Dari sejumlah kerajaan dan negara yang membangun hubungan luar negeri dengan Majapahit, dinasti Tiongkok seolah punya tempat tersendiri. Hubungan baik keduanya terbukti dengan kuatnya kerja sama yang dibangun. Khususnya, aspek perdagangan.
Sejumlah komoditas perdagangan keluar masuk Nusantara melalui jalur laut. Mulai dari perdagangan rempah, kain, hasil pertanian, hingga keramik. Selain banyaknya temuan artefak keramik Tiongkok di sejumlah situs, ada sejumlah indikasi lain atas masifnya keramik impor ke Nusantara.
Penelusuran para peneliti menunjukkan adanya tungku pembakaran kuno untuk produksi keramik yang tersebar di wilayah Tiongkok. Mulai dari wilayah Cozhou, Dehua, hingga Guangzhou. Tak pelak, benda-benda porselen kala itu sudah diproduksi masal di Tiongkok. Sehingga, Nusantara jadi salah satu target dagang hasil kerajinan tanah liat tersebut.
’’Dari sejumlah artefak keramik (Tiongkok) yang ditemukan, mereka punya beberapa corak khas. Di antaranya, corak putih biru, hijau seladon, dan pecah seribu,’’ tutur Pengelola PIM Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Yanti Muda. Saking masifnya keberadaan porselen buatan Tiongkok, lanjut Yanti, terdapat pembagian berdasarkan periodesasi pembuatannya.
Yakni, masa Dinasti Tang (618-906 M), Dinasti Song (960-1127 M), Dinasti Yuan (1260-1368 M), Dinasti Ming (1368-1644 M), hingga Dinasti Qing (1644-1912 M). Arus perdagangan porselen dari negeri tirai bambu ke Nusantara pun memiliki periode yang panjang. Mulai dari abad 13 hingga 20 Masehi. Meski mendominasi, bukan berarti tidak ada sama sekali keramik dari sejumlah kerajaan selain dari Tiongkok.
Bahkan, keramik bangsa Eropa pun sudah menjajaki pangsa pasar Nusantara. ’’Selain itu, keramik dari Eropa dan Jepang juga diperdagangkan di wilayah Majapahit. Tapi periodenya berbeda dengan Tiongkok,’’ papar Yanti. Tercacat, kerajinan porselen Eropa (Belanda, Jerman, Inggris) beredar di Nusantara pada abad 14-16 Masehi dan Jepang pada abad 17-18 Masehi. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah