Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Budaya Islam Warisan Majapahit, Arsitektur Masjid hingga Ketupat Lebaran

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 7 Maret 2026 | 10:00 WIB

 

PENINGGALAN WALI SONGO: Masjid Agung Demak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memiliki atap tumpang bertingkat tiga yang berakar dari kebudayaan Majapahit.
PENINGGALAN WALI SONGO: Masjid Agung Demak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memiliki atap tumpang bertingkat tiga yang berakar dari kebudayaan Majapahit.

Budaya Kerajaan Majapahit eksis dalam peradaban Islam khas Nusantara di masa sekarang. Warisan kerajaan Hindu-Buddha itu terentang dari arsitektur masjid tradisional Jawa hingga kuliner ketupat dan lepet saat Lebaran. 

MASJID-masjid kuno di pulau Jawa memiliki aristektur yang biasanya ditemukan pada candi peninggalan Majapahit. Salah satunya ditemukan Masjid Agung Demak yang diyakini dibangun oleh Wali Songo. ’’Pilar-pilar masjid ini menurut tradisi tutur didatangkan langsung dari istana Majapahit,’’ tutur pemerhati sejarah Asisi Suhariyanto dalam kanal berita arkeologi ASISI Channel. 

Menurutnya, pilar salah satu masjid tertua di Jawa itu memiliki aksesori berupa lapik, pelipit, sulur, antefiks, dan hiasan tumpal layaknya bangunan candi. Sementara itu, keramik bermotif mirip medalion, meander, dan tapak dara terpasang di dinding. Hiasan serupa terdapat pada Masjid Menara Kudus. ’’Di candi Jawa kuno, medalion dan meander hanyalah ragam hias, namun tapak dara berfungsi menolak bala,’’ jelasnya. 

Asisi mengatakan, atap tumpang menjadi gaya arsitektur khas Majapahit yang paling kentara di bangunan masjid tradisional. Atap tumpang yang umumnya bertingkat tiga tergambar pada relief Candi Sukuh di Karanganyar.

Menurutnya, atap tumpang di bangunan masjid diduga berakar dari filosofi gunung suci Mahameru yang terdiri dari tiga tingkat atau Triloka. ’’Meski Buya Hamka juga berpendapat atap tumpeng masjid kuno melambangkan syariah, tarekat, hakikat, dan makrifat,’’ imbuhnya. 

DARI MASA MAJAPAHIT: Relief Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah, menggambarkan bentuk atap tumpang.
DARI MASA MAJAPAHIT: Relief Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah, menggambarkan bentuk atap tumpang.

Corak Majapahit juga tercermin dalam konsep pembangunan masjid agung di sekitar alun-alun. Tata letak bangunan keagamaan di sekeliling pusat kota tetuang dalam Kitab Negarakertagama yang menyebutkan keberadaan asrama pendeta Buddha, Siwa, dan Wipra didekat Lapangan Wanguntur alias alun-alunnya Majapahit. 

Asisi menjelaskan, warisan Majapahit dalam tradisi Islam Jawa juga terlacak pada kuliner khas Lebaran. Adalah ketupat dan lepet yang sudah dikenal sejak abad ke-11 Masehi. Istilah kupat muncul dalam Kakawin Ramayana, Subadra Wiwaha, dan Kresnayana dari periode Kerajaan Kediri. ’’Sementara lepet sebagai kuliner tercatat dalam Kakawin Korawasrama yang diduga dari masa Majapahit,’’ katanya. 

Penelitian menduga makanan ketupat digunakan sebagai pemujaan kepada Dewi Sri yang dianggap sebagai dewi kesuburan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ketupang biasanya digantung di abang pintu atau jendela. Hal itu konon untuk menolak bala. ’’Mirip tapak dara di candi,’’ tandas Asisi. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#trowulan majapahit #budaya majapahit #mojosains #warisan majapahit #mojokerto majapahit #kerajaan majapahit