Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Pembangunan Bungker di Kota Mojokerto, Buntut Pembuatan Perlindungan Bambu Tak Terealisasi

Rizal Amrulloh • Kamis, 27 Juli 2023 | 13:05 WIB

DIIDENTIFIKASI: TACB Provinsi Jawa Timur saat melakukan pengkajian pada bungker yang berada di kompleks kantor BPKPD Kota Mojokerto, Juni lalu.
DIIDENTIFIKASI: TACB Provinsi Jawa Timur saat melakukan pengkajian pada bungker yang berada di kompleks kantor BPKPD Kota Mojokerto, Juni lalu.
SEMENTARA itu, bungker beton sedianya tidak termasuk dalam rencana pemerintah kolonial dalam membuat tempat perlindungan. Karena semula, Belanda merancang sistem perlindungan publik yang memiliki daya tampung lebih besar menggunakan bahan bambu.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menambahkan, dipilihnya bambu sebagai material untuk membangun tempat perlindungan disebabkan kondisi tanah di Kota Mojokerto.

Berada di dekat Sungai Brantas, penggalian tanah akan mengakibatkan rembesan air ke dalam lubang. ”Sehingga, tempat perlindungan serangan udara awalnya akan dibuat di atas permukaan tanah,” ujarnya.

Bahan yang digunakan terbuat dari anyaman bambu. Dengan bahan tersebut, sistem perlindungan publik rencana akan disebar di sejumlah titik di wilayah Kota Mojokerto untuk dapat menampung hingga 20 ribu warga.

BERNILAI SEJARAH: Bungker di halaman Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jalan A. Yani, Kota Mojokerto.
BERNILAI SEJARAH: Bungker di halaman Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jalan A. Yani, Kota Mojokerto.

Tetapi, dalam proses pembangunannya, dinas pertahanan udara kolonial mengalami kendala. Meski telah memasok puluhan ribu bambu, namun pekerjaan yang dilakukan secara swadaya tidak mendapat dukungan dari penduduk setempat.

Akibatnya, warga berkebangsaan Eropa dan masyarakat di kampung Pecinan mencari alternatif dengan membuat tempat perlindungan dengan membuat lubang bawah tanah.

Untuk mencegah agar tidak tergenang air, maka pembangunan menggunakan material beton. ”Karena partisipasi warga sangat rendah, maka pembuatan perlindungan berbahan bambu itu tidak kunjung terealisasi,” pungkas Yuhan. (ram/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kota #Pembuatan #perlindungan #bungker #mojokerto #bambu #bahan #sejarawan