SEORANG gadis kecil berbaju lusuh namun masih terlihat rapi memeluk dan mencium tangan dua orang paruh baya memakai topi sesek dan membawa cangkul bersamanya. Gadis kecil tersebut melihat langit. Langit tidak lagi muntah, namun masih terlihat muram. Sepertinya hari ini begitu istimewa baginya dengan langkah yang begitu sumringah ia melangkahkan kakinya.
Melewati sebuah danau gadis itu berhenti dan memetik sebuah bunga mawar merah merekah. Di depan sebuah bangunan kecil pojok desanampak usang namun terawat, lagi-lagi gadis mungil itu terhenti. Di bawah Sang Saka Merah Putih ia mendongak memberi hormat kemudian menaruh bunga mawar yang dibawanya di bagian bawah tiang bendera. Aduhai, gadis sekecil itu laksana memahami benar makna dibalik selembar kain merah putih tersebut. Kemudian gadis itu memasuki ruangan yang didalamnya juga ada anak kecil sebaya.
Suara genta terdengar nyaring menelusuri tiap-tiap ruangan. Tidak lama kemudian masuklah salah seorang wanita . Wanita tersebut memberitahukan bila anak yang bernama Riri berhasil menyandang juara satu dalam lomba cerdas cermat tingkat provinsi kemarin, dan akan melanjutkan lomba tingkat nasional seminggu lagi. Semua anak pun langsung bertepuk tangan serta memberikan salam pada gadis kecil tadi.
Oh, jadi kini sudah kita ketahui, gadis tersebut bernama Riri, dan wanita yang mengumumkan pemberitahuan tersebut pasti gurunya. Tapi bila Riri ialah seorangsiswi mengapa ia dan teman-temannya tak mengenakan seragam sekolah. Mengapa bila ini sekolahan muridnya bisa dihitung dengan jari karena sangking sedikitnya.
’’Anak-anak, syukur patut kita ucapkan pada Allah SWT. Di mana karenanya kita diberikan akal untuk berpikir. Negeri kita pun telah merdeka, sehingga kita bebas mendirikan sekolah. Memang sekolah kita masih swasta tanpa bantuan dari pemerintah karena mungkin entah pemerintah yang tertutup matanya atau jalan menuju desa kita begitu rumit, kita berprasangka baik saja. Namun Insyallah seperti kata Pak Soekarno, ’’Beri aku 1000 orangtua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kugoncang dunia’’ Ayo sedikit demi sedikit kita bangkit dari keterpurukan. Merdeka!’’ seru sang Guru.
Belum sempat murid-murid menjawab terdengar suara mesin yang nampaknya begitu besar memekik telinga. Seluruh isi sekolahan keluar menghampirinya. Mesin itu menuju ke halaman sekolah, mendekati tiang bendera kesayangan Riri. Sontak Riri berteriak sembari berlari berusaha menghentikannya. Ternyata warga desa sudah banyak yang berkumpul di depan sekolah yang satu-satunya di desa itu. Riri masih berlari dan akhirnya jatuh terselonjor tepat diantara tiang bendera kesayanganya dan mesin mengerikan tersebut. Alis Riri mengerut dan napasnya tersengal-sengal. Ibu guru dan Pak Kepala Desa membopong Riri menuju ujung halaman, akan tetapi Riri sedikit berontak. Ia bertanya mengapa paman pengendara mesin menakutkan tersebut ingin menerobos wilayah desa dengan kali pertama merobohkan bendera merah putih kesayangannya terlebih dahulu.
’’Itu hanya secarik kain, mengapa kau mempedulikanya,’’ ketus lelaki hitam kekar. Dia pengendara mesin besar tersebut turun mendekati Pak Kades.
Riri berkata, ’’itu bendera merah putih warisan nenek moyang kita paman, pahlawan kita. Bila paman ingin mendapatkan tanah, maka belilah di tempat lain, aku habis memenangkan lomba, tetapi jangan hancurkan desa kami.’’
Lelaki itu tak mempedulikan ocehan-ocehan Riri. Ia menjelaskan bahwa ia adalah utusan dari pemerintah untuk meluluh lantakkan sebagian desa menggunakan buldoser guna dibangun pabrik. Semua terperanjat tak percaya tatkala lelaki tersebut menunjukkan surat perintah, betapa kejamnya pemerintah seolah-olah menganak tirikan warga desa. Beberapa teman dari lelaki itu langsung mengambil posisi siap menghancurkan bangunan di pedesaan. Lantas Pak Kades langsung mencegahnya, ia nampak kasak-kusuk meminta waktu diskusi dengan para warga. Selang beberapa menit Pak Kades menyampaikan hasil musyawarah, bahwa boleh saja menggusur sebagian wilayah desa, namun wilayah dalam yang belum ada rumahnya.
Maka hari itu, 18 Agustus 2021. Sehari setelah memperingati hari kemerdekaan, hari kebanggaan dan hari tumpah darah terjadilah tragedi tumpah air mata. Pribumi asli Indonesia digusur dari tanah kelahirannya dan dijadikan pabrik oleh orang asing. Ya, bagaimana mungkin itu bukan orang asing? Jika negeri dan warganya sendiri rela ia kecewakan? Warga yang sehari-hari telah memasok padi untuk berlangsungnya kehidupan seperti tak mempunyai nilai sama sekali. Bila mereka memang anak negeri mengapa tak punya hati?
***
Beberapa tahun berlalu. Tanah subur berganti gersang, danau indah nan jernih berganti hitam likat. Yang sama sekali tidak berubah dari wilayah ini adalah semangat si kecil Riri yang telah beranjak remaja. Dengan baju biru putih ia melangkahkan kaki menyusuri jalanan. Riri lagi-lagi tertawa riang gembira berkejaran dangan para capung dan kupu-kupu di tepi danau. Riri dikagetkan dengan beberapa cairan gelap pekat di sisi lain danau, cairan itu pun tidak sendirian namun juga ditemani segunung infus dan bekas-bekas suntikan maupun kain kasa penuh darah yang sudah kering, bahkan ada juga beberapa potongan badan yang begitu menggetarkan. Itu jari-jemari, jari siapa, pikirnya mulai mulai berkecamuk.
Riri tergopoh-gopoh berjalan menuju sebuah gedung yang nampak termewah di desanya. Ia roboh dibawah tiang bendera kecintaannya. Rupanya gedung itu ialah sekolah menengah pertama, bantuan dari pemerintah. Mungkin sebagai sogokan menerima penggusuran. Dengan mata yang berkunang-kunang mata lentik Riri mulai terkatup, pandangannya buyar, kesadarannya ambyar.
’’Ngeek ngek ngek,’’ Bunyi mesin yang sangat Riri hafal memekik di telinganya.
Riri langsung tersadar,’’Astaga, mesin terkutuk itu lagi. Bukankah sudah cukup tahun kemarin ia mengusur tanah pusaka tercinta. Untuk apa ia datang lagi? Untuk membuat pabrik? Atau untuk membuat gudang limbah rumah sakit yang amat berpenyakit.’’
Riri tak lagi bernalar. Ia menghampiri mesin keji itu dengan mata yang memerah bak dimakan api merah. Ia tak bisa lagi bernegoisasi, ia berteriak kencang sekali hampir kerongkongannya mau lepas tinggi. Semua warga pun keluar rumah, meninggalkan pekerjaan di sawah, dan meninggalkan segalanya hanya untuk melihat apakah yang terjadi, mengapa ada teriakan histeris seorang gadis. Pak Kades datang menghampiri Riri yang berani berdiri tegak dibawah Sang Surya menghadang mesin begitu besarnya.
’’Sudah nak Riri cantik, jangan seperti ini. Kasihan orangtuamu bila kamu kenapa-kenapa. Biarlah mereka berperilaku sesukanya, yang penting mereka tidak menyakiti kita,’’ tutur Pak Kades.
’’Itu salah pak, itu sebuah pemikiran yang salah besar. Mereka jelas-jelas menyakiti kita, menyakiti hati, dan menyakiti desa kita. Meskipun desa kita kecil, pemikiran kita tidak boleh ikut kerdil. Pemerintah boleh membangun pabrik di wilayah kita atau wilayah siapa saja, namun itu harus pabrik bukan gundukan sampah, apalagi sampah rumah sakit yang tak diolah lagi melainkan langsung dibuang begitu saja. Lihat sekarang desa kita tandus. Baiklah biarkan beberapa waktu pasti tiada lagi tanaman yang bisa hidup di neraka ini. Tempat penampung sampah rumah sakit se-Indonesia,’’ ucap Riri sesenggukan
Semua hanya mangut-mangut mendengar ucapan Riri, entah memang memahami atau pura-pura mengerti. Maka dengan gotong-royong Riri mengajak warga desa berani mengemukakan pendapat sehingga mesin-mesin itu pun berjalan mundur menjauhi pedesaan.Maka hari itu tiada kejadian apa-apa.
***
Malam masih akan datang, sebentar lagi keindahan cakrawala kembali hadir. Tak lama kemudian semburat warna jingga beranjak menerpa alam. Riri memejamkan matanya erat, seolah tengah menyampaikan pesannya pada semesta. Ia tengah bingung dengan apa yang terjadi, apakah ini mimpi? Ia memang bertempat tinggal di tanah kelahiran namun bukan sebagai tuan melainkan sebagai budak di kampung halaman. Hadiah terindah dari kakek-kakeknya. Hadiah pengorbanan jiwa, raga juga nyawa kini serupa tiada artinya. Ia jadi teringat sebuah cerita dari gurunya.
***
Suatu hari suku Kucing mengadakan rapat, membahas ketimpangan-ketimpangan yang ada di negeri tercinta. Berbagai pendapat dan solusi saling bermunculan. Sampai pada larut malam akhirnya membuahkan suatu keputusan yang tepat. Namun sebuah keputusan dari suku Kucing ini hanya tinggal sebuah kenangan. Sebab tiba-tiba munculnya Anjing Penjilat mematahkan keputusan dari suku kucing. Dengan berbagai alasan dan ancaman dari sang Anjing membuat keputusan yang menguntungkan dirinya secara pribadi. Seberapa banyaknya dan seberapa kuatnya Kucing tak akan mampu mengalahkan keberingasan Anjing Penjilat. Dan yang mengherankan lagi para pemimpin suku Kucing banyak yang mengikuti jejak Anjing Penjilat demi keselamatan pribadinya, tanpa menghiraukan nasib anak buahnya. Bagi pimpinan Kucing ini yang penting dirinya selamat, aman, dan sentosa.
Yang lebih mengharukan kejadian ini tak pernah sampai pada raja hutan yakni sang Singa. Sebab laporan yang masuk pada sang raja hanya bahwa negerinya aman dan sentosa. Gemah ripah loh jinawi tentrem kerto raharjo.
***
Maka batin dan tilikan Riri berkecamuk, bergemuruh dalam dada. Ia berada di tempat yang tidak patut disebut tempat, ia menjadi rakyat dari orang yang tak merakyat, tapi pasti tidak semua orang demikian. Akan apa yang harus Riri lakukan? Haruskah ia mengadu pada petinggi negara? Pada presiden? Haruskah? – Harus.
November 2021
*Pengajar di MI. Bustanul Ulum, Perning – Jetis. Anggota FLP Mojokerto, Kumpulan Cerpen terbarunya “Bunga Petir”
Editor : Fendy Hermansyah