Di Mojokerto, poliklinik menjadi faskes pertama yang membuka pelayanan kesehatan dasar masyarakat.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, keberadaan faskes di Mojokerto diperkirakan baru eksis pada kisaran 1926.
Pelayanan kesehatan masyarakat itu dinamakan poliklinik atau kini setingkat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
Namun, pelayanannya tidak seperti puskesmas yang ada saat ini. Karena faskes tersebut semula dibangun untuk penanganan kesehatan bagi para pekerja pabrik gula (PG). ”Karena yang membiayai pendirian poliklinik adalah pabrik gula,” terangnya.
Tak hanya aksesnya saja yang terbatas, tetapi keberadaannya pun juga masih sangat minim.
Pada dekade akhir 1920-an, hanya terdapat dua poliklinik di wilayah Mojokerto. Salah satunya berada di wilayah utara Sungai Brantas yang dibangun PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, Poliklinik Gempolkrep tergolong faskes yang sederhana.
Karena faskes tersebut bukan dipimpin oleh dokter, melainkan dari tenaga kesehatan (nakes) di bidang keperawatan. ”Saat itu Poliklinik Gempolkrep juga masih dalam masa uji coba,” tandasnya.
Pelayanan perlahan mulai ditingkatkan dengan menambah bantuan tenaga medis. Sejumlah nakes didatangkan dari rumah sakit (RS) di Kota Surabaya.
”Dari yang awalnya diperuntukkan bagi buruh pabrik gula, poliklinik juga menerima pelayanan dari masyarakat umum,” tandasnya.
Selain di Gempolkrep, poliklinik juga didirikan oleh PG Ketanen, Kecamatan Kutorejo. Kedua faskes ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan.
Meski membuka pelayanan umum, namun tingkat kunjungan masih terbilang rendah. Sebab, tutur Yuhan, masyarakat masih kesulitan ekonomi sehingga keberatan untuk membayar biaya berobat.
”Sehingga hanya orang yang mampu saja yang pada saat sakit datang ke poliklinik,” imbuhnya. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah