AREA diduga bekas permukiman bangsawan era Majapahit ditemukan di Situs Watesumpak, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Kompleks candi yang pernah diekskavasi pada 2022 itu memiliki struktur bangunan berlantai dan berselasar.
Situs Watesumpak berada di tengah perkebunan jagung. Luas areanya sekitar 20x20 meter. Di situs ini ditemukan struk bangunan yang mengarah pada bagian dari kompleks permukiman.
Hal itu melihat adanya pola sudut bangunan, pembagian ruang, dan temuan-temuan lepas. Berbagai petunjuk ini mengindikasikan bahwa kompleks tersebut merupakan permukiman kalangan elite.
’’Permukiman warga biasa itu berjajar dan tidak memiliki atau dibatasi pagar. Sedangkan Situs Watesumpak ini permukiman dengan pembagian ruang yang bisa saja terindikasi ke bangunan sakral dan profan,’’ papar Aerkeolog BPK Wilayah XI Jatim Vidi Susanto kala itu.
Hunian bangsawan dengan masyarakat biasa pada zaman Majapahit tampaknya memang berbeda. Bangsawan tinggal di kawasan ibu kota yang diyakini berada di Kecamatan Trowulan.
Tempat tinggal bangsawan elite lingkaran istana ini berupa gugusan bangunan berpagar yang lazin disebut pawukon. Istilah ini disebut Empu Prapanca dalam mahakaryanya Kitab Negarakertagama.
Empu Prapanca juga memberikan ciri-ciri hunian masyarakat biasa. Itu ditulisnya ketika Raja Hayam Wuruk melawat ke wilayah kekuasaan di Lumajang pada 1359 Masehi.
Disebutkan, rombongan kerajaan berkunjung ke desa-desa tempat tinggal penduduk di sekitar bangunan suci Kalayu (Candi Jabung).
Ketika rombongan sedang istirahat di Mandala Sagara, lereng gunung yang sejuk, Empu Prapanca melancong seorang diri melihat permukiman warga. Dia menggambarkan rumah penduduk berderet-deret dengan pola berjajar.
Berdasarkan keterangan tersebut, diketahui rumah warga yang tinggal di pedesaan bukan berupa gugusan bangunan yang dilingkupi pagar melainkan bangunan-bangunan tunggal yang didirikan secara terpisah tanpa ada pagar keliling.
Vidi mengatakan struktur bangunan di Situs Watesumpak berupa batu bata gosok. Ada beberapa struktur menyerupai candi dengan motif-motif hiasan dengan lantai bertingkat. Sejumlah pembagian ruang dengan susunan bata juga dapat ditemukan.
’’Pembagian ruang kita duga sistemnya menggunakan aspek profan, semi-sakral, dan sakral,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi