Moda transportasi feeder atau pengumpan itu yang berfungsi mengangkut barang ke wilayah ibu kota kerajaan melalui kanal-kanal.
Putut Nugroho menyatakan, berbagai barang dagangan diangkut ke pelabuhan Sungai Brantas menggunakan kapal-besar besar.
Saking besarnya, kapan zaman Jawa kuno itu digambarkan memiliki panjang hingga 136 meter.
Dengan ukuran demikian, kapal ini hanya berlabuh di dermaga utama di Canggu.
Berbagai kebutuhan logistik itu kemudian dibawa ke daerah Ibu Kota Wilwatikta menggunakan jong/jung alias perahu-perahu hiliran atau perahu kecil.
Tak heran, lanjutnya, banyak ditemukan pula jejak peninggalan dermaga di sekitar Trowulan.
’’Dari Canggu ganti dengan kapal kecil dan berlabuh seperti di Bejijong yang saat itu tidak menutup kemungkinan adalah kawasan semacam dermaga kecil juga,’’ terang anggota Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mojokerto itu.
Bentuk perahu kecil itu tergambar di relief pendapa teras luar Candi Penataran, Blitar. Kapal yang melintas di Sungai Brantas itu digerakkan menggunakan layar dan dayung renteng.
Data ini berkelindan dengan lanskap Kota Majapahit yang dikelilingi kanal-kanal.
Selain sebagai penyokong sistem irigasi pertanian, sungai kecil yang menyambung ke segala penjuru area inti kerajaan itu juga menjadi jalur transportasi perdagangan.
’’Barang-barang yang datang dengan kapal besar diangkut menggunakan kapal kecil ini,’’ tandasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah