Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Faskes Pertama di Mojokerto, Dirikan Poliklinik hingga Bangun Rumah Sakit, Ini Lho Cerita Lengkapnya!

Fendy Hermansyah • Kamis, 7 Desember 2023 | 15:55 WIB

PELAYANAN: Poliklinik Ketanen yang dinaungi Pabrik Gula Ketanen di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
PELAYANAN: Poliklinik Ketanen yang dinaungi Pabrik Gula Ketanen di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
PADA masa kolonial, pelayanan fasilitas kesehatan (faskes) masih sulit dijangkau masyarakat. Selain keberadaannya yang terbatas, hanya kalangan tertentu yang dapat mengakses pengobatan.

Di Mojokerto, poliklinik menjadi faskes pertama yang membuka pelayanan kesehatan dasar masyarakat.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, keberadaan faskes di Mojokerto diperkirakan baru eksis pada kisaran 1926.

Pelayanan kesehatan masyarakat itu dinamakan poliklinik atau kini setingkat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

Namun, pelayanannya tidak seperti puskesmas yang ada saat ini. Karena faskes tersebut semula dibangun untuk penanganan kesehatan bagi para pekerja pabrik gula (PG). ”Karena yang membiayai pendirian poliklinik adalah pabrik gula,” terangnya.

Tak hanya aksesnya saja yang terbatas, tetapi keberadaannya pun juga masih sangat minim.

Pada dekade akhir 1920-an, hanya terdapat dua poliklinik di wilayah Mojokerto. Salah satunya berada di wilayah utara Sungai Brantas yang dibangun PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg.

PERTAMA: Poliklinik Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, yang menjadi salah satu fasilitas kesehatan pertama yang dibangun di Kabupaten Mojokerto.
PERTAMA: Poliklinik Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, yang menjadi salah satu fasilitas kesehatan pertama yang dibangun di Kabupaten Mojokerto.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, Poliklinik Gempolkrep tergolong faskes yang sederhana.

Karena faskes tersebut bukan dipimpin oleh dokter, melainkan dari tenaga kesehatan (nakes) di bidang keperawatan. ”Saat itu Poliklinik Gempolkrep juga masih dalam masa uji coba,” tandasnya.

Pelayanan perlahan mulai ditingkatkan dengan menambah bantuan tenaga medis. Sejumlah nakes didatangkan dari rumah sakit (RS) di Kota Surabaya.

”Dari yang awalnya diperuntukkan bagi buruh pabrik gula, poliklinik juga menerima pelayanan dari masyarakat umum,” tandasnya.

Selain di Gempolkrep, poliklinik juga didirikan oleh PG Ketanen, Kecamatan Kutorejo. Kedua faskes ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan.

Meski membuka pelayanan umum, namun tingkat kunjungan masih terbilang rendah. Sebab, tutur Yuhan, masyarakat masih kesulitan ekonomi sehingga keberatan untuk membayar biaya berobat.

”Sehingga hanya orang yang mampu saja yang pada saat sakit datang ke poliklinik,” imbuhnya. (ram/ron)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah