemuda, 10 September 2023

*Kelahiran Mojokerto, siswi SMA Negeri 3 Kota Mojokerto. Hobi: menulis, membaca, bernyanyi dan berenang.

 

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#radar mojokerto #cerita pendek #jawa #cerpen