Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menambahkan, dipilihnya bambu sebagai material untuk membangun tempat perlindungan disebabkan kondisi tanah di Kota Mojokerto.
Berada di dekat Sungai Brantas, penggalian tanah akan mengakibatkan rembesan air ke dalam lubang. ”Sehingga, tempat perlindungan serangan udara awalnya akan dibuat di atas permukaan tanah,” ujarnya.
Bahan yang digunakan terbuat dari anyaman bambu. Dengan bahan tersebut, sistem perlindungan publik rencana akan disebar di sejumlah titik di wilayah Kota Mojokerto untuk dapat menampung hingga 20 ribu warga.
Tetapi, dalam proses pembangunannya, dinas pertahanan udara kolonial mengalami kendala. Meski telah memasok puluhan ribu bambu, namun pekerjaan yang dilakukan secara swadaya tidak mendapat dukungan dari penduduk setempat.
Akibatnya, warga berkebangsaan Eropa dan masyarakat di kampung Pecinan mencari alternatif dengan membuat tempat perlindungan dengan membuat lubang bawah tanah.
Untuk mencegah agar tidak tergenang air, maka pembangunan menggunakan material beton. ”Karena partisipasi warga sangat rendah, maka pembuatan perlindungan berbahan bambu itu tidak kunjung terealisasi,” pungkas Yuhan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah