Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tradisi Megengan di Mojokerto, Bermakna Menahan Diri Jelang Bulan Suci

Rizal Amrulloh • Kamis, 19 Februari 2026 | 08:55 WIB
TRADISI: Masyarakat melakukan ziarah ke makam sanak saudara yang menjadi bagian dari tradisi jelang bulan puasa.
TRADISI: Masyarakat melakukan ziarah ke makam sanak saudara yang menjadi bagian dari tradisi jelang bulan puasa.

MOJOKERtO RAYA - Masih terdapat sejumlah ritual budaya lainnya yang dilakukan dalam rangkaian tradisi megengan. Meski beberapa di antaranya mulai terkikis zaman, namun hingga kini megengan masih menjadi tradisi yang sarat akan makna spriritual hingga kehidupan bersosial.

Ayuhanafiq menambahkan, bagi masyarakat, megengan tak sekadar sebagai tradisi. Tapi, keberadaannya juga telah menjadi bagian dari tahapan persiapan untuk memasuki bulan Ramadan.

Menurutnya, istilah megengan berasal kata pegeng atau megeng yang memiliki arti menahan. ’’Dalam konteks puasa, megengan bermakna menahan diri dari hawa nafsu,’’ papar dia.

Sehingga, dalam rangkaian kegiatannya dilakukan ritus yang sarat makna. Seperti ziarah makam yang menjadi wujud penghormatan dan permohonan maaf kepada orang tua maupun leluhur.

Selain itu, nyekar juga bertujuan untuk mengenalkan silsilah keluarga kepada generasi penerus. ’’Saat ziarah, orang tua turut mengajak anak-anaknya untuk mendoakan dan mengetahui makam pendahulunya,’’ tutur dia.

Demikian dengan gelaran asahan yang juga sebagai bentuk rasa syukur karena masih dapat dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dari makanan yang disajikan dalam wadah tumpeng maupun ancak, masyarakat juga berharap agar mendapatkan barokah dengan saling berbagi makanan. ’’Karena makanan telah didoakan oleh kiai maupun tokoh agama saat asahan disuguhkan,’’ pungkasnya. (ram/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#mojokerto punya cerita #mojopedia #megengan mojokerto #nyadran mojokerto