MOJOKERtO RAYA - Masih terdapat sejumlah ritual budaya lainnya yang dilakukan dalam rangkaian tradisi megengan. Meski beberapa di antaranya mulai terkikis zaman, namun hingga kini megengan masih menjadi tradisi yang sarat akan makna spriritual hingga kehidupan bersosial.
Ayuhanafiq menambahkan, bagi masyarakat, megengan tak sekadar sebagai tradisi. Tapi, keberadaannya juga telah menjadi bagian dari tahapan persiapan untuk memasuki bulan Ramadan.
Menurutnya, istilah megengan berasal kata pegeng atau megeng yang memiliki arti menahan. ’’Dalam konteks puasa, megengan bermakna menahan diri dari hawa nafsu,’’ papar dia.
Sehingga, dalam rangkaian kegiatannya dilakukan ritus yang sarat makna. Seperti ziarah makam yang menjadi wujud penghormatan dan permohonan maaf kepada orang tua maupun leluhur.
Selain itu, nyekar juga bertujuan untuk mengenalkan silsilah keluarga kepada generasi penerus. ’’Saat ziarah, orang tua turut mengajak anak-anaknya untuk mendoakan dan mengetahui makam pendahulunya,’’ tutur dia.
Demikian dengan gelaran asahan yang juga sebagai bentuk rasa syukur karena masih dapat dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dari makanan yang disajikan dalam wadah tumpeng maupun ancak, masyarakat juga berharap agar mendapatkan barokah dengan saling berbagi makanan. ’’Karena makanan telah didoakan oleh kiai maupun tokoh agama saat asahan disuguhkan,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah