Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Penggali Kubur di Mojokerto Temukan Arca Dewa, Begini Penampakannya

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 15:35 WIB

DITELITI: Wujud arca dewa yang ditemukan di pemakaman umum Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, kemarin (10/10).
DITELITI: Wujud arca dewa yang ditemukan di pemakaman umum Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, kemarin (10/10).
 

Diduga Peninggalan Majapahit, BPKW XI Beri Rekomendasi

 KUTOREJO – Arca dewa yang diperkirakan dari masa Kerajaan Majapahit ditemukan di pemakaman umum Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo. Patung batu itu ditemukan penggali kubur sekitar 4 tahun silam, dan Senin (6/10) dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI.

 Kemarin (10/10), tim arkeolog BPKW bersama Disbudporapar Kabupaten Mojokerto akhirnya melakukan pengecekan. Posisi arca selama ini tersimpan di bangunan pendapa tempat menaruh keranda mayat. Kepala Dusun Mojojejer Muhammad Anis mengatakan, sejauh pengetahuannya arca tersebut kali pertama ditemukan sekitar 3 atau 4 tahun silam saat warga menggali tanah kuburan. ”Waktu itu gali buat pemakaman, tapi tidak berani dibawa pulang, jadi di taruh di sini saja, ucapnya, kemarin. 

Kepercayaan terhadap sosok penjaga makam menjadi salah satu alasan penemuan arca tak langsung dilaporkan ke petugas berwenang. Anis menyebutkan, terdapat kepercayaan agar arca tak dibawa pergi dari area kuburan. Tempat penemuan arca juga berada dekat dengan makam Mbah Jengglot yang diyakini sebagai sesepuh desa. ”Jadi, ya tidak dibawa kemana-mana, karena istilahnya ini yang menjaga desa,” tuturnya. 

Analis Cagar Budaya dan Permuseuman BPKW XI Ning Suryati mengatakan, arca memiliki tinggi 45 sentimeter dan lebar 18 sentimeter. Posisinya duduk bersila dengan kedua tangan di atas lutut. ”Dia memakai kain selendang, mahkota, gelang, kalung, dan kelat bahu,” jelasnya di lokasi.

 Dari bentuk dan aksesori yang dipakai, arca tersebut merupakan perwujudkan dewa. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan secara spesifik siapa sosok dewa itu. ”Karena dia tidak membawa atribut dewa, kalau ada atributnya kita bisa tahu, oh, ini arca Wisnu, ini arca Brahma, Siwa’,” tuturnya. 

Di sisi lain, dugaan mengenai arca berasal dari masa Majapahit dikaitkan dengan sejarah Desa Pesanggrahan. Secara toponimi, nama Pesanggrahan merujuk pada daerah yang menjadi tempat singgah atau istirahat. ”Kita nanti akan telusuri lagi sejarahnya apakah dahulu Hayam Wuruk pernah singgah di Pesanggrahan ini ketika dia menuju ke Candi Jawi atau ke mana,” jelas dia. 

BPKW XI, lanjut Ning Suryati, bakal mengeluarkan rekomendasi kepada Disbudporapar Kabupaten Mojokerto untuk tindak lanjut pelestarian arca. Opsi penanganan arca bakal bergantung pada kesepakatan warga setempat. Jika masyarakat memperbolehkan, arca akan dibawa ke Museum Majapahit. Namun, apabila ditolak, arca tetap dibiarkan di tempat semula dengan catatan harus dalam pengawasan masyarakat supaya tidak hilang. ”Opsi-opsi itu kita masukkan ke rekomendasi,” tandasnya. (adi/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#Pemakaman Umum #Mojojejer #kutorejo #penemuan arca #Era Majapahit #arca #Pesanggrahan