SEMENTARA itu, eksistensi lori sebagai moda pengangkut tebu perlahan mulai terkikis setelah banyak pabrik gula yang tutup. Sisa-sisa jaringan rel yang dulu dilalui lokomotif menuju lahan-lahan pertanian juga banyak yang hilang dan terpendam.
Ayuhanafiq menuturkan, keberadaan lori mulai tersisih sekitar tahun 1980-an. Kondisi itu seiring peningkatan akses jalan baik di pusat kota hingga ke pedesaan. ’’Secara perlahan fungsi lori sebagai pengangkut tebu mulai tergantikan dengan truk,’’ ulasnya.
Akibatnya, jaringan rel yang semula dilalui lokomotif akhirnya dimatikan. Demikian dengan jalur lori di jembatan Pagerluyung yang membentang di Sungai Brantas juga tak lagi difungsikan.
Dari belasan industri gula yang berdiri di Mojokerto, satu-satunya yang masih produktif hingga saat ini adalah Pabrik Gula Gempolkrep di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Rupanya, tempat produksi gula yang eksis sejak masa kolonial ini, lokomotif lori masih tetap dihidupkan.
Hanya saja, gerbong-gerbong lori hanya digunakan untuk menarik bongkaran tebu dari truk untuk diangkut menuju stasiun produksi. Kemudian, tebu diolah dan dijadikan sebagai bahan baku yang menghasilkan gula kristal. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi