Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pesona Seni Islami di Mojokerto, Tarian Sufi Menari Sembari Berzikir

Fendy Hermansyah • Minggu, 16 April 2023 | 18:17 WIB
MISTIK: Seorang pria membawakan tarian sufi saat gelaran grand final Pildarama 2023 JPRM Piala Bupati di Pendapa Majatama Pemkab Mojokerto, Kamis (13/4). (Sofan Kurniawan/JPRM)
MISTIK: Seorang pria membawakan tarian sufi saat gelaran grand final Pildarama 2023 JPRM Piala Bupati di Pendapa Majatama Pemkab Mojokerto, Kamis (13/4). (Sofan Kurniawan/JPRM)
BULAN Ramadan menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seiring dengan meningkatnya aktivitas keagamaan, sejumlah penampilan seni Islami melengkapi bulan suci ini. Bahkan, kesenian tersebut menjadi media berdzikir sekaligus dakwah bagi umat muslim di bulan Ramadan.

Hal tersebut salah satunya melalui tarian sufi, seperti yang ada di Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Qurro' Wal Munsyidin. Para penari yang merupakan santri dan santriwati berzikir selama berputar melawan arah jarum jam untuk membawakan tarian asal Turki. ’’Bagi penari sendiri, apalagi di sini masih ada yang usia anak, ini sekaligus mengajarkan anak untuk berzikir. Selain membentuk pribadi yang santun, ini jadi salah satu media mengingatkan anak kepada Allah SWT,’’ ungkap pemangku sanggar sekaligus pengasuh Ponpes Roudlotul Qurro' Wal Munsyidin, Ustaz Muhammad Nurul Huda.

Lebih lanjut, tarian whirling dervishes yang dipelopori penyair asal Persia, Maulana Jalaluddin Rumi, ini sekaligus menjadi media dakwah kepada para penonton. Pasalnya, ada pesan tersirat dari busana yang dikenakan para penari. Tenur (busana khas sufi) putih yang diibaratkan sebagai kain kafan dan sikke (topi khas sufi) sebagai batu nisan. Hal tersebut mengingatkan pada penonton akan datangnya kematian sewaktu-waktu.

’’Jadi ini mengingatkan penonton pada kematian supaya mereka ingat untuk berzikir dan dekat atau tidak lupa dengan Allah SWT. Memang paling mudah itu mengingatkan seseorang dengan kematian,’’ beber pengasuh ponpes yang berdiri di Dusun Semanggi, Desa Salen, Kecamatan Bangsal, ini. Apalagi, berzikir dan dakwah tersebut dilakukan di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah dan penuh berkah.

Pihaknya mengaku, selama edisi Ramadan kali ini anak asuhnya sudah beberapa kali manggung untuk berzikir sekaligus berdakwah tersebut. Bahkan, mereka tampil di beberapa acara di luar Mojokerto. ’’Selain di Mojokerto, untuk tampil ini masih di wilayah Jawa Timur saja seperti Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo,’’ sebutnya.

Kedepan, lanjut Ustaz Huda, pihaknya bakal terus menyempurnakan dan mengembangkan tarian yang sudah ada sejak abad ke-13 masehi ini. ’’Untuk di Mojokerto, tarian sufi memang masih jarang. Oleh sebab itu, kami ingin sufi di sini seperti di Turki yang punya musik (pengiring) khusus supaya lebih sakral. Karena selama ini di sini memang dikombinasikan dengan musik gambus atau salawat,’’ tandasnya. (vad/fen)


Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #mudik #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #lebaran #pacet #tarian sufi #kerajaan majapahit #sufi #Kota Mojokerto #ramadan #mojokerto #seni islami #soekarno #trowulan #onde-onde