Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pastor dan Wanita Badui

Fendy Hermansyah • Minggu, 5 Maret 2023 | 19:09 WIB
Ilustrasi cerpen Pastor dan Wanita Badui. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
Ilustrasi cerpen Pastor dan Wanita Badui. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
Oleh: Irawaty Nusa, Esais dan cerpenis, menjadi peneliti pada program Historical Memory Indonesia.

DI dalam gereja yang disinari cahaya redup, seorang pastor berusia lima puluh tahun nampak berlutut di depan altar, menundukkan kepala dan berdoa. Gereja itu peninggalan pemerintah Hindia Belanda, berdiri di daerah Lewidamar, perbatasan antara kabupaten Lebak dengan pemukiman orang-orang Baduy.

SI Pastor memiliki dahi sempit, tulang pipi menonjol dan berjanggut tipis. Ujung jubahnya menyapu permukaan lantai. Terlihat rosarionya yang berwarna biru muda terjuntai. Suasana gereja sangat sunyi dan senyap. Pastor itu nampak tak bergerak, duduk bersimpuh dalam waktu yang cukup lama.

Seorang perempuan Badui datang dari arah selatan kemudian berdiri di depan pintu sambil melihat-lihat suasana sekitar gereja. Ia adalah istri mendiang Puun Sadi, seorang kepala suku yang memerintah suku Badui di daerah Cikeusik selama puluhan tahun. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu karena terserang wabah penyakit. Perempuan itu sebenarnya cantik namun terlihat tua dan tirus, meskipun umurnya masih sekitar 40-an tahun. Mukanya pucat dan matanya sembab. Ia pintar berbahasa Indonesia meskipun dengan aksen dan logat Sunda kawitan yang keras dan kasar melengking.

Setelah menoleh ke wadah tempat diletakkan air suci di pintu masuk, perempuan itu perlahan memasuki ruang gereja. Terkejut melihat si pastor di depan altar, perempuan itu menghentikan langkahnya. Karena menyadari bahwa pastor itu sedang khusyuk berdoa, ia memutuskan untuk tetap berdiri di tempat.

Tak lama kemudian, sang pastor selesai berdoa. Ia menatap perempuan Badui itu dengan seksama, penuh cinta-kasih, dan sepertinya perempuan itu hendak menyampaikan sesuatu. Dengan senyumnya yang lembut, sang pastor bertanya, ’’Apa yang bisa saya bantu, Ibu?’’

’’Pak, saya ingin minta pertolongan,’’ jawab perempuan itu sambil menghela napasnya. Meskipun berpakaian sederhana, rambutnya tergerai indah, dan dia membungkuk ketika membalas pertanyaan orang bijak itu. Sang pastor balas membungkuk dengan santun, menggenggam rosarionya sambil tersenyum ramah. Perempuan itu dipersilakan duduk di salah satu bangku yang tersedia, kemudian sang pastor duduk di sebelahnya dengan penuh rasa empati.

’’Silakan Ibu, jangan ragu-ragu, katakan saja terus-terang, apa yang bisa saya bantu.’’

Perempuan itu membetulkan posisi duduknya, dengan suara mendesaah ia berkata, ’’Nama saya Marsa. Saya adalah janda Puun Sadi dari kampung Cikeusik. Putera saya Daru, sekarang sedang sakit parah…’’ Ia berhenti sejenak, lantas melanjutkan perkataannya seakan sedang membaca sebuah cerita. Sejak musim penghujan, puteranya yang berusia empat belas tahun itu jatuh sakit tanpa ada sebab yang jelas. Ia batuk-batuk, demam tinggi dan kehilangan selera makan. Marsa telah mengupayakan penyembuhan tetapi hasilnya nihil. Anaknya pernah dibawa berobat ke dukun dan tabib, juga berkali-kali berobat ke dokter yang bertugas di perbatasan Ciboleger, tapi belum juga ada hasilnya.

Saat ini, kondisi anaknya semakin parah. Ia mendengar kabar bahwa layanan kesehatan milik gereja dapat menyembuhkan orang-orang sakit, bahkan sanggup menyembuhkan penyakit kusta dan lepra. Jadi, perempuan itu sangat berharap bahwa sang pastor dapat menyembuhkan penyakit anaknya.

’’Saya minta Bapak datang ke Cikeusik agar memeriksa putera saya,’’ ia menatap mata pastor dengan tajam. Tatapannya itu seakan tidak menyiratkan permohonan untuk dikasihani, juga tidak terlihat adanya perasaan kalut dan panik.

’’Baiklah, saya akan coba menjenguknya,’’ jawab si pastor mengangguk. Tapi kemudian, ia menimbang-nimbang jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki ke wilayah Badui Dalam. Perempuan itu telah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam untuk sampai ke gereja. Dengan demikian, si pastor kurang yakin ia mampu menempuh jarak sejauh itu dengan hanya berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan apapun.

’’Apakah bisa anak Ibu dibawa ke sini?’’ tanya pastor kemudian.
’’Wah, itu tidak mungkin, Pak, untuk berdiri saja dia tidak bisa.’’
’’Kalau begitu, nanti kita berangkat bersama-sama.’’

Mata perempuan Baduy itu bersinar dengan penuh sukacita. Ia mengharap pertolongan bagi kesembuhan tubuh dan jiwa anaknya. Karena bagaimanapun, tubuh adalah rumah bagi jiwa. Jika jiwanya baik, maka rumahnya juga akan ikut terawat dengan baik. Barangkali, perempuan Baduy itu adalah anugerah yang disodorkan Tuhan untuk menguji keimanan dan kesabarannya, serta untuk suatu maksud dan tujuan yang mulia.

*


Dalam pandangan pastor, perempuan Badui yang semula berwajah muram bagai topeng Noh, kini telah menjelma Bunda Maria yang menyusui Kristus di palungan. Perempuan itu seakan bukan lagi dari suku Badui yang bawel dan ceriwis, juga bukan lagi janda seorang Puun dari daerah Cikeusik yang beragama Slam Wiwitan, tetapi telah berwujud Ratu Surgawi nan murah hati dan penuh kelembutan yang mempesona.

’’Tenang saja, Ibu Marsa, saya akan berusaha dengan semaksimal mungkin agar penyakit anak Ibu bisa hilang. Kami akan merawatnya di sini. Kami akan memberi pelayanan yang terbaik untuk anak Ibu,’’

Dengan lembut si perempuan menyela, ’’Pokoknya tolong Bapak periksa dan sembuhkan anak saya. Nanti setelah dia sembuh dan pulih seperti semula, kami akan memasrahkan diri kepada Gusti Numahakawasa,’’
Pastor itu terkejut, ’’Siapa itu, Gusti Nu… apa tadi?’’

’’Gusti Numahakawasa, yang menciptakan dan menguasai kita semua.’’
Kata-kata itu mengundang kekesalan pada diri pastor. Ia menatap tajam ke arah perempuan itu sambil menggelengkan kepalanya.

’’Begini, Bu Marsa yang baik,’’ ia menggenggam rosarionya keras-keras, berdehem beberapa kali dan lanjutnya, ’’Ibu harus hati-hati pada Gusti Numahakawasa itu atau gusti-gusti lainnya. Ibu juga harus hati-hati pada berhala-berhala di sekitar Badui Dalam, atau segala tetek-bengek sesembahan pada leluhur Badui. Ketahuilah Bu, hanya ada satu Tuhan yang benar, yaitu Tuhan yang ada di Surga. Nyawa puteramu berada dalam tangan Tuhan, bukan di tangan berhala-berhala itu. Kalau Ibu benar-benar kasihan dan peduli pada anak Ibu, berhentilah menyembah berhala-berhala dan tinggalkan tuhan yang bernama Gusti Numahakawasa itu!’’

Perempuan itu terheran-heran mendengar petuah pastor yang masih saja terus bicara, ’’Bagaimanapun Ibu harus percaya pada Tuhan yang benar. Tidak ada Tuhan lain selain Yesus yang lahir di Betlehem. Kalau Ibu mengira ada Tuhan lain selain Yesus, berarti itu bukan Tuhan melainkan Iblis! Ketahuilah, Iblis itu hanya jelmaan malaikat yang dibuang dari Surga. Yesus disalib untuk menebus dosa-dosa kita. Pandanglah sosok Yesus yang agung!’’

Si Pastor menunjuk lukisan yang terpampang di dinding, yakni lukisan Yesus yang sedang disalib. Di bawah salib terlihat Maria dan murid-Nya. Sambil mengatupkan tangan, perempuan Badui itu menatap lukisan dan berkata, ’’Oo, jadi ini Tuhan yang disalib itu? Baiklah Pak, tidak apa-apa, saya berdoa pada Tuhan yang disalib ini agar anak saya diberkati, dan bisa segera pulih dari penyakitnya.’’

Suara perempuan itu terdengar tenang, namun mengandung gejolak emosi yang dalam. Si pastor yang merasa menang dan bangga semakin lancar berkotbah, ’’Jadi, Yesus lahir di dunia untuk memurnikan kita dari dosa dan menyelamatkan jiwa kita. Ibu Marsa, dengarkan baik-baik kisah hidup-Nya,’’

Pastor itu kemudian bercerita panjang-lebar dengan semangat disertai hawa nafsu. Ia bicara tentang malaikat yang mengabarkan bahwa Maria akan mengandung, kelahiran Yesus di palungan, tiga orang bijak yang membawa persembahan, anak-anak yang dibunuh Herodes, santo Yohanes Pembaptis, kotbah di atas bukit, mukjizat air menjadi anggur, Yesus menyembuhkan orang buta, Yesus mengusir iblis yang merasuki Maria Magdalena, Yesus membangkitkan Lazarus, Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai betina, perjamuan terakhir, doa Yesus di Getsemani, bahkan Yesus yang berjalan-jalan di atas air, dan seterusnya dan sebagainya.

*

Mata perempuan Badui itu memerah, menahan rasa kantuk, tetapi khotbah sang pastor belum juga kunjung usai, ’’Coba Ibu bayangkan tentang Tuhan Yesus, bagaimana Ia disalib di antara dua perampok. Bayangkan, penderitaan dan kesedihan yang dialami-Nya. Jadi, hanya membayangkannya saja membuat kita merinding dan gemetar. Apalagi kalau kita mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Yesus, Eli, Eli, lama sabachtani…. Ibu tahu artinya?’’

’’Tidak,’’ perempuan itu menggeleng tak acuh.
’’Itu artinya, Allah mengapa Kau tinggalkan daku?’’

Si pastor tiba-tiba berhenti bicara. Perempuan Badui itu menatap dingin. Mukanya pucat dan memerah, kemudian tatapannya berubah menjadi tajam dan garang. Tatapan itu dipenuhi rasa dongkol dan penuh kebencian. Si pastor merasa terkejut dan diam terpaku. Lalu, perempuan Badui itu mengibaskan rambutnya yang panjang, dan berkata ketus, ’’Kalau Bapak ingin tahu, suami saya itu Puun Sadi, dulunya seorang jawara keturunan para raja di daerah kami. Dia tak pernah gentar menghadapi musuh. Leluhurnya Raja Pucuk Umun berani mengangkat senjata menghadapi perlawanan tentara-tentara Sultan Hasanuddin dari Cirebon di wilayah Banten Girang. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata pengecut seperti Tuhanmu itu! Dia juga tidak pernah gentar dan takut pada siapapun! Lalu, untuk apa saya percaya pada ajaran orang yang pengecut,’’

Ia menatap rosario yang menjuntai dengan perasaan kesal, dan lanjutnya kemudian, ’’Lalu Anda sendiri, sebagai pengikut seorang yang pengecut ini, tidak bakal pernah melihat anak saya Daru, putera Puun Sadi yang terkenal sebagai patriot dan pahlawan bagi suku kami. Putera saya lebih baik memilih mati ketimbang diobati seorang pengecut. Kalau saja saya mengetahui sebelumnya, tidak bakal saya datang ke sini. Sungguh-sungguh saya menyesal, Pak!’’

Sambil menahan air matanya, perempuan Badui itu segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan gereja peninggalan Hindia Belanda itu. Sementara sang pastor berdiri terpaku dengan tatapan terbengong-bengong. (*)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #wanita #badui #Kota Mojokerto #mojokerto #pastor #soekarno #cerpen #trowulan #onde-onde