Sementara itu, Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto kian semarak setelah dinaungi KONI Kabupaten Mojokerto. Setelah dilanda pasang surut, keberlangsungan event olahraga yang bertahan selama tiga dekade ini akhirnya meredup pasca reformasi. Setelah masa kepemimpinan Bupati RA Basoeni, Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto sempat berganti waktu pelaksanaan. Dari semula digelar di bulan November dimajukan pada Oktober.
Ayuhanafiq menambahkan, pergantian jadwal pelaksanaan itu diberlakukan di masa Bupati HD. Fatchurahman. Selain menggeser waktu, panjang rute juga diperpendek dari semula 30 kilometer (km) menjadi 28 km. ”Perubahan waktu dan jarak tempuh dilakukan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober," paparnya.
Jalur yang dilalui pun diganti dengan melintasi jalan raya di wilayah Kecamatan Kutorejo, Dlanggu, dan finis di Puri. Meski mengalami perubahan, namun antusias peserta gerak jalan masih terus mengalami peningkatan hingga 1980-an. Terlebih, pantia menyiapkan trofi bergilir bagi peserta gerak jalan terbaik. ”Trofi bergilir ini yang menjadi kebanggaan bagi regu yang berhasil meraih juara,” tandas Yuhan.
Memasuki akhir dekade 1990-an, kemeriahan Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto mulai memudar. Di tahun 1997 menjadi event pemungkas. Sebab, lanjut Yuhan, gerak jalan tak digelar lagi di tahun-tahun berikutnya setelah masa reformasi 1998. Pemkab Mojokerto sempat menghidupkan kembali Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto di tahun 2018 dan 2019. Namun, event tersebut tak lagi menjadi agenda tahunan. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi