Hal ini terbukti dengan ditemukannya situs-situs peninggalan bersejarah di kawasan yang masuk wilayah Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tersebut.
Studi menyebutkan setidaknya seratus lebih situs ditemukan di kawasan Gunung Penanggungan. Meliputi candi, situs bersejarah, hingga temuan arca.
Salah satu yang menjadi temuan megah adalah Candi Selokelir di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas.
Situs warisan Majapahit dari era Ratu Suhita itu dilengkapi dengan altar hingga panel relief berupa pahatan batu andesit yang menggambarkan manusia, tumbuhan, dan hewan.
Di gunung setinggi 1.653 meter itu juga ditemukan jalur kuno yang melingkar. Jalan makadam dari tumpukan batu itu diyakini sebagai jalur kereta kuda bangsawan Majapahit menuju candi dan puncak Pawitra.
Hal ini selaras dengan keyakinan terhadap Gunung Penanggungan sebagai tempat suci bagi masyarakat Hindu-Buddha saat itu.
”Bahkan istana Majapahit dan semua bangunan di kompleksnya pun menghadap ke Penanggungan,” ujar Anam Anis.
Pemerhati sejarah Majapahit sekaligus Direktur Organisasi Bantuan Hukum LPPA Bina Annisa itu menyebutkan, pada zaman Majapahit, Gunung Penanggungan menjadi pusat kosmologi atau titik acuan arah bangunan.
Karena itu, tempat tinggal raja dan seluruh bangunan di kompleks istana yang diyakini berada di Trowulan menghadap ke arah timur tenggara tersebut.
”Sebagai bentuk kesakralan dan sampai sekarang pun banyak candi-candi tempat persembahan di sana,” tandasnya.
Sampai sekarang pun, Penanggungan berikut tempat-tempat sakralnya masih banyak dikunjungi untuk ibadah.
Baca Juga: Khazanah Arsitektur Majapahit, Rumah Berjarak Cegah Kebakaran Merantak
Salah satunya yakni Petirtaan Jolotundo di lereng Penanggungan Desa Jolotundo, Kecamatan Trawas. Kolam dengan candi besar ini diyakini dibangun pada 977 Masehi itu menjadi tempat para resi menyucikan diri. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah