Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Epos La Galigo, Warisan Sastra Bugis yang Panjangnya Lampaui Mahabharata

Imron Arlado • Rabu, 22 April 2026 | 21:03 WIB
Epos La Galigo (Sumber: Literasiliwangi)
Epos La Galigo (Sumber: Literasiliwangi)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Apakah kamu tahu bahwa Indonesia memiliki naskah epos terpanjang di dunia, bahkan melebihi Mahabharata?  Naskah tersebut adalah La Galigo, karya sastra epik Bugis yang diperkirakan mencapai ribuan halaman dan sekitar 360.000 bait.

La Galigo merupakan karya sastra yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-14. Awalnya, kisah ini disampaikan secara lisan sebelum kemudian dituliskan di atas daun lontar. Menurut para ahli, penulisannya tidak dilakukan oleh satu orang saja, melainkan berkembang dari generasi ke generasi, sehingga membentuk kumpulan cerita yang kompleks dan kaya makna.

Secara isi, La Galigo mengisahkan asal-usul masyarakat Bugis melalui cerita mitologis tentang tokoh-tokoh seperti Batara Guru dan Sawérigading. Tokoh Sawérigading digambarkan sebagai sosok utama yang menjalani berbagai petualangan, termasuk perjalanan laut ke berbagai wilayah. Kisah-kisah tersebut tidak hanya menampilkan unsur kepahlawanan, tetapi juga mencerminkan karakter masyarakat Bugis yang dikenal sebagai perantau.

Baca Juga: Megawati Citra Alam, Menjadi Diri Sendiri

Selain itu, naskah La Galigo juga memuat berbagai nilai kehidupan. Salah satunya adalah kesetaraan gender yang sudah tergambar sejak masa lampau. Dalam kisahnya, perempuan tidak digambarkan sebagai pihak yang lemah, melainkan memiliki peran penting dan mampu mengambil keputusan secara mandiri. Bahkan, terdapat tokoh perempuan yang menjadi pemimpin dan berani menolak keputusan yang tidak sesuai dengan prinsipnya.

Menariknya, naskah ini juga mengenal konsep lima gender, termasuk peran bissu yang dianggap sebagai gender kelima dan memiliki posisi penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bugis. Bissu berperan sebagai penghubung antara manusia, alam, dan Tuhan, serta menjadi penjaga tradisi dan pembaca naskah kuno La Galigo.

Dari segi nilai sosial, La Galigo turut menggambarkan sistem pemerintahan yang tidak bersifat absolut. Raja digambarkan tidak memiliki kekuasaan mutlak, melainkan harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat melalui dewan adat. Hal ini menunjukkan adanya konsep demokrasi dan musyawarah yang telah dikenal dalam budaya Bugis sejak lama.

Baca Juga: Mengenal RA Lasminingrat, Pelopor Pendidikan Perempuan Sebelum Kartini

Saat ini, naskah La Galigo tersebar di berbagai negara, seperti Indonesia, Belanda, Inggris, hingga Amerika Serikat. Tidak ada satu pun naskah yang memuat keseluruhan cerita, karena masing-masing hanya berisi bagian atau fragmen. Pada tahun 2011, La Galigo ditetapkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World sebagai bentuk pengakuan atas nilai sejarah dan budayanya yang tinggi.

Sebagai warisan budaya yang bukan hanya panjang, tetapi juga sarat makna kehidupan, La Galigo menunjukkan bahwa sastra Indonesia memiliki nilai mendalam yang dapat dipelajari oleh generasi kini dan mendatang. ASIKHA

Editor : Imron Arlado
#epos la galigo #bugis #sastra indonesia #sejarah