Berakhirnya masa revolusi kemerdekaan RI menjadi titik balik perkembangan dunia pendidikan di Mojokerto. Di antaranya ditandai dengan terbukanya kesempatan bagi anak-anak untuk bersekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pada masa kolonial, tidak semua anak-anak mendapatkan hak yang sama untuk mengeyam pendidikan. Kesempatan untuk duduk di bangku sekolah hanya diberikan bagi warga keturunan Eropa maupun kalangan ningrat. ’’Karena dahulu, sekolah itu jadi satu hal yang mewah,’’ ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan sedianya telah eksis sejak masa prakemerdekaan. Mengingat, Mojokerto masuk dalam wilayah aglomerasi Karesidenan Surabaya. Meski jenjang pendidikannya tak selengkap di Kota Surabaya, namun di Mojokerto terdapat lembaga dari tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama atau yang dinamakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). ’’Cuma ada sebuah SMP yang awalnya bernama MULO di Mojokerto,’’ tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Sekolah tersebut berada di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari atau kini menjadi SMPN 1 Mojokerto. Dengan satu SMP, maka hanya segelintir lulusan sekolah dasar yang berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Itu pun hanya dari golongan tertentu.
Kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi baru terbuka saat tercapainya kemerdekaan RI. Tepatnya setelah berakhirnya masa revolusi pada akhir 1949. Yuhan mengatakan, ketegangan wilayah yang mulai kondusif membuat situasi perlahan pulih.
Kegiatan pemerintahan, perekonomian, hingga aktivitas pendidikan kembali bergulir di tengah masyarakat. ’’Pembelajaran secara umum berjalan normal dalam tahun ajaran 1950-1951,’’ tuturnya.
Sebagaimana termuat dalam koran De Vrije Pers terbitan 1 Juli 1951, lembaga pendidikan di Mojokerto berhasil merampungkan pelaksanan ujian akhir. Setidaknya, tercatat 401 siswa yang dinyatakan lulus Sekolah Rakyat atau lembaga setingkat SD.
Selain sukses dalam penyelenggaraan ujian, kegiatan belajar mengajar di Mojokerto juga mengalami perkembangan cukup signifikan. Karena di awal kemerdekaan RI tersebut, sebanyak 198 lulusan juga melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Sayangnya, hanya 65 siswa yang dapat tertampung di SMP karena keterbatasan jumlah lembaga di Mojokerto. Meski tidak ada penjelasan rinci terkait penerimaan siswa baru tersebut, diperkirakan mereka melanjutkan pendidikan di MULO yang statusnya telah ditetapkan menjadi SMP negeri. ’’Karena jumlahnya hanya sebuah SMP negeri, maka tidak mencukupi menampung animo masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan anaknya,’’ urai dia.
Makin Berkembang dengan Berdiri Lembaga Swasta
Sementara itu, makin tingginya minat siswa untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi membuat keberadaan sekolah menengah kian berkembang pesat. Tak hanya dari pemerintah, sejumlah SMP swasta juga berdiri untuk menampung lulusan SD.
Ayuhanafiq memaparkan, dalam buku Pantja Warsa Kota Ketjil Modjokerto terbitan tahun 1954, terdapat sejumlah sekolah lanjutan pertama yang berdiri di Kota Mojokerto. Selaian SMP negeri, setidaknya juga telah berdiri tiga lembaga setingkat yang berstatus sekolah swasta.
Masing-masing SMP Udhaja, SMP Muhammadiyah, dan SMP Islam yang berada di Jalan Brawijaya yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama (NU). ’’Guna menampung animo masyarakat yang tinggi, Djawatan Pendidikan juga menambah sekolah negeri,’’ ulasnya.
Di antaranya dengan menempati sebuah gedung di Kelurahan/Kecamatan Kranggan. Sekolah yang disiapkan untuk mencetak siswa yang siap masuk dunia kerja ini dinamakan Sekolah Teknik Negeri (STN).
Tak hanya itu, bekas gedung Europeesche Lagere School (ELS) yang berada di depan Kantor Bupati Mojokerto di Jalan A. Yani juga diubah menjadi SMPN 2 Mojokerto. ’’Menyusul berikutnya sejumlah lembaga pendidikan swasta juga turut mendirikan sekolah lanjutan tingkat pertama,’’ imbuhnya.
Antara lain sekolah Hua Chiao Tsing Nien Hui (HCTNH) atau kini dikenal sebagai SMP Taruna Nusa Harapan (TNH), kemudian SMP Tamansiswa, dan juga SMP Katolik Mojokerto yang diresmikan pada Februari 1957. (ram/fen)
Editor : Rizal Amrulloh