”Kajian sejarah maritim (Indonesia) dari lembaga penelitian Universitas Diponegoro Semarang menyebutkan, kalau saat itu (abad 16 Masehi) nakhoda kapal Nusantara sudah memegang peta,” sebut pemerhati tinggalan budaya Majapahit, Anam Anis.
Hal tersebut menggambarkan saat Ludovico di Varthema, penjelajah asal Italia, melakukan perjalanan pada dari Kalimantan ke Jawa pada tahun 1506. Saat itu, Ludovico melihat nakhoda kapal yang ditumpanginya sudah mengantongi peta dengan sejumlah garis memanjang dan melintang. Namun begitu, kala itu belum semua pelaut atau nelayan Majapahit menguasai kartografi.
Beberapa tahun berikutnya, pelaut sekaligus penjelajah Portugis masuk ke wilayah Nusantara. Dengan peradaban barat yang selangkah lebih maju, bangsa Portugis menyusun peta jalur pelayaran di wilayah Asia Tenggara dan Nusantara. Namun, para pelaut asing tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan observasi mereka. Melainkan juga berdasarkan keterangan pelaut Nusantara. ”Untuk membuat peta jalur pelayarannya di wilayah kekuasaan Majapahit, pelaut Portugis ini berdasarkan keterangan dan pengalaman pelaut setempat,” terangnya.
Dalam catatan sejarah, sebagian kartografi Portugis tersebut menggunakan toponim Melayu yang saat itu menjadi bagian dari Nusantara. Di antaranya untuk menggambarkan pesisir pantai wilayah Vietnam. ”Itu menjadi salah satu landasan bahwa pelaut Majapahit mampu berlayar (dan menguasai jalur pelayaran) di wilayah Nusantara,” tukas Anam. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah