Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kuas Lukis dan Kanvas

Fendy Hermansyah • Minggu, 1 Oktober 2023 | 18:45 WIB

Lailatul Fajri Hadapan, siswa SMAN 3 Mojokerto, kelas XII MIPA-5, suka menulis dan membaca.
Lailatul Fajri Hadapan, siswa SMAN 3 Mojokerto, kelas XII MIPA-5, suka menulis dan membaca.
Oleh: Lailatul Fajri*

TERDENGAR suara derit ketika aku membuka pagar besi rumah. Kubawa kantong belanja hitam besar. Sesekali mataku melirik ke arah kanan-kiri. Dengan langkah mengendap-endap seperti kucing mau mencuri ikan. Rumahku tidak begitu besar, cukup untuk ditempati bersama keluarga kecilku yang baru.

Bunga sepatu, mawar, melati, dan bougenvil menambah kesan indah dan rindang rumah.  Kamarku yang berjarak tidak jauh dari ruang tamu bisa mendengar suara ketenangan dari air mancur yang berada di dinding depan rumah sebelah kanan.

Teriakan seorang wanita mengejutkanku. Kusembunyikan kantung hitam dibalik punggung. Seorang wanita paruh baya dengan baju kebesaran ibu rumah tangga disertai keringat yang bercucuran datang dari arah dapur, menyuruhku untuk menjaga adik, sementara ia pergi ke warung tetangga sebentar. Hanya kubalas dengan gumaman kecil dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang lengket, melupakan amanah Bunda.

Aku bersenandung kecil sambil menggosok rambut basah dengan handuk. Betapa terkejutnya aku saat menemukan kuas yang baru kubeli patah dengan kanvas yang penuh coretan pena. Siapa yang berani merusak barang kesayangan milikku. Apa dia tidak tahu jika barang ini dibeli dengan susah payah.

’’Dek, kamu yang merusak barang kakak, ya?” tanyaku masih lembut.

’’Emm, nggak, Kak.” Wajahnya memperlihatkan raut ketakutan. Jika saja saat ini ada ayah dan bunda, pasti dia akan mengadu.

’’Cuma ada kita berdua di rumah ini, nggak mungkin ada orang lain yang masuk ke kamar kakak kecuali kamu!”

Aku mulai tersulut emosi mendengar jawaban adikku yang tidak mau jujur.

’’Ada apa ini? Kenapa marah ke adikmu? baru ditinggal sebentar saja sudah ribut.” 

Lebih memuakkan lagi ketika adikku mengadu kumarahi karena merusak alat lukis. Tentu saja hal ini membuat Bunda naik pitam.

’’Sudah Bunda bilang, jangan buang uang ayah dengan beli barang-barang tidak berguna! melukis tidak akan menghasilkan apa-apa! buang semua peralatan itu, dan jangan pernah beli lagi. Jika nanti bunda melihatmu membeli barang-barang itu lagi, bunda tidak segan-segan membuangnya sendiri!”

Bunda menggenggam pergelangan adikku di tangan kanannya. Sungguh aku sangat muak melihat wajahnya. Kehadirannya di rumah ini membuatku semakin sengsara. Apalagi melihat bunda selalu memihaknya.

***

Tetesan air berjatuhan menimbulkan suara gemericik di tengah kesunyian. Dinginnya hujan tidak membuatku tergoda untuk bergelut di atas kasur. Menorehkan warna sedikit demi sedikit di sebuah kanvas putih yang penuh coretan. Berharap apa yang kulakukan dapat meringankan sedikit rasa gusar. Dadaku berdenyut menahan sesak ketika melukiskan apa yang kurasakan, tapi dengan cara inilah aku bisa menyalurkan perasaan yang tidak bisa kukatakan kepada siapapun. Meskipun hampir setengah jadi, lukisan itu sudah terlihat sangat indah dan penuh makna. Aku tersenyum bangga melihat hasil karya tanganku.

Jika kalian pikir aku akan membuang alat lukis yang kemarin, kalian salah besar. Hanya kusembunyikan peralatan itu. Aku sudah membelinya dengan susah payah, tidak mungkin langsung dibuang begitu saja. Meskipun dengan kuas yang patah disertai kanvas yang penuh coretan pena, tidak jadi masalah. Mudah sekali untuk menutupinya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. Aku terkejut dan langsung berdiri membelakangi kanvas dengan kuas lukis yang kugenggam erat di belakang punggung. Pintu itu terbuka memperlihatkan seorang pria dengan sorot mata yang tajam.

’’Kau sedang apa?” tanyanya dengan sedikit mendongakkan kepala, kubalas dengan gelengan kepala.

’’Apa yang kau sembunyikan di belakang punggung?” tanyanya lagi dengan suara lirih, penuh penekanan.

’’Tidak ada, yah,” ucapku sambil menundukkan kepala.

