Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gerabah Era Majapahit, Guci Impor untuk Fermentasi

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 27 Januari 2024 | 15:35 WIB

ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.
ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.
AKULTURASI dan perdagangan lintas wilayah memengaruhi kehidupan masyarakat Majapahit. Tak terkecuali maraknya perabotan berbahan keramik dari Cina, dinasti yang eksis jauh sebelum era Raja Hayam Wuruk hadir. Berbagai terakota itu antara lain berguna untuk proses fermentasi tuak atau kecap. 

Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis, mengatakan, kehidupan pada masa Majapahit memang telah memproduksi terakota dari tanah liat.

Mereka mengolah bahan sederhana itu menjadi berbagai barang yang berguna untuk keseharian. 

Namun, lebih dari itu, proses pembakaran tanah yang lebih matang datang dari penduduk Tiongkok. Barang-barang yang dikenal sebagai keramik itu masuk ke wilayah Nusantara melalui jalur perdagangan.

’’Karena di zaman itu masyarakat belum bisa membuat keramik, meskipun pada akhirnya memproduksi juga, hanya saja tidak sekelas Cina,’’ tutur pengacara 65 tahun itu. 

Proses masuknya terakota dari luar negeri ini bisa ditelisik dari temuan-temuan artefak kala itu. Semisal, guci fermentasi koleksi Museum Gubuk Wayang yang kini dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.

Gentong bermulut kecil dan bertelinga itu diyakini berasal dari zaman Dinasti Song (960-1279 masehi). Benda tersebut dibawa pedagang Tiongkok ke Majapahit. 

Menurut Anam Anis, terakota jenis ini akhirnya menjadi barang keseharian karena proses barter.

ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.
ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.

’’Masyakakat menjual barang, misal hasil bumi terus ditukar dengan keramik ini,’’ ujar Direktur LPPA Bina Annisa tersebut.

Dalam kegunaannya, guci keramik itu berfungsi untuk memfermentasikan tuak atau kecap. Telinga di bahu guci berguna untuk mengikat tutup guci sekaligus supaya mudah digantung. 

Terakota yang teridentifikasi dari Cina juga meliputi guci keramik besar. Seperti jambangan air buatan Majapahit, guci ini lebih kuat dan umumnya dimiliki oleh kalangan mampu alias bangsawan.

Seiring waktu, guci keramik banyak diproduksi di Thailand dan Filipina lalu diperdagangkan ke berbagai tempat di Nusantara. 

Secara bahan, terakota keramik dari Cina memang lebih kuat karena dibuat dari tanah liat putih. Mineral bernama kaolin itu dibentuk dengan pembakaran bersuhu 1.150-1.300 derajat celsius.

Tak hanya berupa bejana, keramik-keramik yang beredar pada masa abad ke-13 sampai 15 masehi itu juga meliputi piring, mangkuk, periuk, sendok, vas, hingga ubin. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #mojosains #mojokerto #gerabah