Sementara itu, setelah ditetapkan 1 Ramadan, datangnya bulan suci ini segera dikabarkan ke masyarakat luas. Sebelum berkembangnya teknologi informasi, penyebarluasan dimulainya puasa ditandai dengan tabuhan beduk.
Ayuhanafiq menuturkan, kiai dan ulama menyampaikan pesan tentang datangnya bulan Ramadan dengan cara tradisional. Yakni, dengan memukul beduk di masjid setelah ditetapkannya 1 Ramadan. ”Penyampaian pesan ini dilakukan karena keterbatasan sarana komunikasi pada masa lalu,” ulasnya.
Penyebarluasan informasi terkait datangnya bulan puasa ini lambat laun menjadi tradisi di tengah masyarakat, khususnya di Jawa. Dengan irama tabuhan yang khas, masyarakat yang mendengar bunyi beduk tersebut akan langsung menerima pesan bahwa keesokan harinya merupakan awal dari bulan suci. ”Karena tabuhan beduk ini tidak dijumpai di luar bulan Ramadan,” papar anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Di Mojokerto, informasi terkait awal Ramadan dipusatkan di Masjid Agung Al Fattah, Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Setelah mendapatkan kabar tentang waktu pelaksanaan puasa dari pengurus NU Surabaya, dengan segera tokoh agama dan kiai menabuh beduk.
Dengan begitu, hal serupa juga dilakukan secara estafet dari masjid-masjid di sekitarnya. ”Tabuhan beduk terus menjalar hingga ke desa-desa, sehingga masyarakat di pelosok juga mengetahui akan datangnya bulan puasa," urainya. Seiring berjalannya waktu, penyampaian pesan awal Ramadan memanfaatkan sarana komunikasi dan informasi. Baik melalui siaran radio, televisi, hingga media massa lainnya. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi