Cinta kita sedalam samudera, seluas bentala dan setinggi cakrawala, tapi semesta tak memberi izin untuk kita bersama.
_________________________________
’’Dulu aku sempat ingin mendekap bulan, begitu aku tahu bahwa langit malam ternyata sangat indah,” gumamku.
Pada hari itu aku duduk di teras seorang diri. Membiarkan udara dingin menusuk kulit.
’’The moon it’s beautiful isn’t?”
Aku ingat bagaimana aku mulai jatuh cinta pada malam. Dan, berpikir bahwa mungkin segalanya akan indah ketika aku mencintai malam.
Kita bertemu dengan tidak sengaja, kita tidak saling mengenal, mencari, apalagi untuk berhubungan. Aku sedih membayangkan saat membuka quran teringat kamu membuka alkitab. Saat aku berjalan ke masjid tujuanmu adalah gereja. Saat aku menggenggam tasbih, engkau memegang salib. Saat aku melantunkan selawat kamu justru menyanyikan pujian.
Saat hari besarku adalah Idul Fitri dan engkau adalah Natal. Saat kita harus berjarak hanya karena perbedaan agama. Aku sangat sedih ketika kita berjarak walau kenyataanya sangat dekat. Mengapa Tuhan menyatukan bila sebenarnya kita akan dipisahkan?
Butiran air mata mengalir di pipi.
***
Pagi datang dengan kicau burung-burung, saat kubuka mata perlahan cahaya mentari masuk melalui celah-celah jendela. Sayangnya mataku enggan untuk terbuka, mengantuk berat. Kulirik jam alarm yang ada di samping tempat tidur, sudah pukul 05.30, tapi aku abai begitu saja.
Welcome dreams.
“Fannnn… Fanny..,” ucap Bunda seraya menarik selimut.
Ia terus membangunkan hingga hilang kesabaran.
“Thiffanyy Aleesha Barakaa!”
Sontak aku bergegas mengambil handuk yang ada di balkon. Di depan cermin aku kagum melihat diri sendiri. Suara bel berbunyi diikuti teriakan Andreanno. Kami memang selalu berangkat sekolah bersama. Bunda mempercayakanku padanya karena ia teman masa kecilku.
Andreanno terlihat berbeda hari ini, ia mengenakan jaket jeans, kalung salib silver, serta kacamata hitam.
’’Tumben berpakaian seperti ini, biar apa ?” tanyaku.
’’Sengaja biar kamu makin terpesona.”
Aku hanya terdiam mendengar jawabannya.
Saat bel istirahat Andreanno yang tiba-tiba datang sambil membawa, cadbury, cookies dan susu milo.
’’Sengaja aku bawa biar mood-mu baik hari ini.”
’’Hei jangan melamun, terima itu jangan diem aja,” imbau Aletha.
Teman-temanku tahu tentang kami dan kerap menyindir dengan lelucon.
’’Bucin elitt seagama sulit!”
’’Beda agama dikit nggak ngaruh wirr katanya!” sahut Hima, teman sebangku.
Kami yang sudah muak, memutuskan untuk diam dan fokus pada kesibukan pribadi.
***
Saat pulang sekolah aku bergegas lari menuju kamar untuk segera beristirahat. Namun Bunda mengajak makan malam bersama Ayah. Di meja makan terhidang berbagai makanan dan minuman menggugah selera. Bunda bertanya bagaimana sekolahku.
“Seperti biasa bun, aku capek dengan tugas tapi senang karena ada banyak teman.”
“Bunda ingin menyampaikan sesuatu, Kak.”
Thiffany mengiyakan.
“Kamu dengan Andreanno sudah berteman 16 tahun. Bunda juga sudah menganggap Andreanno seperti anak bunda sendiri. Jangan sampai kamu memiliki perasaan padanya. Apalagi kamu merebut Andreanno dari Tuhannya begitu pula sebaliknya.” ucap bunda.
Aku menunduk dan menghabiskan sisa makanan yang ada di piring. Ayah pun setuju.
“Baik Yah.. Bun.”
Aku kembali ke kamar untuk mengistirahatkan punggung, lalu meraih handphone dan segera menceritakan kejadian di meja makan melalui whatsapp. Aku bertanya bagaimana nasib hubungan kami. Adreanno membalas pesanku.
Aku tidak tahu
Jangan membahas kita ke depan akan seperti apa
Jalani saja dulu, bagaimanapun endingnya nanti
Yang aku inginkan kamu harus bahagia, entah nantinya aku bersamamu
ataupun tidak, aku akan memastikan kamu selalu bahagia.
***
Hari ini sekolah ada rapat membahas kegiatan purnawiyata. Ia duduk di sampingku, sambil mendengarkan arahan bapak-ibu guru.
“Kamu mau lanjut study ke mana setelah lulus?”
“Aku ke Amerika ikut Papa, Fan. Kamu sendiri?”
“UNAIR. Bagaimana dengan kita, Ndree?”
“Kamu tahu, kepergian senja akan menghadirkan malam yang indah.”
“Yang membuat malam indah, bulan dan bintang. Mereka belum tentu bersama Ndre.”
“Mereka selalu bersama, awan gelap yang membuatnya seolah meninggalkan angkasa, Fanny.”
“Ini ada kaitannya dengan pertanyaan tadi?”
“Aku akan selalu ada, aku janji akan selalu membuatmu bahagia. Walau kita jauh.”
Aku termenung.
“Kenapa semesta mempertemukan kita, bila tidak bisa bersama?”
“Aku tahu sebesar apa pun cintaku, tidak mungkin bisa merebutmu dari Tuhanmu. Dan aku tidak akan mungkin mengkhianati tuhanku, Steffany.”
“Baiklah kalau begitu, kenapa kita tidak pu—“
Andreanno membungkam mulutku terlebih dulu dengan tangan.
“Aku akan menjagamu hingga kamu menemukan diriku, pada orang yang memiliki keyakinan sama denganmu.”
Aku meremas rokku kuat-kuat.
***
Aku tidak lolos SNMPTN, berbeda dengan Andreanno ia lolos dan masuk salah satu universitas di Amerika. Aku mencoba mengajak bertemu, mengucapkan salam perpisahan sebelum LDR. Kami bertemu di salah satu taman yang ada di kota. Hari yang cerah, orang-orang menikmati liburan
“Kapan kamu pergi ke Amerika?”
“Tiga hari lagi. Hari ini mungkin hari terakhir kita bertemu, Thiffanyy.”
Air mataku tak terbendung, aku menangis dalam pelukan Andreanno. Setelah 16 tahun bersama, kami akan berpisah dalam waktu yang lama. Aku merasa bahwa kata “terakhir kali” yang diucapkan Andreanno memiliki makna tersendiri kali ini.
“Jangan lupa kabari aku ya, Ndree.”
“Pasti, aku akan selalu ngabarin kamu, Fanny.”
Andreano mengusap air mataku, mengelus kepalaku dengan lembut.
***
Sudah tiga hari, belum ada kabar dari Andreano. Aku sedih, mencoba menghibur diri dengan mengajak keluargaku jalan-jalan. Di ruang tamu Ayah dan Bunda duduk sambil bicara.
“Aku bosen liburan di rumah.”
“Tumben kamu ngajak jalan-jalan?” tanya Ayah
“Kenapa nggak ngajak Andreanno?” sahut Bunda
“Dia kuliah di Amerika ikut papanya.”
Sementara Ayah memanaskan mobil, Bunda dan aku bersiap-siap.
Aku di depan bersama Ayah, Bunda duduk di tengah. Kami jalan-jalan keliling kota, makan di restoran langganan keluarga. Ketika pulang mobil kami melewati daerah rumah Andreanno. Ayah sempat bertanya warna cat rumahnya, sudah lama ia tidak melewati jalan itu.
Banyak sekali karangan bunga tertata rapi di depan Rumah Andreano. Aku mencoba berpikir positif, itu karangan bunga berisi ucapan selamat dan sukses. Kepergian keluarga Andreano tampaknya membawa pengaruh besar.
Sesampainya di rumah aku memutuskan bertanya lewat whatsapp.
Bagaimana kabarmu?
Ayahmu orang penting?
Banyak sekali karangan bunga
di depan rumah
Apa kamu sibuk, Ndre?
Berhari-hari aku mencoba mencari kabarnya. Nihil. Gelisah, cemas, khawatir jadi satu. Aku memutuskan pergi menemui Hima, ia tetangga Andreanno. Saat tiba di rumahnya, aku tidak melihat karangan bunga.
“Tumben ngajak ketemu?”
Hima menatapku, kedua alisnya bertemu.
“Ayah Andreanno kerja apa? Kamu tahu?”
“Direktur di sebuah perusahaan, ngapain nanya hal itu?”
“Aku kirim pesan ke Andreanno belum dibalas sampai sekarang.”
“Kamu beneran nggak tahu apa-apa?”
Aku bingung. Hima gemas melihat sikapku.
“Andreano sudah meninggal Fanyy!”
Ia menggoyang-goyang tubuhku.
“Jangan bercanda, Andreano sekarang kuliah di Amerika”
“Dia kecelakaan waktu berangkat ke bandara. Papanya masih koma di rumah sakit.”
“Kamu pasti bohong, mana mungkin Andreanno meninggalkanku?!”
Hima menarik tanganku, aku berjalan mengikutinya.
“Mau ke mana?”
Kami tiba di area makam katolik yang berada tak terlalu jauh dari kompleks rumahnya. Ia menarik dan memberhentikanku di salah satu makam dengan batu nisan bertuliskan, Andreanno Harry Wijaya.
Aku diam, tak bisa berkata apa pun.
Tubuhku lemas, tersungkur di sebelah makam. Aku memegang batu nisan, masih berharap ini semua hanya mimpi. Air mataku turun seperti hujan yang sedang turun.
’’Mengapa endingnya harus seperti ini? Bukankah kau menginginkan kebahagiaan dalam hidupku? Kau ingin melihatku bahagia seterusnya bukan? Caramu meninggalkanku yang seperti ini sama sekali tak terlintas dalam benakku sebelumnya. Terimakasih telah menjadi bagian terindah dalam hidupku, sekarang aku harus benar – benar melepaskanmu, semestaku.”
__________________________
’’Bila memang harus berpisah, Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya, Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan, Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya, Kau kan tetap ada di dalam jiwa”
~Isyana Sarasvati
*Kelahiran Sidoarjo 14 Desember 2007, Siswa kelas X SMAN 3 Kota Mojokerto hobi membaca, menulis dan mendengarkan musik
Editor : Fendy Hermansyah