Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Berkembangnya Moda Transportasi Darat di Mojokerto

Fendy Hermansyah • Kamis, 13 April 2023 | 13:37 WIB
TRANSPORTASI: Armada bus yang hingga kini masih bertahan melayani angkutan jurusan Mojokerto-Pasuruan.
TRANSPORTASI: Armada bus yang hingga kini masih bertahan melayani angkutan jurusan Mojokerto-Pasuruan.
Timbul Persaingan Antara Kereta Api dan Armada Bus

SEBELUM kendaraan bermotor eksis, alat transportasi tradisional menjadi andalan masyarakat di Mojokerto. Seiring keberadaan pemerintahan kolonial, kendaraan bermesin mulai berkembang hingga moda transportasi darat mengalami kemajuan cukup pesat.

Sejarawan Mojokeryo Ayuhanafiq menuturkan, armada kereta api menjadi sarana transportasi yang lebih dulu eksis sejak akhir abad ke-19. Selain digunakan sebagai sarana pengangkut tebu ke pabrik gula, rel juga dipasang untuk menunjang mobilitas masyarakat dan barang di beberapa jalur. ”Kereta api kemudian mulai menggeser moda transportasi tradisional yang dianggap lamban,” terangnya.

Di wilayah Mojokerto Raya, sejumlah perusahaan kereta api membuka trayek yang terhubung hingga daerah tetangga. Di antaranya Oost-Jawa Stoomtram Maatschappij (OJS) yang melayani jalur Mojokerto-Mojoagung, Kabupaten Jombang.
Selain itu, rel juga membentang ke arah timur untuk melayani angkutan dari Mojokerto-Mojosari yang dioperasionalkan Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM).

Photo
Photo
TRAYEK: Halte di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Mojosari sebagai tempat penumpang menunggu bus. (Rizal Amrulloh/JPRM)

Sementara di utara sungai Brantas juga terdapat jalur rel yang menghubungkan Mojokerto-Ploso, Jombang, milik Staatsspoorwegen (SS). ”Meski kereta api memiliki kapasitas penumpang yang besar, namun jadwal perjalanannya tidak bisa dilakukan setiap saat,” tandas dia.

Sehingga, pada kisaran 1930-an mulai muncul persaingan moda transportasi darat di Mojokerto. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, hal itu seiring diperbaikinya jaringan jalan raya oleh pemerintah kolonial.

Sejumlah ruas jalan dilakukan pengaspalan guna menunjang mobilitas masyarakat maupun angkutan barang. Bahkan, peningkatan akses jalan juga menyasar hingga ke wilayah pelosok yang tidak terjangkau kereta api. ”Ketika jalan sudah terbangun, kemudian muncul armada bus yang menawarkan jadwal keberangkatan dengan banyak pilihan waktu,” ulas dia.

Keberadaan angkutan umum berkapasitas maksimal 20 penumpang ini mendapat antusias tinggi dari masyarakat. Meskipun, trayek utama yang dibuka di wilayah Mojokerto berdampingan dengan jalur miliki perusahaan kereta api.

Photo
Photo
TETENGER: Jalur perlintasan kereta api MSM yang pada masa kolonial dioperasikan berdampingan dengan ruas jalan Mojokerto-Mojosari.

Perusahaan otobus yang pernah mengembangkan bisnis jasa transportasi di Mojokerto antara lain Tan Luxe dan LLH. Untuk mendukung angkutan umum, maka dibangun standplats atau terminal yang tersebar di sejumlah titik di Mojokerto.

Antara lain didirikan di dekat Alun-Alun Kota Mojokerto. Terminal ini memiliki layanan trayek ke Mojosari, Jombang, Ploso, hingga ke Surabaya. ”Di terminal juga dilengkapi dengan stasiun pengisian BBM,” ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Selain itu, terminal juga dibangun di Mojosari. Tepatnya lokasi simpang tiga Jalan Airlangga-Jalan Hayam Wuruk atau kini dijadikan sebagai Taman Lalu Lintas Mojosari. Yuhan menyebut, terminal tersebut membuka trayek bus jurusan Mojokerto, Japanan, dan Krian. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #mojokerto punya cerita #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #transportasi tradisional #kerajaan majapahit #transportasi darat #mojopedia #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde