Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tradisi Menginang pada Masa Majapahit, Seperti Teh atau Kopi untuk Tamu

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 6 Januari 2024 | 16:55 WIB

ARKEOLOGIS: Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, memiliki relief yang menggambarkan aktivitas menginang berikut tempat sirih dan tempat meludah.
ARKEOLOGIS: Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, memiliki relief yang menggambarkan aktivitas menginang berikut tempat sirih dan tempat meludah.
SELAIN soal kesehatan, kegiatan menginang masyarakat Jawa kuno juga sebagai bentuk medium tata krama. Kalau sekarang teh atau kopi, dulu tamu yang datang ke rumah ditawari kinang.

Budayawan Mojokerto Putut Nugroho menyatakan, tradisi menginang eksis jauh sebelum masa Kerajaan Majapahit.

Sampai sekarang, masyarakat desa di Nusantara juga masih melakukannya. ”Nginang menjadi bagian sehari-hari masyarakat,” ucapnya.

Catatan oleh indonesianis asal Selandia Baru, Anthony Reid menyebut , tradisi nginang hadir dalam ritual kelahiran, perkawinan, hingga kematian.

Bahkan, aktivitas penyembuhan dan persembahan kepada roh leluhur juga tak lepas dari unsur sirih dan pinang ini.

Saking lekatnya, menawarkan lintingan sirih kepada tamu menjadi tradisi penghormatan. Kalau sekarang tak ubahnya jamuan minuman teh atau kopi. Medium tata krama ini ada di tataran istana hingga desa.

”Hal-hal semacam ini bisa diperkuat dengan relief-relief candi yang terkait dengan Majapahit,” tandasnya. Relief itu antara lain tergambar di Candi Borobudur di Magelang dan Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah. (adi/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #tradisi #mojokerto #menginang