Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

ALENA Oleh Alim Witjaksono

Fendy Hermansyah • Minggu, 7 Mei 2023 | 19:05 WIB
Ilustrasi cerpen Alena. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
Ilustrasi cerpen Alena. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
HAMPIR tiap hari saya mengantar puteri saya ke sekolah sambil mengendarai motor matik. Sungguh pekerjaan yang membosankan, kalau bukan dipaksa oleh rasa cinta kepada anak kandung sendiri. Dari depan gerbang sekolah, kadang saya mengamatinya berjalan menuju pintu kelas, seraya mengenang masa-masa kecilnya yang mungil dan menggemaskan. Namun, setelah usianya menginjak delapan tahun dan duduk di kelas 2 SD, sepertinya ia mengalami banyak perubahan.

Seringkali dia lupa mencium tangan saya sebagai tanda perpisahan. Ketika pulang sekolah, kadang ia membuka pintu depan dengan kasar. Kemudian ransel dan sepatunya dilempar semaunya di atas sofa. Saat kami sedang menyantap makan malam, sering juga dia membikin ulah. Bukannya bergabung bersama kami di meja makan, malah merusak mainan adiknya atau bahkan menumpahkan susu adiknya yang bungsu, hingga menangis meraung-raung.
’’Ya Allah… Nisa! Nakal amat sih kamu?”

Menanggapi omelan ibunya, justru ia berdalih menyampaikan pesan dari Bu Guru, bahwa orang tua tidak boleh marah-marah, juga tidak boleh membawa-bawa nama Allah untuk hal-hal yang bersifat mengesalkan.

’’Jadi, bagaimana sekolahmu tadi pagi?” tanya saya mengalihkan pembicaraan.
’’Baik-baik saja, Yah,” ujarnya tak acuh.
’’Belajar apa di sekolah?”
Ia tidak menjawab. Tatapannya dingin, lalu katanya pelan, ’’Nisa enggak belajar apa-apa.”
’’Lho? Kok enggak belajar apa-apa?” sahut istri saya.
Ia diam sejenak, lalu katanya lagi, ’’Jumat kemarin, Bu Guru memukul pantat teman Nisa.”
’’Emangnya kenapa? Mungkin teman Nisa nakal?” pancing saya lagi.
Ia mengambil buah rambutan yang tersedia di meja makan, mengupasnya dengan gigi lalu memakannya. ’’Dia enggak nakal, cuma salah ngomong doang.” Suaranya bergumam, kini mulutnya sudah penuh dengan buah rambutan.
’’Teman kamu ngomong apa?” tanya istri saya sambil menjulurkan wajah ke arahnya. Ia tidak menjawab.
’’Namanya siapa?” pancing saya lagi.
’’Alena,” jawabnya singkat.
Ia terdiam sesaat, kemudian lanjutnya, ’’Dia cuma salah ngomong, tapi Bu Guru memukul pantatnya lalu menyuruhnya berdiri di pojok kelas. Padahal dia cuma salah ngomong.”
’’Dia ngomong apa, Nisa?” tanya ibunya jengkel. Tapi ia beranjak dari kursi sambil mencomot seiris roti yang sudah diolesi mentega.
Keesokan harinya, Nisa mulai cerita lagi saat kami sekeluarga tengah menyantap makan malam. ’’Tadi Alena kena hukuman lagi. Bu Guru memukuli pantatnya berkali-kali. Bukan cuma sekali.”
’’Ya ampun, kenapa lagi dia, Nisa?” tanya saya spontan.
’’Dia salah ngomong lagi, Yah.”
’’Iya, tapi dia ngomong apa?” tanya saya sambil menghela napas.
’’Coba Ayah lihat ke atas… Mamah juga lihat ke atas….”
Dengan gaya seorang pemain drama, Nisa menatap serius ke langit-langit, dan kami sekeluarga menatap ke atas, termasuk kedua adiknya ikut-ikutan menatap ke atas juga.
’’Sekarang coba Mamah lihat ke bawah… Ayah juga, segera…!”

Seketika, tatapan kami berpindah ke bawah. Tiba-tiba Nisa berteriak lantang, “Dikibulin hey… dikibulin hey…!”
Dan ia pun tertawa terpingkal-pingkal.

***

’’Kenapa Alena dipukul Bu Guru?” saya bertanya di ruang TV dalam keadaan santai.
’’Karena dia memukul Bu Guru, Yah,” jawab Nisa singkat.
’’Lho? Jadi dia duluan yang memukul Bu Guru?”
’’Ah, Ayah masih enggak ngerti aja. Begini ceritanya...” Nisa menggeser posisi duduknya, menarik napas, dan lanjutnya. ’’Tadinya Bu Guru menyuruh dia menggambar dengan krayon. Dia disuruh menulis tiga angka besar di kertas karton. Tapi Alena menulis empat angka sekaligus ’’1965’’. Bu Guru bilang bahwa angka itu kelebihan, cukup tiga saja ’’196’’, terus Alena tetap ngotot harus menulis empat angka. Dia memukul bahu Bu Guru lalu Bu Guru membalasnya dengan memukul pantatnya. Setelah itu, dia mengancam agar semua murid tak usah ngajak ngomong sama Alena…”
’’Terus?”
’’Tapi tetap saja anak-anak senang ngomong sama Alena.”

Selang dua hari kemudian, Nisa bercerita bahwa Alena telah bikin ulah lagi di dalam kelas. Dia membuat pesawat dengan kertas lalu menerbangkannya hingga mengenai jidat Bu Guru. Ia disuruh maju ke depan untuk menulis huruf atau angka sebanyak-banyaknya di atas papan tulis. Tetapi, Bu Guru keberatan lagi karena huruf dan angka yang ditulisnya adalah G30S… G30S… G30S.

’’Alena!” teriak Bu Guru, “Apakah tidak ada huruf dan angka lain selain itu?”
Dia menjawab semaunya, “Saya suka menulis huruf dan angka ini… tapi kalau Bu Guru mau, saya bisa menggambar ini.” Nisa membuat sketsa kotak dengan gembar segitiga di atasnya. Ia menyontohkan gambar tersebut dengan jari-jarinya di atas meja makan. “Nah, apa ini?”
“Gambar kardus?” tebak saya.
“Bukan.”
“Gambar rumah-rumahan?” sahut istri saya.
“Juga bukan,” sambil menggelengkan kepalanya, “tapi gambar Perpustakaan Lubang Buaya.”
“Oo, jadi dia menggambar perpustakaan?” sahut istri saya dengan mata menerawang.
“Ya,” katanya mengangguk, “namanya Perpustakaan Lubang Buaya.”
“Oo, mungkin kepala sekolah kamu sedang membangun ruangan baru untuk perpustakaan, begitu?” tanya istri saya.
Nisa berdecak dan merasa jengkel, “Iih gimana, sih? Perpustakaan itu sudah ada sejak dulu, Mah.”
“Tapi apakah benar perpustakaan di sekolah kamu bernama Lubang Buaya?” tanya saya sangsi.
“Ya,” katanya mengangguk, “dan Alena senang sekali bermain-main di sekitar Perpustakaan Lubang Buaya itu. Tapi, dia malas membaca.”
“Oo begitu,” kata istri saya sambil mengerutkan kening.
“Kalau kamu, suka baca buku apa di perpustakaan?”
“Jenderal Tua dan Kucing Belang.”
“Buku apaan itu?” tanya saya terheran-heran.

Hari berikutnya Nisa cerita lagi bahwa Alena kena setrap disuruh berdiri di depan kelas, karena mencoret-coret buku absen. Besoknya, dia kena setrap lagi karena tak berhenti menghentak-hentakkan kakinya saat pelajaran berlangsung. Hari Jumat, ia dijemur saat jam istirahat, karena membuat kepala seorang temannya berdarah ketika ia melambungkan sebatang kayu saat bermain ungkit-ungkitan.

“Menurut Ayah, apakah pendidikan di sekolah itu baik buat Nisa?” tanya istri saya sambil berbisik pelan, “Sepertinya anak-anak sekarang kasar-kasar banget. Ngomongnya tak keruan, kelakuannya apa lagi? Saya khawatir jangan-jangan kelakuan Alena temannya itu, akan berpengaruh buat Nisa.”
“Enggak apa-apa lah, Mah.” kata saya sambil menghela napas, “Di sekolah manapun pasti ada saja yang berkelakuan seperti Alena. Justru lebih baik buat Nisa kalau dia sadar sekarang daripada nanti.”

***

Hari itu Nisa agak terlambat pulang sekolah. Ia membawa setumpuk berita buat kedua orang tuanya. “Si Alena… minta ampun… lagi-lagi dia berlarian di ruang Perpustakaan Lubang Buaya….”

Kami terdiam, membiarkan Nisa bicara panjang-lebar, “Tadi dia bikin ulah lagi di kelas. Waktu Bu Guru menyuruh anak-anak menggambar bebas. Banyak yang menggambar dua gunung sama matahari di tengah, lalu di bawahnya ada gambar pesawahan yang luas. Tapi si Alena, hihihi… Ayah tahu apa yang dia gambar?”

“Apa yang dia gambar?” tanya saya penasaran.
“Perpustakaan Lubang Buaya di samping sekolah kami.”

Kami menduga ceritanya cukup sampai di situ. Nisa makan dengan lahapnya, hingga sepiring habis. Tapi, setelah melepaskan tangannya dari piring dan sendok, tiba-tiba ia berteriak keras, “O iya, Nisa lupa! Jadi, setelah dia menggambar itu, dia mencoret-coret hasil menggambarnya, lalu dia meremas-remas kertas dan melemparkannya ke muka Bu Guru…”

“Bu Guru marah lagi dong?”
“Tentu aja, Yah.”
“Kena strap lagi dia?” tanya istri saya ketus.
“Enggak tahu. Waktu istirahat anak-anak disuruh main keluar, tetapi Alena disuruh diam sendirian di kelas, supaya enggak ada anak-anak yang mengajak main dengan dia.”
“Terus?”
“Setelah itu, ketika jam pelajaran selesai, tetap saja anak-anak senang bermain-main dengan Alena.”

***

“Halo komandan!” Keesokannya, setelah istri saya menyiapkan makan malam, Nisa langsung menyapa saya, “Makan malam sudah siap!” teriaknya lagi.
“Baik, Ibu jenderal,” jawab saya sambil bersejingkat dari ruang teve.
Seraya menjulurkan wajah ke arahnya, selesai makan saya bertanya serius, “Nisa, Ayah pengen tahu seperti apa sih Alena itu? Kayaknya dia nakal banget?”
“Sebenarnya dia enggak nakal banget, Yah, tapi kadang-kadang jail dan iseng, hihihi…”
“Maksud Ayah, orangnya seperti apa, tinggi atau pendek?”
“Yah, kurang lebih sama tingginya dengan Nisa,” katanya tak acuh.
Pada hari Minggu, sekolah mengadakan acara pertemuan wali murid dengan para guru selaku wali kelas. Tapi sayang sekali, hari itu kami tak sempat hadir karena harus membawa si bungsu Azka ke dokter lantaran terserang flu dan demam. Padahal, saya berharap sekali untuk berjumpa dengan orang tua Alena.
“Menurut Nisa, hukuman apa yang pantas diberikan buat Alena supaya dia menjadi anak penurut?” tanya istri saya sambil merapikan baju seragamnya.
“Sebaiknya dikeluarkan saja dari sekolah.”
“Ha! Dikeluarkan? Maksudnya, jangan sekolah di situ lagi?”
“Iya.”

Coba bayangkan, hari Selasa dia teriak-teriak lalu disetrap supaya berdiri di depan kelas. Hari Rabu dia membuat kapal-kapalan waktu teman-temannya sibuk menulis. Hari Kamis dia menghamburkan segenggam pasir ke arah temannya, hingga mengenai baju Bu Guru. Jumat dia disuruh membersihkan kelas karena melempar Bu Guru dengan pinsil. Hari Sabtunya disetrap lagi karena salah ngomong.

“Salah ngomong lagi?” tanya saya.
“Iya, Bu Guru marah kalau dia salah ngomong.”
Suasana hening, lalu saya membuka percakapan baru, “Alena enggak ke perpustakaan lagi?”
“Dia tetap main-main di Perpustakaan Lubang Buaya, tapi dia malas baca, Yah.”
“Lalu, Nisa sendiri, kenapa enggak mau baca buku di perpustakaan?” protes istri saya.\
“Siapa bilang?” katanya membela diri. “Nisa udah bilang ke Ayah bahwa Nisa sering baca buku di Perpustakaan Lubang Buaya?”
“Buku apa?” sahut istri saya jengkel.
“Itu, yang kemarin sudah dibilang, Jenderal Tua dan Kucing Belang.”
“Buku karangan siapa itu?”
“Taufik Ismail,” jawabnya tak acuh.
“Lho? Bukannya buku itu buat orang dewasa?”
“Enggak apa-apa, Nisa cuma lihat gambarnya doang, kok.”
“Kalau Alena?” tanya istri saya.
“Enggak tahu, dia mungkin sudah baca semua isi buku itu.”

Lama kelamaan nama “Alena” telah menjadi kosa-kata baru dan menarik di tengah keluarga kami. Kalau adiknya memenuhi mobil mainannya dengan pasir lalu membawanya ke rumah hingga mengotori lantai, kontan saya bilang, “Jangan nakal kamu, Nak, kayak Alena saja.” Istri saya pun begitu. Kalau si bungsu menumYahkan susu dari botol, serta-merta ia mengatakan, “Duuh nakalnya, jangan kayak Alena ah!”

Bahkan, sewaktu saya menyenggol vas bunga dan terjatuh dari atas meja, istri saya langsung menyemprot, “Ayah enggak lihat apa? Matanya itu kayak mata Alena saja….”

Beberapa minggu berlalu. Di hari Rabu, Nisa melangkah santai sepulang dari sekolah. Tiba-tiba, ia memberi kabar gembira pada kami, “Hari ini Alena menjadi anak baik di kelas, Yah. Teman-teman juga rada heran, sebab Bu Guru malah memberinya hadiah jeruk.”

“Apa?” istri saya terheran-heran, “Maksud kamu, Alena?”
“Iya Alena, tadi dia membagi-bagikan buku abjad ke anak-anak di kelas, lalu mengumpulkan kertas-kertas gambar dan menaruhnya ke meja guru. Setelah selesai, Bu Guru memanggil dia sang asisten. Emang asisten itu apa sih, Mah?”
“Pembantu.”
“Bukan pembantu,” kata saya meluruskan, “tapi wakilnya. Wakil terbaik.”
“Jadi, Alena ditunjuk sebagai asisten guru? Kok bisa sih?” Saya dan istri merasa heran dan saling berpandangan.
“Iya, dia diangkat jadi asisten. Itu saja,” katanya sambil mengangkat pundaknya.
“Kira-kira benar apa yang dikatakan Nisa itu, Yah?” bisik istri saya di tempat tidur. “Apa mungkin bocah kecil seumur Alena tiba-tiba berubah begitu cepat?”
“Kita lihat saja perkembangannya,” kata saya dengan tatapan menarawang. “Tapi mengingat kelakuan Alena sebelumnya, bisa jadi dia hanya pura-pura baik.”

Dugaan saya meleset. Sebab, selama beberapa hari ke depan Alena memang telah menjadi murid kepercayaan Bu Guru. Hampir tiap hari dia membagi-bagikan bahan pelajaran ke teman-temannya, kemudian mengumpulkan hasil pekerjaan rumah. Sekarang, nyaris dia tak pernah kena setrap atau hukuman lagi. Malah, beberapa hari lalu, Bu Guru membagikan sekotak permen buat anak-anak, tapi bagian Alena justru memperoleh dua buah permen.

***

“Minggu depan ada pertemuan para wali murid dengan wali kelas,” kata istri saya sambil menyodorkan undangan, “Saya mau coba kenalan sama ibunya Alena.”
“Oke, kita berangkat bareng, Mah. Nanti Mamah tanyakan pada ibunya, apa yang terjadi pada Alena, sampai dia bisa berubah,” kata saya tenang.
“Saya juga penasaran, Yah.” ujarnya lagi.
Di hari Sabtu berikutnya, semuanya kembali normal. Setelah bergabung di meja makan, suara Nisa agak terengah-engah, “Coba tebak, apa yang dilakukan Alena hari ini?”
“Pasti dia mendapat hadiah lagi?” sahut saya.
“Bukan… bukan itu…” ia menarik napasnya sejenak, kemudian menurunkan nada suaranya, “Dia menyuruh salah seorang teman laki mengucapkan satu kata yang dia bisikkan ke telinganya. Lalu, temannya itu berteriak mengucapkan kata itu. Bu Guru marah sambil menyuruh dia mencuci mulutnya dengan sabun, lalu Alena tertawa terbahak-bahak, hahaha….”
“Kata apa?” tatap saya erat-erat, “Kata apa yang diteriakkan teman lakinya itu, Nisa?”
“Oke, saya mau membisikkan ke Mamah aja,” ia menjulurkan mulutnya ke telinga istri saya, “karena kata ini memang kurang pantas diucapkan,” sambungya lagi.
Seketika istri saya terkaget-kaget dengan mata terbelalak, “Jadi, Alena minta temannya untuk mengucapkan kata itu?”
“Iya, Mah, malah dia berteriak sampai dua kali,” kata Nisa. “Tapi Alena yang nyuruh.”
“Lalu, Alena jadi kena setrap lagi?” tanya istri saya.
“Enggak, baik-baik aja. Setelah itu Alena membagi-bagikan buku abjad ke teman-teman.”

***

Ketika hari pertemuan wali murid tiba, saya membisikkan sesuatu pada istri saat memasuki ruang pertemuan, “Mah, ajak saja Ibu Alena ke rumah. Kita masih punya banyak cokelat dan kue nastar, nanti pulangnya kita bungkusin aja, gimana?”

“Mudah-mudahan dia hadir di pertemuan ini,” kata istri saya berharap.
“Tentu dia bakal hadir,“ tegas saya dalam hati.

Di ruang pertemuan, saya merasa canggung dan resah. Saya melihat istri saya mencari-cari di setiap wajah perihal petunjuk yang menentukan bahwa ialah yang mengetahui semua rahasia tentang Alena. Tapi, sepertinya tidak ada dari ibu-ibu yang tampak memiliki kesamaan dengan watak Alena yang selama ini diceritakan oleh Nisa. Juga tidak ada yang berdiri di tengah pertemuan untuk meminta maaf atas kelakuan anaknya. Bahkan, juga tidak ada yang menyebut-nyebut nama Alena.

Sampai pertemuan berakhir, saya segera mencari dan menemukan wali kelas Nisa. Bu Guru itu sedang memegang secangkir teh sambil menikmati donat keju di tangan kirinya. Sementara, saya memegang secangkir kopi yang tinggal setengahnya, lalu kami saling bertukar sapa sambil tersenyum.

“Sudah lama saya ingin bertemu dengan Ibu, tapi sebelumnya saya mohon maaf atas kesibukan saya akhir-akhir ini,” kata saya memulai percakapan, “Saya ayahnya Nisa.”
“Oo iya,” katanya antusias, “terimakasih atas kehadirannya, Pak, kami semua senang sekali mengajar Nisa di kelas.”
“Ya sama-sama, Bu. Sepertinya anak saya juga suka sekali diajar oleh Ibu. Dia sering bercerita tentang Ibu di rumah.”
“O ya?” katanya bangga. “Memang pada bulan-bulan pertama dia belum bisa beradaptasi di sekolah. Tapi setelah melewati semester pertama di kelas 2, dia sudah baik-baik saja. Walaupun kadang-kadang masih ada juga nakalnya.”
“Ya, mudah-mudahan anak saya itu bisa cepat beradaptasi. Semoga saja Bu Guru diberi ketabahan dan kesabaran.”
“Mudah-mudahan. Amin.”
“Tapi kalau pada bulan-bulan awal dia nakal di kelas, saya mohon Ibu bisa memakluminya. Barangkali karena pengaruh dari temannya Alena itu.”
“Alena?”
“Ya,” tegas saya lagi, “Barangkali Bu Guru sebagai wali kelas, merasa kewalahan menghadapi anak satu itu.”
“Alena?” tanya Bu Guru dengan dahi mengerut, “Maaf, Pak, di kelas kami tidak ada yang namanya Alena?”
Sambil menghela napas, tatapan saya terbengong-bengong. Seketika, saya minta diantar ke ruang kepala sekolah, sambil menanyakan adakah bangunan “Perpustakaan Lubang Buaya” di sekolah itu.
“Kami tak pernah membangun ruang perpustakaan yang bernama Lubang Buaya,” jawab kepala sekolah. “Selama kami mendirikan sekolah ini sejak sepuluh tahun lalu, kami hanya mendirikan satu ruang perpustakaan yang kami namakan ‘Perpustakaan Bung Karno’ yang terletak di serambi kiri bangunan sekolah ini.”

Kepala sekolah segera mengajak saya ke lokasi perpustakaan yang dimaksud, dan tak pernah saya temukan adanya ruang perpustakaan yang bernama “Perpustakaan Lubang Buaya”. Lalu, Alena itu siapa? Dan Perpustakaan Lubang Buaya itu di mana?

Yang saya tahu, di negeri ini hanya ada Museum Lubang Buaya, yang sengaja dibangun penguasa Orde Baru untuk menakut-nakuti dan membodohi rakyat. Bahkan, lebih dari tiga dekade, nalar dan akal sehat bangsa ini telah dilumpuhkan, sehingga merasa kesulitan untuk membedakan mana fakta dan mana yang sekadar fiksi belaka.

Lalu, buku Jenderal Tua dan Kucing Belang, yang katanya sering dibaca Nisa? Buku apaan itu? Benarkah Taufik Ismail pernah menulis buku semacam itu? Tapi, bukankah buku itu sering disebut-sebut juga oleh banyak media nasional maupun daerah, baik luring maupun daring di negeri ini? Sudahkah para wartawan dan sastrawan kita punya kemauan dan itikad keras untuk menelusuri jejak keberadaannya? Apakah masih tetap bangsa ini berputar-putar di sekitar fiksi dan ilusi belaka? (*)

(Cerpenis adalah pengamat sosial budaya dan peradaban masyarakat Indonesia) Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #penulis #alena #trawas #pacet #kerajaan majapahit #cerita pendek #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #cerpen #trowulan #onde-onde