Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Cincin untuk Ibu

Fendy Hermansyah • Minggu, 26 Februari 2023 | 12:21 WIB
Photo
Photo
Oleh: Eva Putriya Hasanah

SEKITAR pukul sepertiga malam, aku terbangun dari tidurku karena suara berisik yang terdengar dari arah dapur. Suara itu seperti suara alat untuk membuat adonan kue. Aku pun bergegas bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah dapur. Aku sangat terkejut ketika aku melihat ibu sudah bangun dan sudah sibuk dengan pekerjaannya.
’’Ibu...,’’ Aku memanggil pelan Ibu dan berjalan mendekatinya.

’’Kamu sudah bangun toh, Nduk?’’
’’Iya bu. Ibu sendiri kenapa jam segini sudah bangun?’’
’’Kamu ini bagaimana toh, Nduk. Setiap hari Ibu memang harus bangun pagi-pagi untuk membuat kue-kue pesanan pelanggan,’’.
’’Pagi-pagi nanti kan bisa bu?’’
’’Ya nggak bisa toh, Nduk. Kue-kue ini kan harus diantar pagi-pagi sekali. Nanti kalau ibu mengecewakan pelanggan terus nggak ada yang pesan kue sama Ibu, bayar sekolahmu pakek apa?’’
Aku terharu mendengar perkataan Ibu. Memang sejak ayah meninggal dua tahun lalu Ibu harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
’’Aku bantu ya, Bu!’’
’’Nggak usah, Nduk. Besok kan kamu harus sekolah!’’
’’Nggak apa-apa, Bu!’’
’’Sudah, kamu kembali ke kamarmu saja, nanti kalau sudah subuh Ibu bangunin kamu!’’

Ibu melarangku untuk membantunya dan dia menyuruhku untuk tidur lagi. Aku pun menurutinya dan kembali ke tempat tidur. Karena masih teringat perkataan Ibu tadi yang membuatku sangat terharu, Aku menjadi susah memejamkan mata. Aku merasa jika Aku sangat beruntung menjadi anaknya.

Tidak terasa cahaya matahari pagi terlihat mulai menyapa. Aku yang sudah siap pergi ke sekolah segera berpamitan pada Ibu.

’’Bu, Angel berangkat dulu, ya!’’ ucapku sambil mencium tangan ibu.
’’Iya, Nduk. Hati-hati di jalan!’’
’’Iya, Bu!’’

***

KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!!!!!!!!!!!!
Sesampaiku di sekolah, tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Aku berlari memasuki kelas. Seperti biasa saat ku memasuki kelas, terlihat Dona yang menyambutku dengan ramah. Ketika Dona membuka tasnya untuk menyiapkan buku pelajarannya, mataku tertuju pada sebuah kotak berukuran sedang bewarna pink dengan kombinasi biru laut yang cantik pada tas Dona.

’’Dona, kotak apa itu?’’ tanyaku pada Dona.
’’Maksud kamu kotak ini?’’ Dia mengambil kotak itu dari dalam tasnya kemudian memperlihatkannya padaku.
’’Iya, buat apa?’’
’’Seperti kado ulang tahun’’.
’’Kamu benar, ini memang sebuah kado ulang tahun. Kado ini untuk mama, hari ini dia ulang tahun, niatnya si bikin kejutan kecil-kecilan gitu!’’
’’Oh!’’
’’Nanti sepulang sekolah ikut aku ya cari kue buat mama!’’
’’Oke!’’

Aku tiba-tiba saja ingat jika dua minggu lagi Ibu juga ulang tahun. Aku ingin sekali membelikannya kado tapi Aku tidak punya uang untuk membelikannya sesuatu, hati menjadi sangat sedih. Kesedihanku semakin bertambah karena teringat jika Aku ingin sekali mengganti cincin Ibu yang dulu pernah ia jual untuk membayar biaya sekolahku. Padahal cincin itu satu-satunya peninggalan almarhum ayahku untuk Ibu. Huuuuh dadaku semakin sesak rasanya.

***

Sepulang sekolah Aku mengantar Dona ke toko kue. Saat kami pulang, Aku melihat toko emas dan tanpa kusadari kakiku membawaku ke dalam toko emas itu. Dengan tampang seperti akan membeli sesuatu, Aku melihat-lihat cincin yang tertata rapi di dalam sebuah lemari berkaca. Aku semakin sedih mengingat tak bisa membelikan Ibu sebuah cincin.

’’Angel, ada apa?’’ Dona bertanya padaku yang sedang terlihat sangat sedih. Aku pun menggeret Dona untuk keluar dari toko emas itu.
’’Ada apa, sih. Kamu belum menjawab pertanyaanku?’’ Dona bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nadanya sedikit tinggi padaku.
’’Aku lagi sedih Don,’’ kupasang wajah melas sambil menatap pada Dona.
’’Sedih kenapa?’’
’’Sebentar lagi ibuku juga ulang tahun tapi aku nggak punya uang untuk membelikannya kado!’’
’’Soal itu, kamu tenang aja kan kamu bisa pinjam uangku. Kamu bisa menggantinya nanti kalau kamu sudah punya uang,’’
’’Nggak usah deh Don. Nanti aku malah jadi ngerepotin kamu lagi!’’ Aku menolak tawaran Dona.
’’Nggak apa-apa, atau gini saja, gimana kalau kamu kerja?’’
’’Kerja?’’
’’Iya kerja,’’ Dona sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
’’Tapi kerja apa, aku kan juga harus sekolah?’’
’’Kamu bantu-bantu di rumahku saja, kebetulan salah satu pembantuku ada yang pulang kampung. Tapi, tenang saja kamu nggak sendirian kok masih ada Bu Ijah jadi kamu hanya sekedar bantu-bantu saja di rumah. Kamu kerjanya sepulang sekolah. So, nggak akan mengganggu sekolahmu kan?’’
’’Sip, ide yang bagus, terima kasih, ya?’’
’’Iya, sama-sama,’’

Itulah Dona dia selalu membantuku di saatku tengah kesusahan. Aku sangat bersyukur bisa berteman dengannya, meskipun dia berasal dari keluarga yang lumayan kaya tapi dia tetap mau berteman denganku dan menghargaiku.

Keesokan harinya sepulang sekolah Aku langsung pergi ke rumah Dona. Namun sebelum itu, Aku sudah berpamitan pada Ibu jika Aku tidak langsung pulang karena harus mengerjakan tugas dengan Dona. Sebenarnya berat jika harus berbohong, tapi ku lakukan ini agar dia tak tahu jika Aku akan membuat sebuah kejutan untuknya. Begitupun keesokan harinya lagi dan seterusnya. Hampir dua minggu aku selalu berpamitan pada Ibu dengan alasan yang berbeda-beda, mulai dari mengerjakan tugas sampai menjenguk teman yang sedang sakit. Sampai akhirnya Ibu terlihat mulai curiga.

’’Nduk, sepulang sekolah kamu mau pergi kemana lagi?’’ Nada bicara Ibu seperti menunjukkan kecurigaan padaku.
’’Eemh..Itu, Bu. Eh..mau..itu!’’ Aku sangat bingung mau memberikan alasan apalagi sama Ibu.
’’Kemana, Nak?’’
’’Oh iya, Bu. Dona kemarin minta tolong sama Angel agar menemani dia di rumah dulu karena orang tuanya sedang ada kerjaan di luar kota’’.
’’Kamu tidak berbohong, kan?’’
’’Ya, nggak-lah, Bu’’
’’Oh, iya. Ibu hanya merasa akhir-akhir ini kamu sering sekali tidak langsung pulang,’’
’’Maaf ya, Bu. Angel akhir-akhir ini memang lagi banyak sekali kerjaan di luar!’’ Aku mencoba untuk meyakinkan Ibu.
’’Ya sudah. Sekarang kamu berangkat dulu, nanti kamu telat lagi sekolahnya!’’
’’Siap, Bu!’’

***

Tidak terasa sudah dua minggu Aku bekerja di rumah Dona. Dan, tiba waktunya Aku memberikan kejutan untuk Ibu. Aku begitu senang karena uang yang ku peroleh dari kerja di rumah Dona sangatlah cukup untuk membelikan ibu sebuah cincin. Sepulang sekolah Aku bersama Dona pergi ke toko emas untuk membelikan Ibu cincin. Tidak hanya itu, Aku merelakan uang tabunganku untuk membelikan Ibu kue. Ku lakukan itu demi kebahagiaannya.

***

Tidak terasa matahari mulai tenggelam. Aku yakin Ibu pasti sedang khawatir denganku. Sebenarnya Aku memang sengaja membuatnya khawatir agar dia tidak tahu dengan semua rencanaku untuknya. Aku pun pulang ternyata dugaan ku benar. Di teras rumah, Aku melihat Ibu yang sedang kelihatan begitu khawatir menungguku.

’’Kejutan!’’ Ibu terkaget melihatku.
’’Selamat ulang tahun, ya, Bu!’’
Perlu beberapa menit lagi untuk Ibu mengucapkan sesuatu. Mata Ibu terlihat berkaca-kaca dan akhirnya dia memelukku.
’’Terima kasih, ya, Nak!’’
’’Iya, Bu. Tiup lilinnya dulu donk, Bu. Tapi jangan lupa berdoa dulu, ya!’’
’’Ibu berdoa agar kamu jadi anak yang pandai, berbakti pada kedua orang tua dan agar kamu selalu bahagia!’’
’’Amin’’.
Setelah Ibu selesai meniup lilin aku memberikan kado yang kubungkus dengan kotak kecil berhias pita bewarna pink itu utuk Ibu.
’’Lina punya sesuatu untuk Ibu’’.
’’Ini apa toh, Nak?’’
’’Buka saja, Bu!’’ Ibu pun membuka kado dariku. Dan, Aku berharap Ibu suka dengan cincin pilihanku untuknya. Ibu tampak meneteskan air mata dan ia memelukku lagi.
’’Terima kasih, ya, Nak. Kamu baik sekali. Maafkan Ibu yang belum bisa membahagiakanmu!’’
’’Tidak, Bu. Selama ini, Ibu sudah membuatku sangat bahagia. Angel sayang sekali sama Ibu!’’

Dalam suasana yang mengharuhkan itu, aku juga ikut meneteskan air mata. Kami pun beralih ke dalam rumah sambil memakan bersama kue ulang tahun Ibu. Tak hanya itu, Aku menceritakan semua yang telah ku lakukan selama ini. Aku juga tidak lupa meminta maaf padanya karena selama ini ku sudah membohonginya meskipun bukan niatku seperti itu. Aku tahu berapapun harga cincin yang aku beli untuk Ibu, tidak akan pernah bisa membalas seluruh jasa Ibu yang telah merawatku hingga sebesar ini. Aku sangat bahagia melihat senyum Ibu, dan aku berjanji suatu hari nanti aku akan membuat Ibu bangga padaku. Aku Sayang Ibu!.

*Eva Putriya Hasanah, seorang penikmat sastra yang tinggal di Surabaya berasal dari Mojokerto.
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #ibu #Untuk #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #cincin #trowulan #onde-onde