Di masa berdirinya Majapahit, abad 13-15 Masehi, berbagai persenjataan telah dimanfaatkan untuk memperkuat bala tentara. Mulai dari gada, pedang, busur dan anak panah, hingga tombak ataupun trisula. Berbagai senjata tersebut digunakan tentara Majapahit di sejumlah pertempuran. Hingga kerajaan bercorak Hindu Buddha ini mampu menyatukan dan mempertahankan Nusantara.
Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D menerangkan, jika secara umum senjata tradisonal yang digunakan di era Majapahit memiliki dua fungsi. Selain digunakan di medan perang, senjata tajam kala itu juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
’’Ada sebuah teori dari Anthony Reid (pakar sejarah) yang menjelaskan kalau alat-alat atau senjata dari logam itu awalnya digunakan untuk perang serta mencapai kekuasaan. Namun, sesudahnya alat itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian,’’ jelasnya.
Tombak dan panah salah satunya, juga dimanfaatkan masyarakat era Majapahit untuk berburu. ’’Belati yang ukurannya lebih kecil dari pedang, juga digunakan untuk alat dapur,’’ tambah Tommy. Kala itu, keris juga sudah digunakan sebagai senjata jarak dekat. Namun, pemakaiannya tak sembarangan. Sebab, keris dinilai punya daya magis tersendiri bagi pemiliknya. Sehingga, hanya orang tertentu yang menggenggam senjata tradisional khas Nusantara itu.
’’Sejak dulu, keris bukan sekedar senjata tapi juga sebagai identitas karena dinilai punya kekuatan magis. Pemakai atau pemiliknya pun memiliki kedudukan tinggi (di kerajaan),’’ bebernya. Dari bentuk dan jenisnya, beragam senjata di era Majapahit sedikit banyak dipengaruhi budaya dari berbagai daerah. Baik dari India maupun Tiongkok. Itu karena kedekatan hubungan antara Wilwatikta dengan kerajaan dan negara tersebut.
’’Mungkin saja beberapa pembuatan senjata itu terinspirasi dari India atau Tiongkok hasil tukar pikiran dengan Majapahit. Tapi peran dan teknik (pemikiran) empu yang mengolah senjata-senjata ini juga sangat berpengaruh besar,’’ tukas Tommy. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah