Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sistem Transportasi Era Majapahit, Sungai Brantas Jadi Jalur Utama

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:15 WIB

 

PENOPANG MOBILITAS: Sungai Brantas di Mojokerto yang pada zaman Majapahit menjadi jalur transportasi air.
PENOPANG MOBILITAS: Sungai Brantas di Mojokerto yang pada zaman Majapahit menjadi jalur transportasi air.
SUNGAI Brantas memiliki peran penting sebagai jalur transportasi semasa Kerajaan Majapahit pada 700 tahun silam. Karena pada zaman itu jalan raya dan kendaraan darat belum semaju sekarang, masyarakat memanfaatkan jalur air sebagai akses utama lalu lintas.

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana menjelaskan, keberadaan Sungai Brantas berperan sentral sejak masa Kerajaan Kahuripan alias sebelum Majapahit berdiri.

Pada masa itu, Raja Airlangga mengeluarkan sejumlah kebijakan yang berhubungan dengan sungai terpanjang di Jawa Timur tersebut. ’’Pertama, ia memindahkan pusat kerajaan yang sebelumnya di Wwatan Mas ke daerah pedalaman, yang lebih dekat dengan aliran sungai Brantas,’’ ujarnya.

Guna menguasai jalur sungai, Airlangga juga menundukkan wilayah-wilayah di sekitar Brantas. Airlangga, dalam kebijakannya, juga membangun Pelabuhan Hujung Galuh yang terletak di muara Brantas sebagai pelabuhan regional. ’’Pelabuhan ini melayani jaringan perdagangan antarpulau,’’ tuturnya.

PENOPANG MOBILITAS: Sungai Brantas di Mojokerto yang pada zaman Majapahit menjadi jalur transportasi air.
PENOPANG MOBILITAS: Sungai Brantas di Mojokerto yang pada zaman Majapahit menjadi jalur transportasi air.

Selain sebagai akses transportasi masyarakat yang masih mengandalkan perahu, Brantas juga menjadi jalur perdagangan. Sungai yang membentang sepanjang 320 kilometer (km) itu dulunya memiliki lebar hingga mencapai 2 kilometer. Sedimentasi selama berabad-abad membuat sungai menciut dan beberapa aliran cabangnya kini menghilang.

Tommy menyatakan, sebagai jalur transportasi utama, aliran Brantas dipenuhi dengan dermaga. Prasasti Canggu bertahun 1358 Masehi mencatat, terdapat 44 desa yang menjadi desa penyeberangan di tepian bengawan.

Beberapa di antaranya kelak berkembang menjadi pelabuhan sungai yang besar, seperti Canggu, Bubat, dan Terung. ’’Brantas mampu menghubungkan daerah pedalaman Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa,’’ tandasnya. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #mojosains #radar mojokerto #jawa pos radar mojokerto #mojopedia