Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

’’Kendaraan Dinas’’ Pembesar Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 22 Februari 2025 | 15:05 WIB

 

DITARIK HEWAN: Relief Lalitavistara di dinding Candi Borobudur, Magelang, menunjukkan ibunda Sidharta Gautama, Ratu Maya, menaiki kereta kuda.
DITARIK HEWAN: Relief Lalitavistara di dinding Candi Borobudur, Magelang, menunjukkan ibunda Sidharta Gautama, Ratu Maya, menaiki kereta kuda.

Gunakan Kereta Kencana Berhias Emas

 KERETA kencana yang ditarik hewan memiliki peran penting dalam menunjang mobilitas pejabat Kerajaan Majapahit. Dengan ’’kendaraan dinas’’ yang diberi hiasan sedemikian rupa itulah, raja dan para pembesar melawat ke daerah kekuasaan.

Eksistensi sarana transportasi darat era Majapahit terdokumentasi dalam banyak catatan sejarah. Seperti perjalanan rombongan Raja Hayam Wuruk yang menaiki pedati dari ibu kota di Trowulan, Mojokerto, ke Lumajang pada 1359. Perjalanan ini didokumentasikan Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama. ’’Hayam Wuruk dan para menteri menaiki kereta yang mempunyai lambang berbeda-beda,’’ tutur Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.

Perjalanan darat itu melibatkan iring-iringan ratusan pedati bertenaga gajah, kuda, dan sapi. Perjalanan itu berlangsung selama 10 minggu atau 2,5 bulan dan melewati 210 desa dengan luas cakupan wilayah mencapai 15 ribu mil persegi.

 

TUNGGANGAN RAJA: Kereta yang ditarik empat kuda pada relief Candi Penataran, Kabupaten Blitar.
TUNGGANGAN RAJA: Kereta yang ditarik empat kuda pada relief Candi Penataran, Kabupaten Blitar.

Tommy menjelaskan, kereta yang ditarik hewan perkasa itu dirakit dengan kokoh. Hal ini untuk menyesuaikan fungsinya dalam menopang beban berat hingga ratusan kilogram serta perjalanan jauh selama berbulan-bulan. Bagian yang tak kalah penting dari pedati pejabat kerajaan adalah rangkanya. Tulang kereta terbuat dari kayu dengan penguat logam. ’’Material besi ini juga terdapat pada roda kayu terpasang di kedua sisi,’’ tuturnya.

Layaknya plat nomor kendaraan di era sekarang, pedati masing-masing pejabat juga dibedakan. Tommy mengungkap, kereta raja biasanya hanya ditarik dengan gajah atau kuda. Kendaraan milik Raja Hayam Wuruk yang jumlahnya tak terhitung memiliki tanda buah maja di kedua sisinya. ’’Lambang ini menjadi pembeda kereta raja dengan para bawahannya,’’ tandasnya.

Sebagaimana gambaran dalam Negarakertagama, kereta kencana yang dinaiki raja berbentuk tandu lebar yang lapang. Kendaraan mewah ini dihiasi nuansa keemasan lengkap dengan permata mutu manikan. Sedang tudung kajangnya diberi tirai tenun gringsing yang berperada emas.

Ciri-ciri ini setidaknya berbeda dengan pedati milik para pejabat tinggi. Misalnya, kereta pasukan Majapatih Gajah Mada yang memiliki lambang tumbuhan pulutan serta kereta milik Ratu Pajang Bergambar matahari yang bergemerlapan. Sementara itu, simbol lain didapati pada kereta Ratu Lasem yang berlukiskan banteng putih. Adapun Ratu Daha memiliki kereta bertanda bunga daha dengan latar keemasan, sedang kereta rombongan Ratu Kahuripan dihiasi taburan bulatan bercorak merah dan putih. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#Era Majapahit #kerajaan majapahit #kereta kencana #kendaraan dinas