Pria paruh baya yang terpaksa kupanggil ayah itu masuk ke dalam kamar dan langsung merebut lukisan itu, menginjak-injak dengan kaki jenjangnya. Sehingga membuat lukisan yang masih basah berubah menjadi tidak beraturan.

’’Sudah ayah katakan, dinda. Jangan buang uang ayah dengan melakukan hal bodoh!”. Bentaknya sangat keras. Kuasku jatuh begitu saja.

’’Apa kau yang membuat adikmu tidak jajan di sekolah, kau mengambil uangnya!”

’’Tidak, Yah. Aku tidak melakukannya.”

Aku bersumpah tidak pernah melakukan itu. Untuk apa aku melakukannya. Aku rela tidak jajan di sekolah demi bisa beli peralatan lukis.

’’Aku tidak percaya dengan omonganmu! Uang sakumu kupotong untuk uang jajan adikmu,” ucapnya.

Ia membanting pintu kamar.

Aku berlutut dan memeluk lukisan yang tergeletak mengenaskan di atas lantai. Aku menangis tersedu-sedu. Mengapa dunia ini tidak adil. Bunda jadi berubah karena pria itu. Andai saja ayah tidak meninggal, bunda tidak akan menikah lagi.

***

Pagi ini aku akan menghadiri pameran seni yang direkomendasikan Bu Emi, guru seni budaya. Pergi sendirian bukan masalah besar bagiku. Aku lebih suka pergi sendiri dari pada pergi bersama keluargaku, terlebih jika ada adikku. Aku terlihat seperti anak angkat jika pergi bersama mereka. Aku selalu berada di belakang dan membawa barang belanjaan. Sungguh sangat menyedihkan. Tapi lupakan hal itu, aku di sini akan bersenang-senang.

Suasana di dalam mal tidak jauh berbeda dari tempat parkiran. Bahkan saking penuhnya aku sampai harus parkir di luar. Aku sebenarnya tidak suka berada di keramaian, tetapi demi melihat pameran seni aku akan mengesampingkan hal itu.

Mataku berbinar melihat betapa cantiknya lukisan di depanku. Lukisan seorang wanita dengan kulit eksotis yang dibalut pakaian adat khas Bali, tidak lupa senyuman manisnya yang mampu memikat siapapun yang melihat. Lukisan itu terlihat sangat nyata. Benar-benar seperti foto yang dicetak.

Aku ingin bertemu dengan pelukisnya dan bertanya mengenai teknik melukis yang dia gunakan, tetapi aku tidak melihatnya di sini, mungkin nanti saja setelah melihat lukisan yang lain.

Tanganku tersentak dari arah belakang, aku tidak tahu siapa yang menarik tanganku dengan begitu kuat. Tanganku meronta ingin melepaskan diri. Aku berteriak dengan sangat keras. Orang itu memanggil seorang wanita yang berdiri di depan mobil. Dia berbalik melihatku. Aku tidak bisa berkutik melihat tatapannya, bagaimana bisa mereka ada di sini.

’’Kalian kenapa ada di sini?”

’’Seharusnya kami yang bertanya begitu.”

’’Bukankah sudah aku katakan, jangan mencoba untuk jadi pelukis! Apakah ancaman  kemarin tidak cukup untukmu?!” bentak Ayah.

’’Kenapa kalian tidak suka melihatku melukis? Saat aku memenangkan lomba melukis untuk pertama kali, semenjak itu kalian melarang. Apakah kalian tidak suka jika aku lebih berbakat dari anak kalian itu?”

Mereka hanya diam, menyuruhku masuk ke mobil. Suasana sunyi untuk beberapa saat, hingga pintu mobil terbuka dan memperlihatkan anak laki-laki membawa kantong belanja di tangan kanan. Entah apa yang dibawanya, aku tidak peduli.

Tiba di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku menutup pintu dan menguncinya. Menjatuhkan diri di atas lantai, sambil memeluk kakiku sendiri. Menumpahkan semua yang sudah lama tertahan.

Pintu kamarku diketuk pelan. Suara lembut memanggil untuk keluar. Kubuka pintu itu dan dia langsung memelukku erat. Aku terdiam melihat perlakuannya. Tangan kecilnya menghapus air mataku yang menggenang di pelupuk mata. Dia menarik tanganku dan menyerahkan kantong belanja.

’’Maaf sudah membuat kakak menangis. Semoga hadiah ini bisa membuat kakak senang. Jangan menangis lagi ya, Kak.”

Dia langsung pergi setelah mengatakan itu.

Mataku membulat melihat isi di dalamnya; kuas yang sama persis seperti yang aku beli kemarin. Dia bahkan membeli dua kanvas yang lebih besar dari punyaku.

*Siswa SMAN 3 MOJOKERTO, kelas XII MIPA-5, suka menulis dan membaca. 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kuas #radar mojokerto #jawa pos #lukis #kanvas #cerpen