Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perjalanan Pemuda GP Ansor NU Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 10 April 2025 | 14:45 WIB
KHARISMATIK: Kh Achyat Chalimy yang menjadi salah satu tokoh pemuda yang menginisiasi pembentukan GP Ansor Mojokerto.
KHARISMATIK: Kh Achyat Chalimy yang menjadi salah satu tokoh pemuda yang menginisiasi pembentukan GP Ansor Mojokerto.

Tanamkan Jiwa Nasionalisme, Lawan Sistem Kolonialisme

 Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) akan menapaki usia ke-91 tahun pada bulan April 2025. Di Mojokerto, organisasi kepemudaan ini memiliki rekam jejak perjuangan dengan menanamkan jiwa nasionalisme dan menolak sistem kolonialisme.

 Sejawaran Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, sikap tersebut telah ditanamkan sejak pendirian GP Ansor atau dulu dikenal Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) Mojokerto sembilan dekade lalu. Pada 1934, pembentukan salah satu badan otonom (banom) NU ini diprakarsai oleh KH Achyat Chalimy bersama para pemuda Mojokerto lainnya. ”Ansor Mojokerto kemudian membentuk kepengurusan wilayah,” terangnya.

 Pembentukan struktur kepengurusan GP Ansor Mojokerto dilakukan berdasarkan empat wilayah administratif kawedanan. Meliputi, Kawedanan Mojosari, Jabung, Mojoksarsi, dan Mojokerto. 

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, lahirnya GP Ansor kemudian menambah daftar organisasi-organisasi kepemudaan di Mojokerto. Antara lain, Perhimpunan Pemuda Muhammadiyah, Kepanduan Hizbul Wathan, Persatuan Sepakraga Hizbul Wathan, Surya Wirawan, Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP), Jong Islamieten Bond (JIB), dan Persatuan Bekas Murid Taman Siswa (PBMTS). ”Pada 1940, para pucuk pimpinan organisasi pemuda di Mojokerto ini berencana untuk membentuk wadah bersama,” ulasnya.

 Setelah dibentuk panitia dan menggelar rapat bersama, muncul kesepatakatan untuk mendirikan federasi organisasi yang beranggotakan dari perwakilan masing-masing organisasi pemuda. Maka, lahirlah organisasi yang diberi nama Gabungan Pemuda Indonesia Mojokerto (GAPIM).

 Namun, lanjut Yuhan, GP Ansor Mojokerto memutuskan untuk tidak bergabung dengan federasi anyar itu. ”Meski terlibat dalam rapat pembentukan, tapi ANO Mojokerto menolak bergabung,” papar Anggota Dewan Kebudayaan (DKD) Kota Mojokerto ini.

 Di balik keputusan tersebut, penolakan GP Ansor Mojokerto rupanya cukup beralasan. Sebab, pendirian GAPIM terindikasi ada campur tangan pemerintah kolonial. Dengan tujuan untuk memobilisasi kalangan pemuda dalam menghadapi serangan tentara Jepang. ”Karena ada agenda lain di balik pendiriannya, maka GP Ansor Mojokerto memilih tidak bergabung dalam GAPIM,” imbuhnya. 

Yuhan menambahkan, keputusan tersebut tidak lepas dari sikap NU yang sejak awal menolak untuk melebur dalam sistem konolonialisme. Hal itu juga menjadi pegangan oleh para pemuda GP Ansor yang notabene berasal dari lingkungan pesantren dan madrasah sebagai bentuk penolakan metode pendidikan kolonial. (ram/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#gp ansor #sejarah #Nahdlatu Ulama #mojokerto