Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perdagangan Internasional Era Majapahit, Kuasai Pasar Nusantara melalui Pelabuhan Tuban

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 29 November 2025 | 15:45 WIB
KERAJAAN MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
KERAJAAN MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

  Perdagangan internasional di masa Kerajaan Majapahit telah berkembang secara pesat. Eksistensi pelabuhan yang berada di pesisir pantai utara Jawa, Kabupaten Tuban, menjadi kunci Majapahit dalam menguasai perdagangan di Nusantara.

 Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana mengatakan, salah satu bukti yang menjadi sumber sejarah awal tentang peran Tuban tercatat dalam Prasasti Kambang Putih bertahun 1050 Masehi. Prasasti tersebut menggambarkan Tuban telah menjadi kota maritim yang penting pada masa Airlangga sebagai penguasa Kerajaan Kahuripan.

 ”Prasasti tersebut bisa dibaca sebagai usaha Airlangga untuk mengamankan potensi perdagangan laut. Dia menetapkan pelabuhan Kambang Putih sebagai daerah sima alias daerah yang dibebaskan dari pajak, sekaligus memberi kewenangan sebagai pusat perdagangan,” jelasnya.

 Lewat keringanan pungutan pajak, Kambang Putih yang kini menjadi wilayah Tuban berkembang menjadi pelabuhan yang ramai dengan kapal-kapal dagang dari India, Birma (Myanmar), Kamboja, dan Campa (Vietman). Kondisi itu berlangsung hingga memasuki era Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, Tuban semakin ramai setelah kerajaan menerapkan kebijakan mengundang pedagang asing ke setiap upacara perayaan keagamaan di ibu kota yang diyakini berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

 Kerja sama perdagangan antarnegara juga dibentuk dengan melarang kapal saudagar asing berlayar di sebelah timur Jawa. Sehingga menjadikan Tuban sebagai pelabuhan tujuan dagang. ”Para pelayar niaga asing diwajibkan berlabuh di pelabuhan Tuban, apabila tidak mematuhi akan dilakukan pemaksaan dan penyerangan,” tutur Tommy.

 Kebijakan politik itu tampaknya berhasil membuat dunia maritim Majapahit naik ke puncak kejayaan. Catatan Wong Ta-Yuan dari 1349 Masehi menyebutkan, pedagang China pada tahun itu sudah tidak lagi mencapai kepulauan Maluku. Begitu pula dengan Cheng Ho dalam ekspedisinya selama periode 1371-1435 Masehi yang tak lagi menjamah kepulauan di timur Nusantara itu. ”Pada masa itu, negeri China sendiri mengakui bahwa kerajaan Jawa sebagai negeri di luar China yang terkaya sesudah Arab,” tandasnya. (adi/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#Era Majapahit #Pasar Nusantara #pelabuhan #perdagangan internasional