Eksistensi masyarakat Tiongkok di masa Kerajaan Majapahit tak hanya ditunjukkan dengan keberadaan uang kepeng, keramik, dan arca terakota figure Tionghoa. Akulturasi budaya Tionghoa di tanah Jawa kuno pada era 700 tahun silam itu juga terwujud pada bangunan-bangunan bearsitektur khas Cina.
BANGUNAN rumah tapak adalah satu di antara sekian pengaruh kebudayaan Tionghoa dalam arsitektur Majapahit. Pada masa sebelum Majapahit, sebagaimana tergambar di sejumlah relief candi di Jawa Tengah, bangunan rumah kebanyakan berupa panggung. Bentuknya tidak langsung menyentuh tanah. Hal ini berbeda ketika masa Majapahit. Rumah tapak yang dibangun langsung di atas tanah banyak ditemukan.
”Rumah yang berada di atas tanah ini sebenarnya hal baru yang muncul pada masa Majapahit yang cukup banyak dipengaruhi budaya Tionghoa,” tutur dosen arkeologi UGM Fahmi Prihantoro, dalam webinar Akulturasi Tionghoa dalam Arsitektur Bangunan Cagar Budaya di Jawa Timur yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Baca Juga: Pendidikan Era Majapahit, Akses Merata bagi Semua Kalangan
”Ini satu hal yang kita dapatkan dari pengaruh Cina. Karena memang cukup banyak orang-orang Cina yang sudah berada di Majapahit dan kemudian ikut memengaruhi kebudayaan, termasuk sistem menanam padi dengan jalan mundur seperti yang kita lihat sekarang,” imbuhnya.
Selain rumah tapak yang eksis sampai sekarang, pengaruh Cina terhadap gaya bangunan klasik semakin menguat ketika masa Kerajaan Islam setelah Majapahit. Antara lain, bentuk arsitektur Tiongkok yang terwujud di fasad Masjid Sumenep, Madura.
”Di bagian belakang masjid juga ada menara yang sepintas seperti pagoda. Jadi dua unsur ini sangat kuat secara visual adanya pengaruh Tionghoa pada masjid tradisional,” tutur Fahmi.
adi
Akulturasi budaya Cina juga terejawantah dalam nisan makam masyarakat muslim Tiongkok di Majapahit yang memiliki motif khusus. Ragam hias yang ditemukan pada artefak makam Tionghoa di Trowulan memiliki bentuk ukiran khas tradisi Cina.
Salah satunya patung Qilin alias makhluk mitologi Tiongkok yang digambarkan sebagai hewan suci pembawa keberuntungan, kemamkuran, dan kedamaian. ”Ragam hias seperti binatang Qilin kemudian bentuk ukiran bunga teratai dan sebagainya itu sebenarnya berkembang sangat kuat di Cina,” tandas dia. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah