Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Celengan Era Majapahit, Bukti Cemerlangnya Perekonomian Wilwatikta

Martda Vadetya • Sabtu, 29 Juli 2023 | 12:05 WIB

JEJAK SEJARAH: Celengan babi dijadikan masyarakat Majapahit sebagai wadah menyimpan uang.
JEJAK SEJARAH: Celengan babi dijadikan masyarakat Majapahit sebagai wadah menyimpan uang.
KONDISI perekonomian kerajaan Majapahit tak hanya bisa dilihat dari perkasanya sektor perdagangan kala itu. Temuan artefak celengan atau tabungan dari bahan terakota jadi bukti pendukung lainnya.

Masyarakat yang sudah mengenal budaya menabung, menyisihkan sebagian  uang untuk pemenuhan kebutuhan di masa depan.

Celengan diartikan sebagai tabung atau wadah untuk menyimpan uang. Di mana, celengan saat ini dengan model dan bahan yang beragam. Mulai dari bahan plastik maupun besi yang dilengkapi dengann kunci.

Bahkan, masyarakat modern kini cenderung memanfaatkan mudahnya teknologi perbankan. Salah satunya, anjungan tunai mandiri (ATM). Yang bisa digunakan untuk menyetor dan menarik tabungan kapan pun saat dibutuhkan.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan celengan pada masa Majapahit di abad ke 13-16 Masehi. Para arkeolog dan peneliti mendapati temuan celengan berbahan terakota di penjuru wilayah bekas kekuasaan Wilwatikta.

Bentuknya variatif. Mulai dari yang sederhana seperti guci, karakter babi, domba, gajah, kura-kura, hingga karakter kepala manusia. Di antaranya, menjadi koleksi yang dipajang di museum Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM).

”Bisa dibilang, salah satu celengan tertua ada di PIM. Dan bentuknya beragam, dari karakter hewan maupun manusia,” sebut Kasub Unit Koleksi Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.

Wadah tabungan kuno kala itu dibuat dari bahan tanah liat seperti tembikar pada umumnya. Yang diproses dengan pembakaran dan pengeringan dengan suhu di atas 1000 derajat celcius.

Tommy menyebut, celengan kuno banyak ditemukan di wilayah Trowulan, ibu kota Majapahit, dengan bentuk babi. Celengan dilengkapi dengan lubang kecil di bagian atas untuk memasukkan uang koin yang berlaku kala itu.

Yakni, mata uang Ma, Kepeng, dan Gobog. Sehingga, jika ingin menggunakan uang tabungan, celengan harus dipecahkan.

”Kebiasaan menabung dengan celengan ini penggunaannya seiring dengan berlakunya uang koin di Majapahit. Banyaknya temuan celengan karena penggunaan uang koin kala itu sudah banyak,” beber alumnus Fakultas Ilmu Budaya UNAIR ini.

Penggunaan uang koin Ma maupun kepeng masuk ke Jawa pada awal abad ke-13 Masehi. Sejumlah sumber menyebut, kebiasaan menabung dalam celengan pada masyarakat Jawa terpengaruh budaya Tionghoa.

Dalam mitologi China, celeng (babi dalam bahasa Jawa) merupakan binatang pembawa rezeki. Konsep menabung kala itu pun sejalan dengan kepercayaan Hindu-Buddha yang berkembang di Nusantara. Yang meyakini Dewa Kuwera sebagai dewa kekayaan atau kemakmuran.

Bahkan, ada filosofi lain yang terkandung dari masifnya masyarakat Majapahit memanfaatkan celengan untuk menabung kala itu.

”Celeng (bahasa Jawa dari babi) itu kan hewan yang makannya banyak dan berperut besar. Jadi diasosiasikan dengan kemampuan menyimpan kekayaan dalam jumlah yang banyak,” tutur Tommy.

Saking melekatnya celengan sebagai wadah tabungan masyarakat Jawa kuno, membuat celengan dalam kosa kata bahasa Indonesia menjadi berkembang sebagai kata lain dari menabung. (vad/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#perekonomian #mada #Majapahit #kerajaan #cagar budaya #cemerlang #gajah #wilwatikta #Celengan #raja #CELENG #soekarno #trowulan #museum