Pemerintah Indonesia baru saja menetapkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional. Meski sudah eksis sejak abad ke 10 Masehi, senjata tradisional yang menjadi warisan budaya itu ternyata terinspirasi dari sebuah belati biasa. Berkembangnya teknologi logam di masa Kerajaan Majapahit membuat bentuk keris kian rumit seperti yang dikenal sekarang.
Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana menceritakan, sejarah keris dapat dilacak hingga era Mataram Kuno. Prasasti Rukam bertarikh 907 Masehi peninggalan kerajaan tersebut mencantumkan kata keris dalam uraian tentang upacara penetapan sima alias tanah perdikan.
Keris termasuk dalam kelompok barang berbahan besi untuk persajian sebagaimana kapak, sabit, linggis, tatah, parang, pisau, dan jarum. ”Istilah keris sendiri kemungkinan adalah sebuah onomatope, yakni kata yang dibentuk dari tiruan bunyi. Ketika digunakan untuk menusuk atau mengiris, akan terdengar bunyi ”kres” yang kemudian berubah menjadi ”keris”,” jelasnya.
Perubahan nama ini, lanjut dia, muncul karena pada mulanya keris dianggap sebagai benda teknomis, yakni benda yang memiliki fungsi praktis sebagai senjata. Tommy mengungkapkan, keris tidak lahir begitu saja dengan bentuknya yang kompleks. Prototipe dari senjata ini adalah belati tikam yang telah digunakan masyarakat sebelum Hindu-Buddha masuk ke Nusantara. ”Ketika kemudian teknologi pengecoran dan penempaan logam bertambah maju, pembuatan keris mengalami perumitan,” tuturnya.
Dari yang awalnya hanya alat pemotong, para ahli besi semakin rigid dan memperhatikan keindahan bentuk saat membat keris. ”Jadi dari fungsi teknomis jadi ada fungsi ergonomis dan estetika,” imbuh dia. Tommy mengungkapkan, masa-masa transisi dari belati penikam ke keris kemungkinan berlangsung pada masa awal dinasti Mataran di Jawa Tengah.
Gejala perumitan dalam produksi keris kemudian diteruskan dinasti selanjutnya hingga akhirnya menyebar secara luas ke hampir seluruh Nusantara pada masa Majapahit. Eksistensi keris, lanjut dia, kelak diiringi dengan stilasi lokal yang berbeda di setiap daerah. Proses pengayaan inilah yang memunculkan istilah ”tangguh” alias periode pembuatan dan asal keris dalam dunia perkerisan.
”Bahwa setiap zaman dan setiap daerah menampilkan gaya pembuatan yang berbeda-beda, sampai akhirnya sekarang keris memiliki banyak sekali ragam bentuk dan motif,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi