Dari membangun bendungan untuk mengantisipasi banjir hingga penyimpanan hasil panen guna menghadapi perubahan cuaca.
Cara itu membuat jumlah produksi beras melimpah hingga diekspor.
Fenomena harga beras mahal yang belakang terjadi sepertinya tak dirasakan masyarakat Majapahit 700 tahun silam.
Sejak sebelum kerajaan yang eksis di abad ke-13 sampai 16 Masehi itu, beras memang sudah menjadi komoditas utama.
Kondisi ini seiring dengan pesatnya perkembangan sektor pertanian pada zaman kuno tersebut.
”Pertanian adalah penyangga utama kehidupan perekonomian pada masa Majapahit,” kata anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Timur Edi Triharyantoro.
Melimpahnya produksi beras, baik hasil pertanian sawah maupun padi dari ladang (gogo), saat itu dipengaruhi kondisi tanah yang subur.
Kawasan pusat kerajaan yang diasumsikan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, misalnya, diapit gugusan gunung dan aliran sungai.
Alih-alih kekurangan bahan pangan, hasil panen pun dijual ke luar Nusantara karena saking makmurnya.
”Karena Majapahit sudah mencapai swasembada beras dan produksinya surplus,” imbuh pria 69 tahun yang tinggal di Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, tersebut.
Keberhasilan pertanian Majapahit, khususnya pada masa kejayaan ketika dipimpin Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, tercapai berkat penerapan strategi ketahanan pangan yang saling melengkapi.
Dari penerapan mitigasi bencana alam, kemampuan menyimpan cadangan pangan, hingga kebijakan distribusi dan penyediaan irigasi.
Mitigasi bencana misalnya, jelas Edi, dijalankan dengan membangun bendungan. Berdasarkan penelitian arkeolog Belanda Maclaint Pont ditemukan sedikitnya 20 waduk di sekitar pusat kerajaan.
Selain sebagai sumber irigasi yang diatur oleh petugas juru air, pembuatan kolam besar juga bertujuan mengatur air supaya tidak menimbulkan banjir.
Hal ini dilakukan karena pada zaman Kahuripan, era sebelum Majapahit, pernah terjadi bencana banjir sebagaimana yang tercatat dalam Prasasti Kamalagyan (1037 Masehi).
Kala itu, Raja Airlangga membangun bendungan karena luapan Sungai Brantas merusak desa dan persawahan. Dengan bendungan aliran sungai terpecah dan bisa dilalui perahu yang membawa barang dagangan.
Edi menuturkan, tak semua hasil panen menjadi komoditas. Masyarakat juga menyimpan cadangan bahan pangan untuk mengantisipasi perubahan cuaca ataupun musim paceklik.
Hasil panen yang disimpan terutama bahan kering seperti beras, singkong, jagung.
Di zaman itu, teknik pengawetan dengan cara pengeringan, pengasinan, dan pengasapan juga telah diterapkan untuk menyimpan ikan, daging, maupun telur.
”Cara ini membuat masyarakat bisa bertahan di berbagai musim,” terang mantan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda itu. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah