Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Saling Serap Kosakata Arab-Jawa

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 1 November 2025 | 15:20 WIB

 

SITUS RELIGI: Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, yang menjadi kuburan umat muslim Majapahit.
SITUS RELIGI: Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, yang menjadi kuburan umat muslim Majapahit.

EKSISTENSI Islam di masa Majapahit dapat dilihat dari penyerapan kosakata yang terjadi antara bahasa Arab dengan bahasa di Nusantara. Saling serap kata itu bahkan telah terjadi pada abad ke-12 M, jauh sebelum munculnya kerajaan Islam di Jawa.

’’Peneliti Soetjipto Wirjosoeparto dalam disertasinya pernah mengemukakan bahwa paling tidak ada tiga kata bahasa Jawa kuno dalam kakawin dan prasasti yang berasal dari penyerapan kosakata Arab,’’ jelas Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jatim Tommy Raditya Dahana.

Ketiga kata itu adalah gedah, gajih, dan kaluwa. Kata gedah diserap dari bahasa Arab, ’’qadah’’, yang berarti gelas minum yang besar. Kata itu akhirnya berubah menjadi gedah karena huruf Q adalah transkripsi dari huruf Qaf, yang diucapkan menjadi G menurut ucapan logat bahasa Arab selatan (Yaman). ’’Kata gedah tersebut terdapat di kakawin Gatotkacasraya karangan Mpu Panuluh,’’ ucapnya.

Tommy melanjutkan, dalam kakawin Bharatayudha juga terselip bahasa Arab. Pada pupuh XIII bait 18 terdapat kalimat ramya n wira sapandawanayuh aghosti pinigajihana n arames musuh. Kalimat itu memiliki arti, ’’meriahlah di antara orang-orang pahlawan Pandawa mereka mengadakan tarian tayub sambil bersorak-sorak, sedangkan kepada mereka yang telah membinasakan musuh diberi upah.’’

Sementara itu, kata kaluwa tercatat dalam Prasasti Plumbangan di Wlingi, Blitar, yang berangka tahun 1062 S/1140 M. Dalam prasasti tersebut terdapat kalimat wnanamanana salwirni kaluwa, yang berarti, ’’akan mendapat hak untuk makan segala macam kaluwa.’’ ’’Dalam bahasa Arab, terdapat kata hulwa yang berarti makanan yang sedap dan manis,’’ jelasnya.

Tommy mengatakan, penyerapan kosakata menjadi bukti hubungan antara Kediri dengan para pedagang Arab yang beragama Islam di abad ke-12 M. Hal itu juga menjadi petunjuk mengenai adanya pemukiman komunitas muslim Jawa Timur di pelabuhan perdagangan semasa Kediri.

Di lain sisi, bahasa-bahasa di Nusantara tidak hanya menyerap, tetapi juga turut menyumbang kosakata dalam bahasa Arab. Seperti dalam kitab Ajaib al Hindi dari abad 390 H/1000 M yang ditulis Buzurg bin Syahriar al-Ramhurmuzi. Kitab itu adalah satu dari sedikit naskah Arab yang bercerita tentang Nusantara. Kitab tersebut menceritakan tentang kunjungan pedagang muslim ke kerajaan Hindu Buddha Zabaj (Sriwijaya).

Dalam kisahnya, para pedagang menyaksikan kebiasaan di kerajaan itu, salah satunya setiap muslim yang menghadap raja harus ’’bersila’’ (بر سيل ). ’’Menurut Azyumardi Azra, kata ’’bersila’’ itu adalah salah satu di antara sedikit kosakata Melayu yang diserap dalam bahasa Arab,’’ tandas Tommy. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#Era Majapahit #bahasa arab ke indonesia #bahasa Jawa kuno #penyebaran agama islam