Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sungai Brantas di Era Majapahit jadi Jalur Utama Distribusi Industri Tekstil

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 21 Desember 2024 | 14:25 WIB

 

 

TRANSPORTASI AIR: Sungai Brantas di Kabupaten Mojokerto yang menjadi jalur distribusi sejak era Majapahit.
TRANSPORTASI AIR: Sungai Brantas di Kabupaten Mojokerto yang menjadi jalur distribusi sejak era Majapahit.

MAJUNYA industri tekstil pada zaman Kerajaan Majapahit ditopang keberadaan Sungai Brantas sebagai jalur distribusi. Sistem transportasi air yang dibangun sedemikian rupa mampu menyediakan akses lalu lintas barang secara lancar.

Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya Dahana mengatakan, peran penting Sungai Brantas telah diakui jauh sebelum masa Majapahit (abad ke 13-15). Fungsi sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa ini bisa ditengok sejak era Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan (abad ke 11).

’’Brantas mampu menghubungkan daerah pedalaman di Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisi utara Jawa,’’ ujarnya di Museum Pusat Informasi Majapahit Trowulan, kemarin. Selain menjadi jalur transportasi umum, Sungai Brantas disebutnya telah menjadi nadi rantai distribusi dalam industri tekstil.

Menurut Tommy banyak kebijakan Airlangga yang menunjukkan betapa Brantas punya posisi penting itu. Seperti pemindahan ibu kota kerajaan ke dekat sungai dari sebelumnya di Watan Mas yang berada di sekitar Gunung Penanggungan. ’’Ia juga melakukan penaklukan pada wilayah-wilayah di sekitar Sungai Brantas,’’ ujarnya.

Penaklukan daerah membuat penguasaan terhadap jalur transportasi semakin kuat. Ditambah lagi, lanjut Tommy, Airlangga juga membangun Pelabuhan Hujung Galuh di muara Brantas. Pelabuhan regional ini berfungsi untuk melayani perdagangan antarpulau.

Menurut Tommy, industri tekstil sejak dulu membentuk rantai yang panjang. Kebutuhan bahan baku produksi kain dan pemasarannya banyak bergantung ke jaringan perdagangan regional. ’’Karena itu bagi industri tekstil, langkah-langkah yang dikerjakan Airlangga punya dampak yang signifikan,’’ tandasnya.

Teknologi transportasi air sejak era Airlangga kian berkembangkan pada masa Majapahit. Tommy menjelaskan, dengan aliran air yang tenang dan membentang panjang, Sungai Brantas telah menjamin distribusi bahan baku dan hasil produksi dengan lancar. ’’Brantas mengantar industri ini pada kejayaannya pada masa silam,’’ ungkapnya.

Komoditas terkait tekstil seringkali muncul dalam prasasti yang terkait dengan pajak dan transportasi air (sungai) dari abad ke 10-14. Misalnya, Tommy merinci, dalam prasasti Cane ada nama abasana (penjual kain), atukel (penjual gelondong benang kapas), penjual wangkudu (pewarna kain), abalanten (penjual kain belanten), bsar (gulungan sutra) dan kasumbha (pewarna).

Selain itu terdapat kata lawe (benang) di prasasti Wimalasrama. Kemudian, kasumbha di prasasti Linggasuntan, Turryan, Wimalasrama, Cane, dan Patakan. Sedangkan kata kapas disebutkan dalam prasasti Gulung-Gulung, Linggasuntan, Turryan, Jeru-Jeru, Wimalasrama, Cane. Lalu, ada pula kata wungkudu di prasasti Cane, Patakan, Mananjung, dan prasasti Waringin Pitu. (adi/fen)

 

Editor : Hendra Junaedi
#Era Majapahit #transportasi air