Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, lapangan terbang di Karangdiyeng dipersiapkan pada kisaran tahun 1942.
Keberadaannya menjadi bagian dalam menghadapi invasi tentara Jepang di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. ”Karangdiyeng dipilih menjadi salah satu dari lapangan terbang alternatif,” tuturnya.
Karena itu, lapangan terbang dibangun dengan cukup sederhana.
Karena hanya diperuntukkan bagi jenis pesawat tempur ringan yang dinaungi Marine Luchtvaart Dienst (MLD) atau angkatan udara Hindia Belanda.
Di sisi lain, pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, lapangan udara Karangdiyeng juga difungsikan sebagai tempat pendaratan sekaligus penerbangan penyangga dari lapangan terbang utama di Surabaya dan Malang.
Sehingga, keberadaannya juga dikamuflasekan agar tidak mudah diketahui lawan.
”Lokasinya tersembunyi supaya tidak teridentifikasi oleh intelijen Jepang. Sehingga landasan pacu juga hanya berupa tanah,” sebutnya.
Namun, dalam operasionalnya, jelas Yuhan, lapangan terbang Karangdiyeng tak hanya dijadikan sebagai landasan pesawat ringan amfibi jenis Catalina.
Untuk memperkuat pertahanan, kolonial juga mendaratkan pesawat bomber alias pengebom dari udara.
Rencananya, pesawat bomber akan dilepas landas dari Australia pada 11 Februari 1942. Semula, kedua pesawat tempur tersebut landing di lapangan terbang Surabaya.
Namun, dengan alasan keamanan, titik pendaratan dialihkan ke Mojokerto. ”Akhirnya pesawat didaratkan di Karangdiyeng karena dinilai lebih aman,” jelasnya. (ram)
Dengan berat kosong sekitar 17 ton, armada dengan total panjang 22,5 meter ini tentu tidak tergolong jenis pesawat ringan.
Sehingga, persiapan pendaratan dua pesawat B-17 di landasan pacu Karangdiyeng perlu dilakukan secara khusus.
”Karena lapangan terbang Karangdiyeng tidak dipersiapkan untuk pesawat berat,” ulasnya.
Maka, sehari sebelum pendaratan, lapangan terbang Karangdiyeng dilakukan peningkatan. Untuk mempersingkat waktu, terang Yuhan, landasan dilapisi dengan anyaman bambu agar mampu menopang beban dari pesawat produksi Boeing itu.
Dengan waktu singkat, pada 10 Februari 1942 pemerintah kolonial mengerahkan warga setempat untuk mencari bambu sebanyak-banyaknya untuk dijadikan gedek.
Setelah tuntas terpasang, pada 12 Februari 1942 dua B-17 mulai terlihat di langit Mojokerto dan melakukan pendaratan di Karangdiyeng. ”Kedua pesawat bomber akhirnya bisa mendarat dengan aman,” papar dia. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah