Pengaruh China dalam ranah kerajinan juga terwujud dalam patung-patung terakota kecil atau figurin berbentuk kepala manusia dengan leher memanjang. Pembuatannya diperkirakan menggunakan teknik dibentuk dengan tangan, cetakan, dan kombinasi keduanya.
”Patung yang dibuat dengan cetakan dapat diketahui bersamaan dengan ditemukannya beberapa cetakan kepala,” ungkap Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya Dahana.
Berdasarkan penelitian penulis Belanda H. Muller, Tommy menjelaskan, bentuk figuran dengan leher memanjang persis seperti gaya pematung dari China. Karena itu, perkembangan seni keramik Majapahit selain karena daya kreativitas yang dimiliki seniman lokal, juga karena dirangsang kehadiran orang-orang dari China.
Adapun teknologi pembakaran berperan penting dalam produksi kerajinan keramik di masa itu. Setidaknya dikenal tiga jenis keramik berdasarkan tingkat suhu serta bahan yang digunakan. Pertama, yakni keramik earthenware, berbahan tanah liat merah yang bersifat porus dan menyerap air. Jenis terakota ini dibakar dalam suhu 350-1.000 derajat Celsius.
Yang kedua, ada keramik stoneware, yang berbahan tanah liat putih atau kaolin. Jenis tanah ini bersifat silika yang dapat berubah karena suhu panas. ”Stoneware dibuat dengan suhu pembakaran 1.150 sampai 1.300 derajat Celsius,” tandasnya. Yang terakhir, adalah keramik porcelain. Berbahan dasar kaolin dan mineral feldspar, keramik paling bagus ini dibakar dengan suhu mencapai 1.250-1.350 derajat Celsius. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi