JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Candi Jolotundo, atau lebih tepatnya disebut Petirtaan Jolotundo, adalah salah satu situs purbakala yang paling menakjubkan di Indonesia. Terletak di Bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Meski berada di Mojokerto yang identik dengan peninggalan Kerajaan Majapahit, Petirtaan Jolotundo dibangun jauh sebelum era Majapahit. Terdapat pahatan angka tahun kuno bertuliskan aksara Jawa yang ditemukan di situs ini, menandakan bahwa petirtaan ini diresmikan pada tahun 899 Saka atau 997 Masehi.
Petirtaan ini diyakini dibangun oleh Raja Udayana dari Bali. Tempat ini dipercaya menjadi tempat pemandian suci sekaligus monumen untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga. Sementara itu, pendapat arkeologis lain beranggapan bahwa Jolotundo didirikan oleh raja sebagai bentuk imbal balik dan fasilitas bagi kaum resi yang menyucikan diri di Gunung Penanggungan.
Berbeda dengan candi-candi di Trowulan yang didominasi oleh bata merah, Candi Jolotundo dibangun seluruhnya dari batuan andesit atau batu kali berkualitas tinggi dan dipahat dengan rapi. Bangunan ini bersandar langsung di dinding lereng gunung. Arsitektur Jolotundo mengusung konsep bentuk bangunan yang mengimitasi Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta dan tempat bersemayamnya dewa.
Di Candi Jolotundo juga terdapat dua kolam utama di bagian bawah. Berdasarkan tradisi dan struktur jalurnya, kolam di sisi selatan dikhususkan bagi laki-laki atau tempat para raja dan resi, sementara kolam di sisi utara dikhususkan bagi perempuan atau tempat para ratu dan putri. Air keluar terus-menerus dari puluhan pancuran batu yang terdapat di dinding candi dan langsung mengalir ke kolam utama.
Dinding purbakala Jolotundo dulunya dihiasi oleh panel relief cerita, salah satunya menggambarkan kisah dari kitab sastra kuno India, seperti kisah Raja Sahasranika dan Mrigawati. Sebagian relief asli telah dipindahkan ke Trowulan dan museum di Jakarta dengan alasan keamanan.
Salah satu daya tarik Candi Jolotundo adalah kualitas airnya yang luar biasa. Berdasarkan uji laboratorium, air di Jolotundo memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Kandungan mineralnya seimbang dan hampir bebas dari polutan atau logam berat berbahaya. Karena kemurnian alaminya, muncul klaim kuat dari masyarakat dan dunia pariwisata bahwa air di Jolotundo memiliki kualitas terbaik nomor dua di dunia.
Baca Juga: Sejumlah Desa di Tiga Kecamatan di Mojokerto Akan Alami Pemadaman Listrik, Simak Detailnya
Lalu, meski sedang musim kemarau panjang yang melanda kawasan Mojokerto, debit air yang keluar dari Gunung Penanggungan menuju pancuran Jolotundo tidak berkurang maupun kering. Air ini juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Seloliman.
Masyarakat maupun para pengunjung meyakini bahwa mandi langsung di pancuran Jolotundo dapat memberikan efek awet muda, memancarkan aura kecantikan maupun ketampanan layaknya para bangsawan zaman dahulu, serta dapat mengobati beberapa penyakit. Oleh karena itu, terdapat banyak pengunjung yang membawa jeriken dan galon untuk membawa pulang air tersebut.
Petirtaan Jolotundo ini akan sangat ramai dipadati peziarah pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral dalam kalender Jawa, seperti Malam 1 Suro, malam Jumat Legi, atau saat bulan purnama. Mereka datang untuk berdoa atau mandi merendam diri di tengah malam.
Setiap tahun, masyarakat Desa Seloliman menggelar upacara adat "Ruwat Petirtaan Jolotundo". Ritual ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kelimpahan air bersih, sekaligus mengedukasi pengunjung agar menjaga kelestarian lingkungan dan hutan mata air Gunung Penanggungan.
Baca Juga: 172 PSU di Mojokerto Terbengkalai Akibat Belum Diserahkan ke Pemda
Di kolam bagian bawah candi, terdapat ratusan ikan seperti ikan mas dan nila. Ada mitos kuat yang dipercayai bahwa siapapun dilarang keras mengambil, memancing, bahkan memakan ikan dari kolam keramat tersebut. Konon katanya, jika melanggar aturan tersebut akan mendatangkan kesialan bagi dirinya sendiri.
Bagi yang ingin berkunjung, Petirtaan Jolotundo telah dikelola dengan baik menjadi destinasi wisata budaya dan religi. Fasilitasnya sudah dilengkapi seperti area parkir, warung-warung kuliner, penjual jeriken kosong, hingga penginapan bagi peziarah yang ingin bermalam. Pengunjung diwajibkan untuk menjaga kesopanan serta dilarang menggunakan sabun, sampo, atau bahan kimia lainnya agar tidak mencemari ekosistem air alami tersebut. DEVRIN
Editor : Imron Arlado