Namun, beberapa tahun setelahnya tingkat wisatawan terus mengalami penurunan.
Ayuhanafiq memaparkan, mulai sepinya pengunjung seiring dengan menurunnya kepercayaan terhadap khasiat dari air panas.
Menurutnya, hal itu juga tidak lepas dari pesatnya dunia medis dan terjangkaunya pelayanan kesehatan.
Di samping itu, menurunnya pengunjung juga karena sumber air yang perlahan juga mulai surut. ’’Karena sepi, pengunjung sudah tidak lagi ditarik retribusi,’’ sambung Yuhan.
Untuk meramaikan lagi, Pemkot Mojokerto berupaya untuk mengembangkannya menjadi kolam air panas. Bekas sumur bor yang ada di Sekar Putih kemudian disentuh pekerjaan fisik untuk dibangun pemandian yang lebih ideal.
Pada 1980, Wali Kota Samioedin membangun kolam pemandian permanan yang dinamakan Tirta Suam. Perwajahan baru padusan air panas tersebut membuat pengunjung kembali berdatangan.
Sayangnya, daya tarik pemandian air panas alami itu tidak mampu bertahan lama.
Hingga akhirnya Pemkot Mojokerto memutuskan untuk menutup total objek wisata tersebut. Kondisinya kini juga kian memprihatinkan karena sumber air panas sudah mati.
Tinggal padusan di Kelurahan Gunung Gedangan yang sumber airnya masih mengalir. Beberapa warga juga masih memanfaatkannya kolam yang masih berupa tanah itu untuk berendam air hangat. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah