Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Eksplorasi Yodium di Mojokerto, Bekucuk Jadi Titik Pengeboran Sumur

Fendy Hermansyah • Kamis, 16 Februari 2023 | 13:14 WIB
RUMAH PENERANGAN: Salah satu gedung di sekitar alun-alun yang pernah difungsikan sebagai markas pejuang saat Mojokerto menjadi basis perjuangan.
RUMAH PENERANGAN: Salah satu gedung di sekitar alun-alun yang pernah difungsikan sebagai markas pejuang saat Mojokerto menjadi basis perjuangan.
SUMBER Bekucuk di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto telah lama dikeramatkan warga setempat. Sejak masa kolonial, mata air dimanfaatkan masyarakat untuk mandi karena diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada dekade 1920-an menunjukkan, air dari Sumber Bekucuk ternyata mengandung iodium atau yodium. Tingginya kandungan mineral itu yang kemudian menarik investor di bidang farmasi untuk melakukan eksplorasi di wilayah Dusun Bekucuk guna memenuhi kebutuhan medis.

Sejarawan Ayuhanafiq menceritakan, untuk mendulang kandungan mineral yodium di Dusun Bekucuk, didirikan sebuah perusahaan yang dinamakan Iodiumfabriek pada tahun 1926. Pabrik yang mengolah mineral yodium mentah itu berada tak jauh dari lokasi sumber di Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang. ”Untuk mendapatkan yodium, industri ini menambang dari Sumber Bekucuk,” terangnya.

Pabrik di bawah naungan Combinatie van Kininefabriek ini melakukan eksplorasi setelah membeli lahan pengeboran dari tangan von Faber. Pria keturunan Jerman itulah yang pertama kali berinisiatif melakukan penelitian dengan mengambil sampel air di Sumber Bekucuk.

Setelah diketahui mengandung yodium, mantan pegawai Pabrik Gula Brangkal itu kemudian mengajukan pengeboran sumur pada pemerintah kolonial di mata air yang dikeramatkan tersebut. Karena itu, terang dia, rencana eksplorasi sempat mendapat penolakan dari warga Desa Tempuran dan sekitarnya. ”Banyak masyarakat yang menolak rencana pengeboran di Bekucuk,” ungkap pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Sebab, kala itu masyarakat khawatir akan terjadi malapetaka jika Sumber Bekucuk yang telah lama dirawat dan dikeramatkan warga dirusak dengan pengeboran. Namun apa daya, eksplorasi yodium tetap dilaksanakan karena telah mengantongi konsesi usaha dari pemerintah kolonial.

Pada awalnya, kata Yuhan, hasil eksplorasi cukup meyakinkan karena mampu mendapatkan satu barel mineral yodium mentah. Sehingga, pengeboran terus terus digencarkan dengan hasil yang lebih banyak.

Bahkan, dalam perkembangannya ditemukan kembali sumur yodium yang tak jauh dari Sumber Bekucuk. Saat itu, seluruh hasil ekspolrasi yodium masih harus dikirim lebih dulu ke Belanda untuk diproses lebih lanjut. ”Hingga akhirnya, potensi yodium di Bekucuk menarik animo pemodal besar untuk mengakuisisi lahan pengeboran,” tandas Yuhan.

Hanya saja, eksplorasi dengan skala industri oleh Iodiumfabriek membuat kandungan yodium dari dalam tanah kian menipis. Akibatnya, penambangan di Sumber Bekucuk juga tak berlangsung lama. Mata air itu tersebut akhirnya ditutup karena dianggap kandungan yudium sudah habis. ”Setelah ditinggalkan, Sumber Bekucuk masih tetap jadi mata air,” tambahnya. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #mojokerto punya cerita #sumur #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #eksplorasi #sejarah mojokerto #kerajaan majapahit #sejarah #Kota Mojokerto #mojokerto #yodium #soekarno #trowulan #onde-onde #pengeboran