Dalam catatan sejarah lisan, mereka juga mampu merekayasa sumber air dengan memanfaatkan fungsi pepohonan.
Tak kurang penemuan situs sumur kuno di berbagai tempat di Mojokerto.
Dalam beberapa tahun terakhir saja, puluhan sumur bekas muncul di Trowulan, Kutorejo, hingga Kemlagi.
Dua bahan utama sumur terdiri dari struktur bata dan terakota dinding keliling dengan sebutan jobong. Dua bahan itu sama-sama terbuat dari tanah.
Keberadaan sumur berkaitan erat dengan kebutuhan air masyarakat di abah 13-15 masehi tersebut.
Hal ini membuktikan pengetahuan menggali tanah untuk menemukan sumber air telah dikuasai.
’’Sumber air di Majapahit, khususnya sekitar ibu kota Trowulan tentu melimpah mengingat kawasan ini diapit gunung dan sungai,’’ kata anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Edi Triharyantoro, kemarin.
Tak hanya itu, masyarakat Majapahit disinyalir juga telah menguasai teknik rekayasa pengolahan air.
Selain seperti membangun kanal dan bendungan misalnya, mereka juga bisa menghasilkan sumber air di daerah yang ’’mustalih’’.
Catatan sejarah itu setidaknya dapat dilihat di Situs Sumur Gantung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Kemlagi.
Situs Sumur Gantung berupa tatanan batu bata yang menggunung setinggi kira-kira 3 meter.
Sebelum seperti sekarang yang kondisinya cenderung berantakan, bangunan tersebut merupakan sebuah candi dengan ukuran 6x6 meter. Bagian tengah candi tersebut berupa lubang serupa sumur.
Juru Pelihara Situs Sumur Gantung, Sukanan, 54, menceritakan, posisi sumur dalam candi tersebut lebih tinggi dibanding aliran sungai di dekatnya.
Agar menghasilkan air, pejabat Majapahit kala itu menanam berbagai pohon rimbun di sekitar candi untuk menarik sumber air.
’’Pembangunan candi dengan sumur ini berkaitan dengan kisah persembahan untuk putri kerajaan,’’ tuturnya.
Berbagai upaya pembuktian terkait sumur tersebut pernah dilakukan. Misalnya, terungkapnya fakta bahwa sisi utara candi dulu pernah memanjang aliran sungai besar.
Aliran tersebut berada sekitar setengah meter dari candi. Bekas sungai itu pernah dibuktikan dengan penggalian tanah yang menghasilkan pasir dan sempat ditambang warga.
Sukanan menyebut, pada 1995, terdapat pula kegiatan pengukuran ketinggian laut di lokasi tersebut.
Saat kegiatan itu, BPCB (sekarang BPK XI Trowulan) membawa peta zaman Belanda.
Selain itu, penalaran terhadap hubungan pohon dan sungai juga diinterpretasikan sebagai cara untuk menarik sumber air.
Menurut cerita dari sesepuhnya, area candi dulunya dipenuhi dengan pohon-pohon berukuran besar. Seperti pohon asem, pohon kepuh, pohon serut, dan pohon kemiri.
Pohon itu berdiri di antara tatanan batu bata. Pohon-pohon itu terakhir berdiri tahun 80-90an. ’’Sumur terisi air dari resapan di akar-akar pohon,’’ terangnya.
Penemuan bermacam jenis benda-benda kuno di area permukiman Desa Berat Wetan juga semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan ini bagian dari kehidupan era Majapahit.
Edi Triharyantoro menyatakan, Situs Candi Sumur masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Namun demikian, catatan sejarah setidaknya menunjukkan tanda-tanda jika kemampuan merekayasa sumber air itu sudah muncul sejak zaman itu. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah