ALAT menabung pada zaman Majapahit dibuat tak sekadar sebagai benda terakota. Di sana, perajin juga menuangkan sentuhan kesenian dan teknologi arsitekturnya.
Celengan memiliki beragam motif yang diukir dengan detail. Pun demikian dengan bangunan rumah yang juga berfungsi menyimpan bahan pangan.
Budayawan Mojokerto Putut Nugroho mengungkapkan, daya kesenian masyarakat Kerajaan Majapahit sudah sangat tinggi. Hal itu dapat dilihat dari benda yang mereka ciptakan.
Tak hanya terakota, kerajinan berbahan logam pun dibuat dengan sentuhan artistik adiluhung. ”Dari detail dan motif-motif yang dibuat, tak kalah dengan produk Eropa saat itu,” ungka perupa asal Kota Mojokerto tersebut.
Ya, dalam berbagai aspek, peninggalan Majapahit memang tak pernah luput nilai keindahan. Tengok saja arsitektur candi-candi dari era kerajaan tersebut dibangun secara detail dan tak sekadar indah.
Namun, sarat menyimpan makna. Belum lagi soal patung hingga pusaka-pusaka dengan berbagai motifnya.
Perhatian demikian ini dapat dilihat pada benda di segala tingkat kebutuhan. Dari bangunan agung hingga barang-barang kecil, seperti celengan.
Dari sebuah tanah liat yang dibakar dengan suhu super tinggi, celengan Majapahit dibuat tak sekadar jadi.
Tak hanya sebagai tempat menyimpan uang, celengan memiliki berbagai bentuk dengan detail dan lekukan yang tegas dan rapi. ”Tidak hanya jadi, tetapi juga ada nilai seninya,” imbuh dia.
Di samping itu, dalam arsitektur bangunan, hunian Majapahit memiliki sejumlah kekhasan ornamen-ornamen cantik dan cenderung njelimet.
Sebut saja ornamen penutup tiang, ujung atap, hingga umpak atau tatakan tiang. Semua itu memiliki motif yang detail, sehingga tak sekadar polosan.
Menurut Putut, terakota maupun arsitektur Majapahit dibuat memang bukan hanya soal untuk memenuhi kebutuhan. Lebih dari itu.
Ini adalah hasrat kesenian yang menunjukkan adanya kebutuhan artistik yang luhung di samping kebutuhan profan. ”Karena itu seni kriya Majapahit sangat maju, karena ada kesadaran akan nilai artistik,” tandas Putut. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi