Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Riwayat Pasar Kranggan Kota Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 13 Maret 2025 | 14:40 WIB
TRADISIONAL: Pasar Kranggan, Kota Mojokerto yang dibangun sejak tahun 1937 kini eksistensinya kian meredup.
TRADISIONAL: Pasar Kranggan, Kota Mojokerto yang dibangun sejak tahun 1937 kini eksistensinya kian meredup.

Tampung Animo Pedagang dan Kebutuhan Warga

 EKSISTENSI pasar tradisional di Kota Mojokerto telah ada sejak masa prakemerdekaan. Setidaknya, terdapat tiga titik sentra perdagangan yang dibangun pada era kolonial saat itu.

 Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, tiga pasar tradisional tersebut tersebar di pusat keramaian dan berada di dekat permukiman. Salah satunya Pasar Kranggan yang didirikan pada tahun 1937. ”Pasar Kranggan dibangun dengan desain sederhana dibanding pasar-pasar lainnya,” ungkapnya.

 Menurutnya, Pasar Krangggan dibangun di lokasi yang cukup strategis. Tepatnya di Kediristraat atau kini bernama Jalan Mojopahit di Lingkungan Penarip, Kelurahan/Kecamatan Kranggan. 

Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, proses pembangunan Pasar Kranggan berlangsung relatif singkat. Karena pusat perdagangan itu dibangun hanya dengan menyediakan lapak secara berjajar. ”Pasar Kranggan memang dibangun di areal yang tidak begitu luas, tapi lokasinya sangat strategis karena berada di jalur utama,” ulas dia.

 Dia menjelaskan, pembangunan Pasar Kranggan dibiayai oleh Gementee atau Pemerintah Kota Mojokerto di era kolonial. Sehingga keberadaannya menambah jumlah sentra perdagangan setelah Pasar Kliwon dan dan Pasar Tanjung Anyar yang telah lebih dulu eksis.

 Yuhan menegaskan, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi didirikannya Pasar Kranggan. Salah satunya karena pesatnya perkembangan pembangunan di wilayah Kranggan.

 Selain fasilitas Rumah Sakit Eschauzir Ziekenhuis atau kini RS Gatoel, akses di sepanjang Jalan Raden Wijaya itu juga ditingkatkan. Sehingga dalam waktu cukup singkat tumbuh permukiman padat di sekitarnya. ”Namun, warga agak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena Kranggan jauh dari pasar,” imbuhnya.

 Hal tersebut kemudian dijadikan peluang bagi tukang sayur keliling yang mangkal di simpang tiga Kranggan dan Penarip. Lambat laun, di dua lokasi tersebut tampak seperti pasar pagi.

 Tiap hari, para pedagang dan pembeli bertransaksi di jalur pedestrian dan bahu jalan. Selanjutnya, Pemkot Mojokerto berinisiatif untuk menambah pusat perdagangan lagi. Terlebih, Pasar Kliwon dan Pasar Tanjung Anyar kondisinya juga sudah overload. ”Maka, didirikanlah pasar baru di Kranggan,” tandas Yuhan. (ram/ris)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#tempo dulu #pasar tradisional #Kota Mojokerto #pasar kranggan