Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Alat Angkut Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:30 WIB
JEJAK SEJARAH: Relief seorang pedagang sedang memanggul barang dagangan menggunakan pikulan di Candi Tegowangi, Kediri.
JEJAK SEJARAH: Relief seorang pedagang sedang memanggul barang dagangan menggunakan pikulan di Candi Tegowangi, Kediri.

Gunakan Pikulan untuk Memanggul Beban

 Masyarakat Majapahit membuat perkakas untuk membantu mereka membawa barang-barang yang berat selama perjalanan tertentu. Alat pengangkut itu antara lain berupa pikulan yang biasanya digunakan pedagang keliling atau pemburu binatang membawa hasil buruan dengan cara dipanggul.

 Penggunaan pikulan yang berbentuk tongkat memanjang tergambar dalam beberapa relief candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Di relief Candi Tegowangi, Kediri, misalnya, tergambar seorang pedagang sedang memanggul barang dagangan di pundak kirinya. Dagangan itu terdiri dari beberapa bungkusan dan tas yang tergantung di kedua ujung batang pikulan.

 ”Pikulan dikenal sebagai salah satu alat transportasi tradisional untuk membawa beban, berupa tongkat dari batang bambu atau kayu,” kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.

 Kendati lebih banyak berbahan kayu dan bambu, terdapat pula pikulan yang dibuat dari batang besi. Aktivitas memikul barang, lanjut Tommy, juga dapat ditemukan pada relief Candi Jago di Malang. Bukan sosok pedagang, relief ini menggambarkan seekor kera (Wanari) sedang membawa buah-buahan menggunakan pikulan untuk kedua anaknya. Dalam kisahnya, kedua anak Wanari ternyata telah dibunuh oleh temannya (Papaka) yang merupakan seorang pemburu dan pada akhirnya Wanari pun ikut terbunuh. 

Mengenai kegunaan pikul, Prasasti Ayam Teas berangka tahun 900 Masehi dapat menjadi petunjuk. Di sana tertulis pikulan umumnya menjadi peralatan yang digunakan oleh pedagang eceran. Mereka menjajakan dagangan berupa pakaian, kapas, tembaga, perak, besi, timah, beras, gula, hingga minyak dengan berkeliling membawa pikulan. Keterangan serupa terdapat pula pada Prasasti Sarangan (929 Masehi) yang menuliskan: Minyak, tembaga, perak, timah segala jenis yang dijual dengan pikulan.

 Tommy menyatakan, Candi Borobudur dari abad ke-9 Masehi juga menggambarkan keberadaan pikulan. Dalam salah satu panilnya bertema pertanian, terdapat seseorang yang sedang memanggul padi hasil panen. ”Artinya, alat ini memang sudah eksis sejak masa sebelum Majapahit dan sampai sekarang pun masih digunakan,” tandasnya. (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#Alat Angkut #Pikulan #Alat Angkut Barang #Era Majapahit