Budayawan Mojokerto Putut Nugroho mengungkapkan, aktivitas pandai besi tergambar dalam relief Candi Sukuh di Jawa Tengah. Tampak seseorang mengoperasikan tabung kayu peniup udara secara manual.
Aktivitas itu berkaitan dengan proses pembuatan perkakas berbahan besi. ’’Dari persenjataan sampai peralatan sehari-hari dan bertani,’’ tuturnya.
Proses penempaan besi itu dilakukan secara sederhana. Material yang telah dipanaskan dipalu berkali-kali sampai terbentuk sesuai keinginan.
Proses pembuatan perkakas dari besi demikian masih dapat ditemui dalam kehidupan tradisional saat ini.
Di samping perkakas, masyarakat Majapahit juga mengolah logam emas menjadi barang-barang cantik, sebut saja cincin dan anting-anting.
Perhiasan ini diproses dengan cara pembakaran emas di cawan khusus bernama kowi.
Emas dilelehkan dalam kowi dengan pembakaran bersuhu luar biasa tinggi sebelum masuk alat cetak. Dengan kowi, Majapahit juga memproduksi uang kepeng hingga alat musik sejenis gamelan.
Kowi sebagai benda cagar budaya ditemukan kurun 1924-1980 melalui ekskavasi arsitek Belanda Henry Maclaine Pont bersama mantan Bupati Mojokerto RAA Kromodjojo.
Lebih dari 30 buah kowi mayoritas ditemukan di wilayah Desa Pakis, Kecamatan Trowulan. Kini benda cagar budaya itu disimpan di Museum Pusat Informasi Majapahit, Trowulan. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah